Selasa, 20 Februari 2024

Menyusui dan Menyapih Seren

Perjalanan menyapih adalah pengalaman hidup yang sangat memberatkan hati. Dari menyapih, aku belajar arti melepaskan yang pernah diperjuangkan dan dipertahankan. Sedikit flash back, perjalanan menyusui Seren di awal-awal adalah pengalaman yang sangat berat. Berhadapan dengan Jaudince dan Hyper-billirubin membuat aku harus berhenti menyusui. Komplikasi yang terjadi membuat asi ini harus dipompa namun tidak diminum. Ditambah covid yang memisahkan aku dari Serenity. Awal kehidupan anak ini sungguh berat dan aku berjuang demi hidupnya. Serenity juga pejuang kehidupan. Dia tangguh menghadapi hidup dan mau hidup.

Hingga dua tahun dilewati. Serenity belajar tidak "menyenyen". Tiga bulan sebelum penyapihan, kami selalu mensounding Serenity setiap hari, "Seren, kalau sudah dua tahun dan tiup lilin, artinya kamu sudah besar. Seren belajar berhenti menyenyen yah." Seminggu sebelum ulang tahunnya, aku mencoba menyapih di siang hari. Serenity menangis meraung-raung hingga 2,5 jam. Namun, kami cuman memeluknya dan menggendongnya hingga Serenity tertidur. Big thanks to zakkel baby, alat gendong yang ampuh. 

Malam harinya, dia masih tidur menyenyen. Namun, setelah dia tertidur, aku menangis kencang sekali, 2.5 jam pula. Aku tiba-tiba merasa sedih dan kehilangan. Ternyata aku pun harus belajar mengikhlaskan. Maka kudedikasikan malam itu untuk menangis kencang. Semua memori indah, haru dan lucu dari perjuangan menyusui terbayang kembali. Aku teringat di TU gereja, dia memanggil aku dengan sebutan si nyenyen. Saat air mata mengalir begitu deras, aku menyadari bahwa aku begitu menyayangi Serenity. More than I think before. Tampaknya menyapih adalah pengalaman "sarang kosong" pertama dari seorang ibu. Karena aku tahu, setelah ini Serenity akan semakin mandiri. 

Keesokan harinya, Serenity sudah mulai belajar tidur siang tanpa nyenyen. Setelah ulang tahunnya dirayakan di SBI di hari Sabtu, dia sangat senang. Dia tertawa saat kami cium. Dia tahu mama papanya sangat menyayanginya. Doaku: "Semoga Serenity bisa belajar melepas nyenyen yah. Semoga mama juga bisa melepas Serenity tidak menyenyen dengan ikhlas. Semoga Serenity sehat, bahagia, dan taat pada Tuhan Yesus." Malamnya, saya masih mengijinkan Serenity tidur dengan menyenyen. Sambil aku membisiki, "Minggu depan belajar tidak nyenyen di pagi hari yah. Minggu depannya tidak menyenyen di malam hari."

Amazing! Hari Senin, Serenity bangun dan langsung minta susu botol. Aku kaget setengah mati! Bangga, haru, campur sedih. Semuanya menjadi satu. Anak aku berproses dengan sangat cepat. Hari selasa pun dia sudah tidak mencari nyenyen di pagi hari. Di malam hari, Serenity mampu tidur dengan digendong Ibu pengasuh. Yang mana biasanya dia tidak pernah mau tidur kalau aku belum pulang. 

Seren, kamu sungguh-sungguh fast learner. Mama bangga padamu, karena kamu berani berproses. Mama tidak menyangka prosesnya secepat ini. Namun, satu yang mama tau, kita berdua belajar berproses sebagai ibu dan anak. I love you deeply to the moon and back. I hope you are growing well. Semoga minggu depan kita udah bisa jalan-jalan cuti ke tempat yang indah yah. Pengen banget mama bisa travelling bareng kamu dan papa nikmatin dunia ini. 

Terima kasih sudah menjadi salah satu alasan buat aku untuk mencintai kehidupan. Sekalipun ada banyak tantangan di gereja, juga saat ada yang melontarkan maki-makian yang kurang jelas dan tidak pakai data. Senyumanmu memberikan kekuatan untuk bertahan. 


Your loving mom,

YIR

20 Februari 2024


Jumat, 09 Februari 2024

Rabu Abu

Konteks Yoel 2:1-2, 12-17 menunjukkan bahwa pada saat itu orang Israel diminta untuk menceritakan kepada anak-cucu mereka tentang tulah belalang, atau locus plague. Belalang hewan yang sangat kecil, namun menyebabkan kehancuran semua kebun, pohon, dan ladang mereka. Tulah ini berdampak pada krisis ekonomi dan krisis pangan. Dikatakan makanan sudah lenyap, biji-bijian menjadi kering, dan lumbung-lumbung licin tandas. Hewan-hewan pun merasan dan gempar sebab tidak ada rumput. 

Saat membaca konteks kitab Yoel, saya tertegun. Manusia dan dunia ternyata rapuh. Karena itu, Yoel mengaitkan tulah yang dialami pada zamannya dengan panggilan pertobatan bagi seluruh umat. Mungkin kita bertanya, loh apa salah saya? Saya kan tidak mencuri, saya tidak berselingkuh, saya rajin beribadah Saudara, pertobatan bukan sekadar dilakukan atas apa yang sering kita sebut sebagai “dosa pribadi”. Dosa juga  terjadi karena suatu sikap merasa diri berkuasa dan mampu melakukan banyak hal sehingga kita tidak mengingat Sang Pencipta kita. Sikap merasa diri berkuasa ini pada ujungnya membentuk sistem-sistem yang dirasuk oleh roh jahat sehingga susah untuk diputuskan dan dihancurkan.

Kita membutuhkan kuasa Illahi yang sanggup memulihkan kita dan menghancurkan struktur demonik itu. Karena itu, pertobatan komunal diperlukan, sebagaimana yang diserukan Nabi Yoel. Akuilah kerapuhan kita di hadapan Allah. Karena, seberapapun berkuasanya kita, ingatlah bahwa kita ini rapuh dan tidak bisa mengontrol kehidupan ini. Nabi Yoel mengatakan, “Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Sangkakala ditiup dan suara pertobatan diteriakkan di gunung Tuhan yang kudus agar semua orang menyadari pentingnya pertobatan komunal itu.

Namun perlu diingat, pertobatan komunal ini melibatkan dua sisi. Ritual dan Hati. Kita diajak untuk melakukan ritual bersama: berpuasa, dengan menangis, mengaduh, mengoyakan pakaian tanda dukacita. Namun ritual itu harus dilakukan dengan hati yang terarah kepadanya. Yoel berkata, “Koyakkanlah hatimu” berbaliklah pada Tuhan. 

Dan semua orang harus terlibat: anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten  laki-laki, penganten perempuan, imam, pelayan-pelayan TUHAN, diundang untuk menangis di antara balai depan dan mezbah. dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela,  sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"

Sungguh menarik, bayi pun diminta untuk meratap dan menangis di hadapan Tuhan. Karena pertobatan bukan hanya perihal individu, namun semua orang. Inilah yang kita lakukan pada ritual rabu abu. Kita menorehkan abu di dahi kita, atau orang-orang di rumah termasuk anak-anak kita untuk mengingatkan akan kerapuhan kita di hadapan Tuhan. Kita masuk ke dalam ruang pertobatan untuk Kembali kepada Tuhan, dalam kerapuhan kita. Bukankah di dalam kerapuhan dan kegelapan hidup sampai kita memasuki titik “nothingness” titik dimana kita menyadari bahwa kita ini bukanlah orang yang memiliki kuasa atas hidup orang lain dan diri kita sendiri. Kita ini debu dan abu yang dicintai-Nya.  Selamat merenungkan makna rabu Abu. Tuhan memberkati.  


Jumat, 28 Januari 2022

Menyatakan Kebenaran

 Tanggal 23 Januari 2022 lalu, muncul sebuah memory di fb saya. Isinya, "It is better to tell the truth and makes someone cry, than lies and makes someone smile." Kutipan ini ditulis oleh Paulo Coelho. Saya merenung cukup lama, karena memang akhir-akhir ini saya merenungkan tentang kebenaran. Dulu, saya orang yang sangat apa adanya, blak-blakan dalam menyatakan sesuatu. Tidak heran, mungkin beberapa orang tidak menyukai saya. 

Sejak memasuki proses kependetaan, saya seperti menahan dalam-dalam keinginan untuk menyampaikan sesuatu yang benar. Padahal pada janji kependetaan, ada satu unsur untuk bereni menegur saat melihat kesalahan. Efeknya, ya secara psikologis saya tertekan. 

Di sisi lain, saya menyaksikan efek dari keengganan saya menyatakan kebenaran. Kejahatan terulang, ketidak-adilan terjadi, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, ada kasus-kasus yang saya simpan, karena saya berharap orang-orang tersebut berubah. Faktanya harapan saya adalah harapan semu. Kekerasan terulang. Kalimat-kalimat kasar diungkapkan kembali. Spiritual abuse bahkan pelecehan seksual terulang. Menyaksikan hal-hal tersebut membuat saya menyesal dan saya ingin kembali belajar untuk menyatakan kebenaran yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Saya belajar bagaimana menyatakan kebenaran dengan kasih. Saya mengambil sebuah kelas, yang juduldya self-compassion. Di kelas itu diajarkan bagaimana menyatakan kekecewaan, kesedihan, kritik, dan kebenaran dengan baik. Saya mencoba mempraktikkannya, namun ternyata ga selalu sukses. Bagaimanapun juga, faktanya ada orang-orang yang sangat resistan dan tidak mau menerimanya. Di tengah resistensi ini, saya belajar satu hal: menyatakan kebenaran memang mengandung resiko. Tuhan Yesus pun mengambil resiko itu, saat Ia berani menyatakan kebenaran. Well, jujur sakit sih. Kadang yang dipandang teman pun mengambil langkah menutup diri dan menjauhi kita. Atau dałam taraf yang lebih jahat lagi, terkadang ada politik-politik yang diluncurkan untuk menutupi kebenaran itu. Namun, itu resiko dari menyatakan kebenaran. Akan ada yang hilang, namun akan ada yang didapat. Minimal, saya lega dan damai setelah menyatakan kebenaran. The sleepless night has already gone, because the truth is already revealed. 

Saya takut tahun ini akan menjadi tahun ketika saya harus mengungkapkan berbagai kebenaran. Doa saya, kiranya Tuhan menolong saya untuk jernih melihat kebenaran yang dari pada-Nya, kebenaran sejati yang membawa kehidupan. Kiranya saya juga yakin bahwa ungkapan kebenaran itu bukan berasal dari kekuatan dan kepandaian saya, namun karena Tuhan sendiri yang memunculkan kebenaran dan keadilan seperti terang dan siang. 

Kamis, 19 November 2020

Mengenang Pdt. Em. Purboyo Susilaradeya

Pak Pur, biasa begitu saya memanggilnya. Dosen yang sungguh jenaka. Dengan usilnya, dia mengganti namanya dengan poor-boy. Apakah hidupnya sangat kasihan? Saya tidak tahu. Yang saya tahu dia orang yang penuh kasih dan kesetiaan.

Pengalaman saya dengan dia tidak banyak, namun sangat berkesan. Dia dosen pembangunan jemaat yang mirip dengan dosen Bahasa Indonesia. Dia selalu memberikan catatan yang sangat kritis pada pemilihan kata-kata. Optimal bukan maksimal. Memerhatikan bukan memperhatikan. 


Sebagai dosen, dia kritis namun diwarnai dengan kerendahan hati. Saya ingat saat dia menguji saya pada saat siding skripsi, dengan rendah hati dia berkata, “Saya jadi belajar ulang tentang Trinitas, bertanya lagi kepada Joas.” Dengan cermat, dia memberi catatan kritis pada skripsi saya, sehingga akhirnya saya harus rela membuang satu bagian kecil dalam skripsi saya.

Setelah saya lulus, lama sekali kita tidak bercakap. Hingga akhirnya, kita bercakap kembali via zoom sebelum saya studi lanjut, di bulan Juni 2020. Pertanyaannya sederhana, “Mengapa kamu mengambil jurusan itu, dan mengapa memilih sekolah itu? Apakah kamu sudah memeriksa latar belakang sekolah itu?” Pertanyaan-pertanyaannya sederhana, tapi mendalam dan mengingatkan saya akan panggilan Tuhan yang sudah saya gumuli. Tak menyangka, itu hari terakhir kali saya bercakap dengannya. Tuhan memanggil Pak Purboyo dalam keabadian. Rest in peace Pak, seperti pesan Bapak di Youtube Channel Bapak, tidur dengan tentram. Bapak pasti dirindukan banyak orang.

Jakarta, 19 November 2020

Yesie Irawan Lie

 

 

Selasa, 21 April 2020

TIPS BELAJAR TOEFL IBT

Hari ini, saya mau menggenapi janji saya untuk membagikan  pengalaman saya ketika belajar TOEFL IBT (Test of English as a Foreign Language, Internet Based Test) selama kurang lebih 3 bulan. Well, saya nggak akan ngasih tips-tips instan yang bilang cukup belajar satu atau minggu gitu. Saya memberi tips sebagai orang yang pernah gagal berkali-kali. Jadi, buat kalian yang udah pernah ikutan TOEFL IBT dan gak nyampe target, tetap berusaha yah.  Kalau gagal, ya udah ikutin tipsnya lagu "Secukupnya" yang dinyanyikan oleh Hindia: "Kita semua gagal, ambil sedikit tissue, bersedihlah secukupnya".  

Saya ngalamin banget nangis-nangis karena gagal dapat nilai yang ditargetkan oleh kampus yang saya tuju yaitu 80. Pada saat pretest online dari website ETS pada saat pertengahan Nopember, nilai saya rendah banget. Total score nya aja cuman 71, dengan nilai terendah di Speaking. Kemudian tanggal 7 Desember 2019 saya ikutan TOEFL IBT di Menara Imperium (Indonesia International Education Foundation) dan saya ngalamin kegagalan untuk kedua kalinya. Nilai saya hanya 74 (dengan reading 18, listening 16, speaking 19 dan writing 21). Alhasil, begitu mau test ketiga di tanggal 21 Desember 2020, saya stress berat. Bahkan saya ngalamin nggak bisa tidur 24 jam sebelum hari H test. Akhirnya, setelah 2 minggu stress karena nunggu hasil TOEFL IBT yang keluarnya lebih lama akibat liburan Natal, saya pun beroleh sukacita. Nilai TOEFL IBT saya yang terakhir 88 (reading: 21, listening 22, speaking 24, writing 21). 

Kalau teman-teman lihat, progress nilai TOEFL saya cukup menanjak dalam waktu kurang lebih sebulan. Nah, saya mau bagiin deh rahasianya. 
Tips pertama
Hal pertama yang harus dilakukan adalah berdoa dan berserah. Asli saya ngalamin banget pentingnya berdoa dan berserah. Saat persiapan tiga bulan, saya ngalamin banyak banget masalah sehingga belajar tiga bulan itu aslinya ga efektif tiga bulan. Ada beberapa minggu yang saya bolong ga belajar sama sekali karena harus beresin-beresin masalah itu. Saat ada banyak masalah dan pikiran, asli susah banget belajar TOEFL IBT yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Namun, karena pertolongan Sang Pencipta, saya bisa melaluinya. Saya menyarakan agar para pejuang TOEFL IBT rajin-rajin meditasi dan berdoa sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing untuk beroleh ketenangan dan kekuatan. 

Tips kedua
Beli dan berlatihlah dari buku-buku yang oke buat belajar TOEFL IBT. Saya belajar dari beberapa buku-buku di bawah ini:
1. Buku Barron, 15th edition. Menurut saya, buku ini adalah buku yang paling gampang kalau dibandingkan dengan buku yang lainnya. Buku ini bisa jadi buku pertama yang kita pakai untuk memahami strategi belajar dan bentuk soal TOEFL IBT. Di buku ini, kita diajarin cara taking notes dan tips-tips lainnya. Jadi, buat basic, buku ini oke banget. Tambahan lagi, kalau beli buku ini, kita juga mendapatkan CD latihan soal yang bisa kita pakai. Dalam CD ini, kita juga bisa tahu hasil prediksi nilai reading sama listening kita.




2. Buku yang kedua Cambridge Preparation for the TOEFL Test. Kekuatan buku ini adalah pada vocabulary nya. Asli vocabnya susah-susah banget. Namun, salah satu kunci agar kita bisa dapat score TOEFL yang bagus adalah dengan menguasai vocabulary yang banyak, khususnya yang dipakai di dunia akademis. Buku ini membantu saya banget, karena latar belakang pendidikan saya kan teologi, nah persoalannya dalam TOEFL IBT, mereka ga pandang bulu latar belakang pendidikan kita apa. Jadi, seorang pendeta kayak saya, harus bisa memahami vocab yang bersangkutan dengan geologi, biologi dan bahkan astronomi. Nangis bombay kan. Untungnya buku ini menolong banget. Sama dengan buku sebelumnya, buku ini juga dilengkapi dengan CD untuk latihan. 

 3. Buku yang ketiga adalah the Official Guide to the TOEFL Test. Nah, pas pertama nyobain test di buku ini, berasa gampang. Dan saya sempat berleha-leha. Tapi, please banget jangan mengulangi kesalahan saya. Namanya juga Official Guide, ya masih panduan gitu. Tiga test awal dari buku ini terasa mudah, tapi sisanya susah. Hahahaha.... Saya merekomendasikan beli buku ini karena buku ini dikeluarkan oleh ETS secara resmi dan soal-soalnya adalah bekas soal yang pernah dipakai test sebelumnya. Yang keren dari buku ini, mereka kasih detil cara menghitung nilai reading dan listening. Sama seperti buku-buku sebelumnya, ada CD latihannya juga loh. 



4. Buku yang keempat dan kelima, adalah buku Official TOEFL IBT TestVolume I dan II. Saya menghabiskan minggu-minggu terakhir persiapan dengan menggunakan buku ini. Soalnya, menurut saya cukup sulit. Akan tetapi, kita akan bisa merasakan sensasi TEST TOEFL IBT yang sesungguhnya saat kita ngisi soal yang ada dalam CD nya. Soal-soalnya juga merupakan soal-soal TOEFL yang sudah lama berlalu. Tapi masih oke lah buat dipakai. Jadi buku ini wajib banget kalian beli. 






Tips Ketiga
Berhubung nilai speaking saya ancur banget, saya akan membagikan cara agar meningkatkan score speaking kita. Saya awalnya score speaking pada saat pretest itu cuman 14. Di test terakhir, melonjak signifikan sampai 24. Kalau kalian merasa belepotan pada saat speaking, ini wajar banget karena kita kan biasanya bicara pakai bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Selain itu, pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia kan cuman menekankan grammar (yang menurutku salah total). Padahal, belajar bahasa asing harusnya dimulai dari denger dan ngomong, kayak bayi yang baru belajar bahasa. 

Jadi untuk meningkatkan nilai speaking kita mulailah dengan thinking in English, jangan suka menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Ingat, kita bukan google terjemahan. Jadi, pas bangun pagi, saya selalu melihat sekeliling kamar saya dan menyebut benda-benda dalam bahasa Inggris, mulai dari bed, cup, bible, door, etc. Latihan ini melatih otak kita untuk berpikir dalam bahasa Inggris. Cobalah buat cuek, di manapun sebut pake mulut, jangan di dalam hati doank karena ini beda dampaknya. 

Di bulan Nopember akhir, saya baru nemu satu komunitas belajar Bahasa Inggris yang keren banget: https://speakingclubonline.com/  Di sini Borris dan Cherry (host nya) memberikan topik-topik khusus untuk dibahas gitu. Dulu, saya bayar kurang lebih 14 USD per bulan dan bisa ambil topik dan waktu sesukanya. Tapi kabar baiknya, selama masa Covid 19 ini, mereka menggratiskan biayanya. Jadi, kita bisa ngobrol sama orang-orang dari mancanegara dalam bahasa Inggris. Sebagian besar dari peserta adalah pejuang TOEFL IBT dan pejuang IELTS. Jadi group ini positif banget dan sampai sekarang kalau lagi ga ada tugas, saya pasti masih ikutan. 

Tips Keempat
Tips keempat ini buat meningkatkan nilai listening kita. Caranya sederhana banget tapi butuh konsistensi: dengerin podcast dan youtube dalam bahasa Inggris. Bersyukur banget, Tuhan itu tahu banget apa yang saya butuhkan. Tiba-tiba cici sepupu saya: Yael, nawarin spotify gretong gitu, karena dia beli paket untuk family. Mantep banget dah penyertaan Tuhan.

Well, balik lagi soal dengerin podcast, dengerin podcast juga ga gampang. Awal-awal saya langsung dengerin national geographic dan siaran BBC, tanpa teks. Alhasil saya stress banget karena sebenarnya kemampuan mendengarkan dalam bahasa Inggris saya gak sebagus itu. Jadi saya mengganti metode belajar saya. Saya mendengarkan dari siaran dan film yang sangat sederhana: film dan podcast untuk anak-anak. Kalau kalian langganan spotify, bisa cek beberapa channel ini:
a. Brains on! (buat anak-anak lucu banget asli)
b. Brain stuff
c. On being with Krista Tippet
d. BBC news dan National Geographic

Cobain sesuai urutan yah biar gak kaget hahaha....
Sambil dengerin, coba belajar taking notes, alias mencatat hal-hal yang penting. Hal ini berguna banget loh. 

Tips kelima
Tips kelima ini buat ningkatin writing. Cobalah berpikir sistematis dan simple saat membuat sebuah tulisan. Gaya tulisan orang Amerika itu to the point dan tidak mengulang-ulang. Kemudian, kuasai vocab baru setiap harinya. Catat itu vocab dan buat kayak list dengan kreativitas kamu. Asli saya bawa itu vocab kemana-mana, sampai dijadiin gantungan kunci. LOL. Bahkan, rapat pun saya bawa, sampai disenyumin orang lain. Hahaha... Tapi bodo amat, yang penting usaha kan...Heuheuheu...

Tips keenam
Untuk memperkuat reading, rajin-rajin baca berita dalam bahasa Inggris, bahkan kalau bisa baca buku teks dalam bahasa Inggris. Ini membantu banget. Nah, kalau mau tau tips detil soal strategi reading, silakan baca buku-buku yang sudah saya rekomendasikan. 

Nah selain membagikan enam tips itu, kita juga sebaiknya mencari tempat test TOEFL IBT yang paling nyaman. Menurut aku, tempat TEST TOEFL yang paling nyaman itu di Menara Imperium (Indonesia International Education Foundation). Kenapa? Karena yang ikutan testnya sedikit banget dan ruangannya bersih plus privat banget. Kalau di tempat lain, yang ikutan test bisa puluhan orang. Jadi kebayang kan perjuangan konsentrasi kita itu dahsyat banget. Kalau kita speaking dan semua orang di ruangan itu speaking juga. Dahsyat bener deh. 

Tapi sih, menurut saya ujung-ujungnya balik ke Tuhan. Waktu saya ikut test di menara Emporium, nilai saya ga sampai target. Nah, pas saya ikutan test TOEFL kedua di daerah PIK, malah lolos. Padahal yang ikut sampe kayak se-RT bos. hahaha... 

Terakhir, saya membagikan tips ini sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan karena saya tahu tanpa pertolongan Tuhan, nggak mungkin juga rasanya bisa mencapai nilai segitu. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan spesial untuk  mbak Isti, sahabat saya yang membantu perjuangan dan nggak lelah ngajarin saya TOEFL IBT. Tak lupa saya juga mendoakan rekan-rekan sekalian para pejuang TOEFL IBT, semangat.... Selamat belajar di masa pandemi Covid 19. Selesai Covid 19, semoga nilai TOEFL IBT nya bagus yah..

Jakarta, 21 April 2020
YIR

Selasa, 12 November 2019

Sampah-sampah Ibukota

Art is always beautiful, because art conveys smart and deep critics to our society. With a symbolic language, art understands voice of the pain. Art embrace our pain in society and reflect that in the beauty of creations. For instance, yesterday I watched theater in Taman Ismail Marzuki. This theater presented by Teater Koma, my favorite theater group in Indonesia. They showed appaling reality of life that felt by the poor people in Jakarta. 


They decorated the stage with perfect and delicate decorations. They succeed to make the stage similar with a slump area. They contrasted the slum area (a dirty river, several bad houses under the bridge) with the high class area. Actualy, it is near with the factual condition. 


Although it was a fabulous story, it described our reality. Purity of heart possessed by the rich and the poor. On the other hand, we found many injustice and foolish done by both of them. Juroh and Jian are example of the sincere people. One mandor is also described having a good heart. Some turbulences must be appear in their mind and heart. Why good people be the victim of injustice. Why the wicked judge is accepted and acknowledge? They only had a simple dream. They just wanted to live happily with their small amount of money. Nevertheless, why the consecutive problems appear without ending?  

My heart is torn.

The tears seeps into my skins

My head is filled by questions

about God

about live

about victim

about His plan

about injustice

about depression

YIR

Jumat, 01 November 2019

Why bad people exist in this world?

Maybe you have already hear this question, "Why bad things happened to good people?" Many theories explain some answers. I do not intend to talk about that in this passage. Maybe this writing just like sparks in my mind. Come from my depression when I see the injustice in life. I feel exhausted because too much violence, harm and tricky politics in this world. Thus, my question is why bad people exist in this world? Why God does not demolish them?

You may say that I do not have love because thinking something bad to them. Nevertheless, the psalms in the Bible also said and felt the same things like me. I just try to be honest to myself and my God. I am sad and really angry. Sometimes, I hesitate God's love and mercy. Is divine intervention really exist?

I am not the strongest person in this world. Although I work as a pastor, I struggle with so many spiritual questions. My heart is broken into million pieces every time I hear some words: forgiveness, trust to His time, etc. I can not stand to finish my writing now. In a deep sorrow and sadness, I just want to feel God's eternal peace.

Hold me tight oh Lord,
although I still can not understand this process.
Hold me tight oh Lord,
although I still can not accept this condition.
Hold me tight oh Lord,
although I still do not know Your will.
Hold me tight oh Lord,
although I am trapped in my anger and disappointed
Hold me tight
Hold me tight

Minggu, 21 April 2019

Memori tentang Kristus

Lukas 24:1-12.

Semakin tua, orang biasanya makin mudah lupa. Saya sendiri adalah orang yang pelupa. Pernah suatu waktu, saya lupa menyimpan kunci mobil di mana. Sampai, teman-teman pemuda remaja sibuk membantu mencari kunci mobil. Ternyata, kunci mobil saya ada di dalam mobil yang terkunci, sehingga kaca mobil harus dicongkel.

Nah, yang aneh, walaupun saya punya kelemahan di sana-sini dalam hal short memory. Ada memori-memori yang selalu teringat dalam hidup saya. Misalnya, memori ketika almarhumah nenek saya menyuapi saya di masa kecil, memori ketika mama saya sakit, memori ketika saya ditahbis. Semua memori yang manis dan pahit, namun penuh dengan penyertaan Tuhan, itulah yang tersimpan dalam ingatan saya.

Memori punya peran penting di dalam hidup manusia. Khususnya memori tentang kasih sayang. Saya pernah tinggal bersama dengan seorang nenek yang dimensia selama 3 bulan pada saat saya praktik jemaat. Dia lupa pada banyak hal. bahkan dia lupa nama anaknya. Akan tetapi, dia mengingat rasa cinta dari orang-orang di sekitarnya.

Memori adalah anugerah Tuhan. Memori tinggal dalam rasa yang tersimpan. Tuhan memakai memori yang tersimpan pada perempuan-perempuan yang datang ke kubur Yesus untuk menyadarkan mereka bahwa Kristus bangkit. Lukas 24:8 mengatakan, “Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.” Bahkan, memori mengalahkan peristiwa supranatural seperti penampakan dua orang yang memakai baju berkilau-kilauan.
Memori membawa para perempuan itu pada perjumpaan mereka dengan Yesus. Ketika mereka mendengarkan sabda yang hidup, ketika mereka merasakan keindahan relasi dengan Yesus, walaupun pada sebelumnya mereka belum memahami seutuhnya apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Di dalam hidup ini, terkadang kita masuk ke dalam masa-masa berat. Kita sedih dengan keadaan yang tidak seperti harapan kita. Sama seperti perempuan-perempuan yang pergi ke kubur Tuhan Yesus. Mereka disekap oleh kesedihan dan ketiadaan pengharapan. Akan tetapi, saat kita sedih dan saat hidup terasa gelap, ingatlah kembali masa-masa ketika kita berjumpa dengan Tuhan Yesus. Ingatlah masa-masa ketika Tuhan pun pernah menolong kita. Ingatlah kasih Tuhan yang selalu hadir di hidup kita. Maka, pelan-pelan mata kita akan terbuka. Kita berani menatap dengan berpengharapan, melawan semua luka dan kepedihan.

Memori yang Tuhan anugerahkan membuat kita sadar bahwa kita dicintai dan berarti, sehingga kita belajar berpengharapan. Itulah yang menjadi daya dorong bagi kita untuk bersaksi. Bersaksi menyatakan pengharapan dan Kristus yang hidup di dalam hidup kita. Lukas 24:9-10 “Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain. 24:10 Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul.”

Kita diundang untuk bersaksi di dalam hidup kita. Berceritalah tentang pengalaman masa lalu di mana Tuhan menyertai kita dan ceritakanlah juga pengalaman masa kini, di mana kita dapat mensyukuri berkat Tuhan.

Terus bersaksilah! Sampaikan berita Paskah tentang pengharapan. Sampaikanlah walaupun kadang kita lelah, karena mungkin ada orang-orang yang tak mempercayai apa yang kita saksikan. Para murid tidak percaya kepada perempuan-perempuan ini. Hanya Petrus yang bergerak. Tapi, tidak apa-apa, yang penting terus bersaksi. Jangan putus asa dan rasakan kehadiran Tuhan

Selamat Paskah!

Jakarta, 20 April 2019
(Ditulis ketika merenungkan memori tentang penyertaan Tuhan yang bangkit
Dalam garis batas kelam-bercahaya)

YIR

Sabtu, 23 Februari 2019

Mengasihi dalam Kerapuhan

Hari ini, tepat tiga tahun rahmat Tuhan dinyatakan dalam peringatan ibadah penahbisanku, 22 Februari 2016. Seperti biasa, di setiap tahun di tanggal penahbisan, aku mengambil cuti sejenak. Diam dan merenungkan perjalanan yang kadang tak mudah ini.


Aku sadar bahwa tanpa pertolongan Tuhan, tidak mungkin tiga tahun ini dapat dilalui. Dalam suka dan duka, Tuhan mengajarkanku untuk menyadari bahwa di antara serpihan kerapuhan dalam diriku, ada kekuatan yang dari Tuhan. Ya, kekuatan itu asalnya dari Tuhan karena aku sadar bahwa diriku bukan siapa-siapa. Tetap aku yang kecil dan rapuh.

Di tahun ketiga ini, Tuhan mengajarkan aku arti hidup dalam kehendak Tuhan. Dulu, aku berpikir bahwa kehendakku yang terbaik. Aku mempertahankan apa yang seharusnya kulepaskan. Namun, di tahun ketiga ini aku belajar untuk mengenali kehendak Tuhan. Pelan-pelan, aku belajar meyakini bahwa kehendak-Nya begitu indah. Bahkan, aku belajar mendoakan untuk berani melepaskan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan di hidupku. Discernment dan beriman menjadi dua kata kunci. Apalagi pengharapan adalah hal yang sangat sulit bagi orang sepertiku, yang barangkali sudah terlahir skeptis.

Dalam proses _discernment_ akhir-akhir ini, aku semakin disadarkan bahwa cinta kasih adalah hal yang terutama di dalam perjalanan panjang ini. Iman, pengharapan dan kasih. Kasih lah yang paling utama. Bahkan, ketika aku harus mengambil pilihan-pilihan sulit, cinta kasihlah yang menjadi dasar. Cinta kasih mengalahkan rasa takut dan trauma yang ada pada diriku dan banyak orang. Walaupun perjalanan ini misteri, cinta kasih lah yang menjadi modal utama untuk melangkah bersama Sang Cinta.

Dalam perenungan itu, aku menemukan bahwa di dalam cinta kasih ada damai sejahtera. Ya, kasih yang melampaui ketakutan dan membuahkan damai sejahtera. Khususnya, ketika hari ini, di tanggal ini, aku kembali membuat keputusan yang akan berdampak panjang di dalam hidupku. Semoga, aku tidak salah membaca kehendak Tuhan. Khususnya saat aku merasa bahwa semua tanda-tanda dan perenungan menuntunku dalam sebuah keyakinan bahwa pilihan ini adalah kehendak Tuhan. Ada hasrat hati yang harus kubunuh, ketika Tuhan menunjukkan hal-hal yang hanya menjadi ambisi dan pelarian di dalam hidupku. Sungguh, Tuhan seperti membuka  lembaran hidupku satu per satu, dan aku menyadari bahwa dalam banyak hal Tuhan memulihkan aku.

Malam ini, aku mendengar sebuah lagu yang indah. Setidaknya lagu ini melambangkan pergumulanku di tahun penahbisanku yang ketiga. Kiranya lagu ini juga menjadi doa agar Tuhan menolongku untuk selalu mencari kehendak Tuhan dan berserah penuh di dalam kerapuhanku. Kiranya lagu ini terus mengingatkan aku bahwa hal yang terutama adalah cinta kasih, dan di dalamnya akan kutemukan damai sejahtera walaupun aku tahu bahwa trauma itu tidak semerta-merta hilang. Kiranya Tuhan memakai aku untuk mengingatkan umat untum menemukan kasih  sebagai hal yang terhilang, sebagaimana hal itu hilang di jemaat Efesus (band kitab Wahyu)
 Semoga, Tuhan Yesus menolongku untuk semakin kuat.

KJ 441: Ku Ingin Menyerahkan

Ku ingin menyerahkan seluruh hidupku,
sekalipun tak layak, kepada Tuhanku.
Kubunuh keinginan dan hasrat hatiku,
supaya hanya Tuhan mengisi hidupku.


Di waktu kesusahan tak usah 'ku gentar;
dib'riNya perlindungan, hatiku pun segar.
DarahNya dicurahkan, nyawaNya pun dib'ri,
teruraslah jiwaku, hidupku berseri.

Tentu beban tak tanggal, lenyap serta merta,
dan salib yang kupikul tak jatuh segera.
Kendati demikian, bertambah dayaku,
sebab pengasihanNya menopang hidupku

Setiap aku jatuh, dirangkul 'ku erat,
tak kunjung dibiarkan anakNya tersesat.
Dan RohNya menerangkan kasihNya yang besar,
sehingga dalam susah hatiku bergemar

Dalam perenungan,
22 Feb 2019.

Sabtu, 19 Januari 2019

Menyesal Jadi Pendeta?

Kalau ditanya, apakah saya pernah menyesal menjadi pendeta? Dengan penuh kejujuran saya pernah menyesal memilih jalan ini, jalan yang ternyata tidak mudah. Khususnya, ketika mendapat fitnahan dari orang lain. Dikatakan ini dan itu. Bahkan sempat, ketika tidak sempat menyapa pun dikatakan sombong. Belum lagi, beragam pergumulan internal tentang mimpi, hidup dan cita-cita.

Beberapa hari lalu, kekecewaan ini muncul lagi. Adik saya menginfokan bahwa papa saya sakit. Sementara itu, saya sedang berada di Puncak, mengikuti bina pengampu organisasi. Pada malam itu, saya berdoa pada Tuhan. Saya katakan saya sedih. Koq masalah datang bertubi-tubi dalam segala aspek. Ini baru awal tahun 2019 loh....  Dada saya sesak.

Pagi harinya, saya semakin gelisah. Malam itu saya hanya tidur beberapa jam. Adik saya mengatakan bahwa kondisi papa masih kurang oke. Tak lama kemudian, Pdt. Robby menanyakan kondisi papa. Saya menceritakan dengan singkat. Tak lama kemudian, dia mengambil HP nya dan menelepon rekannya Pdt Robby katakan, "tolong papa dari rekan saya yg adalah pendeta." Rekannya mengatakan bahwa dia berjanji akan datang dan membantu mengurus di RS.

Beberapa saat kemudian, Pdt. Robby memberikan no HP dokter yang lain. Dia katakan, "Kamu segera telepon dia." Saya langsung menelepon dia dan menceritakan keadaan papa. Saya hanya bilang, "Saya menitipkan papa."

Di rumah sakit, papa dibantu oleh rekannya Pdt. Robby untuk mengurus jalur prioritas. Saya setuju saja dengan pertimbangan, uang itu bukan segalanya. Setelah diperiksa, papa diminta untuk segera di EKG pada pkl. 13.00. Akan tetapi, sekitar pkl. 11.45, papa terkena serangan jantung kronis di kantin RS tersebut. Adik saya panik dan hanya mengirim whatsaap ke saya. Saya hanya berkata, bawa ke IGD. Namun, papa sudah tidak kuat berjalan. Untunglah, ada kursi roda yang nganggur. Adik saya langsung berlari dan mengantar papa ke IGD.

Di IGD, dr. Tammy sudah menanti. Dia adalah anggota jemaat salah satu GKI di Bandung. Ia segera membantu mengurus semuanya. Bahkan, papa langsung dipasang ring pada pkl. 13.00. Bahkan, BPJS pun dapat diurus.

Saat hendak dioperasi, kami berdoa bersama. Kami sadar, dengan kondisi serangan jantung kronis seperti itu, ia berada dalam batasan antara hidup mati. Namun, pertolongan Tuhan sungguh nyata. Papa selamat!

Saya belajar dari kisah mukjizat Yesus yang pertama kali, air menjadi anggur. Maria tahu bahwa Tuhan Yesus bisa melakukan mukjizat walaupun Maria belum pernah melihat Anaknya melakukan mukjizat. Ia mendorong Tuhan Yesus untuk melakukan mukjizat. Namun, Tuhan katakan saatKu belum tiba.

Tidak digambarkan dengan jelas, apa yang dipikirkan oleh Maria saat itu. Mungkin dia bete, mungkin dia pasrah. Yang jelas Maria tidak memaksa Tuhan Yesus melakukan apapun lagi. Ia hanya berkata agar para pelayan mengikuti perintah Tuhan Yesus. Itulah Maria, seorang ibu yang kompleks dan mendalam. Merenungkan banyak hal di dalam hatinya.

Saya memang tidak sekuat Maria. Saya memang tidak seberiman Maria. Saat Tuhan belum menjawab doa saya. Atau saat Tuhan hening tak bicara, saya kerap kali memaksa Tuhan untuk bicara. Dada saya sesak dan dipenuhi kecemasan akan sesuatu yang tak pasti. Bahkan tadi, saya sempat menyesal menjadi seorang pendeta. Karena saya merasa hidup saya menjadi sulit dan rumit. Namun, Tuhan tahu yang baik dan indah untuk saya tepat pada waktu-Nya. Dia berproses dengan saya dalam keraguan saya. Dia mencintai saya dalam ketakutan saya. Dia mengangkat wajah saya untuk melihat pengharapan dalam ketakutan-ketakutan yang kadan tidak saya mengerti seutuhnya.

Jadi, apakah saya menyesal menjadi pendeta? Jujur, saya pernah menyesal. Tapi saya juga harus jujur, bahwa saya bersyukur karena pertolongan Tuhan nyata lewat apa yang saya jalani sebagai pendeta. Meski ada doa saya yang belum terjawab dan rasanya pahit karena menahan sesak, Tuhan yang menolong saya belajar berpengharapan. Karena, saya tahu saya sudah tidak bisa belajar berpengharapan dengan kekuatan saya.

Kebahagiaan pesta perkawinan di Kana adalah sukacita yang deg deg ser. Kebahagiaan yang didapat dalam momen krisis. Kiranya sukacita pada saat itu, dapat kita rasakan juga saat ini. Menanti dan berpengharapan dalam sesak.

19 Januari 2019
Perjalanan Bandung Jakarta
Bus Primajasa

Rabu, 16 Januari 2019

Anugerah di Ruang Tunggu

Sudah lama, aku tidak berada di ruang tunggu ini dalam waktu yang lama. Biasanya, aku ada di ruang tunggu ini hanya sekadar untuk mengunjungi kerabat atau anggota jemaat yang sakit. Terakhir kali, aku menunggu pada malam-malam saat ibu dari sahabatku sedang kritis. Kali ini, aku kembali menunggu di ruang tunggu dalam malam yang panjang.

Di ruang tunggu ini, aku tak sendiri. Ada banyak orang yang bersama-sama menunggu. Menariknya, kita sama-sama menunggu anggota keluarga yang seseorang sedang ada di dalam kamar yang mengandung unsur CU. Entah itu, ICU, ICCU, CVCU dan CU-CU lainnya yang memang harus ditunggui. Semuanya menanti dalam resah dan gelisah. Semuanya berharap anggota keluarganya dapat kembali dengan selamat selepas keluar dari kamar berinisial CU itu.

Malam ini, aku melihat berbagai respons di ruang tunggu. Ada yang terjaga dengan HP nya. Ada yang tertidur. Entah pulas atau tidak. Setidaknya ada dengkuran yang mewarnai tidur mereka.

Ruang tunggu adalah masa antara. Ada batas antara pengharapan dan ketakutan. Tentunya, kita ingin memilih melihat pengharapan. Belajar mempercayai bahwa Tuhan memberikan pengharapan. Akan tetapi, ada kalanya memilih untuk berpengharapan pun kita tak mampu. Ya, kadang manusia tidak mempunyai daya untuk memilih, ketika diikat oleh beragam luka dan trauma yang membuatnya hidup dalam ketakutan.

Di ruang tunggu, Tuhan memberikan anugerahnya pada para penunggu. Anugerah yang "memaksa" para penunggu untuk merenung dan membuka mata batinnya. Lewat remang cahaya lampu, para penunggu belajar melihat pengharapan. Lewat dinginnya lantai ketika ditiduri, para penunggu belajar untuk terlelap tidur dan mendapatkan energi baru untuk menghadapi hari esok. Lewat cerita dari kanan dan kiri, para penunggu tahu bahwa mereka tak sendiri. Itulah anugerah terindah.

Dalam lantunan doa Bapa Kami yang dipanjatkan penunggu, ada perenungan mengenai pemeliharaan Tuhan. Dalam lantunan lagu shalawat yang menjadi alarm subuh dari sesama penunggu, ada  cahaya rahmat Allah yang "mengganggu" dan "membuka mata kami" untuk menerima anugerah pengharapan. Dalam gestur doa, dengan cara apapun, menunduk, menghadap kiblat, memegang rosario, dan lain sebagainya, ada keyakinan bahwa setitik debu di alam semesta ini tak sendiri.

Roh Kudus bekerja dalam sela-sela jendela batin. Ia mengganggu dan menyadarkan bahwa kita begitu dicintai. Ia bekerja dalam pertolongan yang tak diduga dari orang tak terduga dan baru dikenal. Ia bekerja dalam doa dari para sahabat yang menenangkan dan menolong air mata dapat mengalir sehingga ada kelegaan. Ia pemilik waktu dan bekerja dalam waktu, sehingga dengan lugas orang Indonesia bisa berkata, "bejo atau untung". Ia menyadarkan yang selama ini hanya melihat sebatang pohon, untuk melihat hutan lebat. Berani melangkah sedikit demi sedikit untuk mempelajari makna hidup. Roh keberanian, Roh yang bekerja dalam riak luka dan trauma, Roh yang menganugerahi iman: everything gonna be okay in God.

Mazmur 63:7-9 (TB)  Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, —
sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.
Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.

Terima kasih untuk semua support dan doa dari rekan-rekan semuanya. Sangat bermakna dan tak terbalaskan dengan apapun juga.

Bandung, RS Sentosa, 16 Januari.
YIR

Selasa, 25 Desember 2018

Natal 2018

Natal tahun ini dipenuhi kepedihan. Beberapa hari sebelum Natal, seorang rekan penatua meninggal dunia dengan begitu cepat. Ada rasa penyesalan karena belum menjenguk dan membalas pesannya sekitar 45 menit sebelum dia tiada. Kesedihan ini dilanjutkan dengan berita tsunami di Banten. Mendengar banyak orang meninggal dunia, hilang dan luka-luka. Tsunami tak mengenal agama. Tsunami tak mengenal usia. Ya, tidak pandang bulu, sebagaimana yang sering disebutkan orang-orang tak punya hati yang masih memuja-muja segregasi dalam segala aspek. Mereka yang menyebutkan bahwa bencana karena agama, etnis, atau usia. Tsunami membabat habis semua korbannya tanpa bertanya apa agamanya, etnisnya atau usianya. Hal ini menjadi kesedihan yang mendalam. Pada Natal kali ini, saya juga diajak untuk memasuki ruang ketakutan saya, ketika harus berjumpa dengan pergumulan pribadi yang tampaknya tak ada solusinya. Trauma dan keringkihan yang ditimpakan pada manusia-manusia lain. Tubuh ini lunglai dan meluruh. Sakit. Suhu tubuh meninggi tanda tubuh, jiwa dan roh ini lelah. Doa demi doa dipanjatkan dalam kesedihan dan air mata. Seraya bertanya, Tuhan di manakah Engkau? Adakah damai Natal di tengah air mata? Haruskan manusia tetap berpengharapan di dalam kelam? Bukankah berpengharapan itu perih? Tanganku masih mengepal. Tangisan menjadi makananku. Kain kabung menyelimuti wajahku. Di manakah Natal di tengah derita? Katanya Immanuel, Allah beserta. Bagaimana caramu beserta di tengah jerit tangis orang-orang yang bertanya lirih dan berjibaku dalam kepedihan? Mengapa suaramu belum terdengar dari puing-puing reruntuhan bangunan? Di manakah kekuatanmu di tengah hati yang hancur berkeping-keping? Tak heran banyak orang yang ingin berpulang dalam batinnya karena tak sanggup menahan perih pedih. Tidakkah Engkau bicara, atau barangkali cukup berbisik saja sehingga kami mendengar makna Natal itu. 

Sabtu, 03 November 2018

Benturan

Benturan trauma dengan trauma melahirkan tanda tanya
Adakah pemulihan?
Bagi kita yang terjepit di antaranya

Dapatkah kamu menari dan menjadikan badai musik pengiring? 
Disertai rintih kayu tumbang yang terbaring
Serta desahan nafas yang tercekat kering

Dapatkah kita menyihir air mata menjadi tetesan beku?
Saat Yang Illahi terasa biru kelu
saat memandang luka-luka pilu
yang dijahit dalam perih pedih rintih rindu sembuh

Rabu, 31 Oktober 2018

JT 610

titik
tiada lagi pertemuan

pedih
tanpa suara

perih
cucuran air mata

lunglai
tak terbayangkan

bungkam
tanpa perlu kata-kata

hening
berdoa bagi mereka

#JT610

Rabu, 13 Juni 2018

KADO ULANG TAHUN DARI TUHAN


\Kali ini, saya merayakan ulang tahun saya dengan berlibur di Bali bersama dengan sahabat-sahabat saya. Sebagai orang yang suka dengan jadwal yang terperinci, saya sudah menjadwalkan rute perjalanan kami. Seorang teman berkata, “Ini ciri khas pendeta GKI, jelas dan rinci. Wkwkwkwkw….” Di hari pertama, kami pergi ke Butterfly Park, Kemenuh. Lalu kami lanjutkan ke Air Terjun Kato Lampo dan kemudian kami menuju ke tanah Lot. Setiap perjalanan punya arti dan membawa makna tersendiri di hari ulang tahun saya itu. Dan saya anggap itu sebagai kado ulang tahun dari Tuhan. Okay, saya akan menceritakan secara singkat apa hadiahnya.  

Pertama, saya bahagia karena saya dikelilingi kupu-kupu di hari ulang tahun saya. Bahkan, kupu-kupu itu nangkring manis di jemari saya. Ini kali kedua saya merasakan kupu-kupu hinggap di jari saya. Sebelumnya saya pernah merasakannya di Singapore, saat saya jalan-jalan sendiri untuk melakukan healing bagi diri sendiri. Kupu-kupu selalu punya arti buat saya. Kupu-kupu juga mampir di dalam gedung gereja pada saat penahbisan saya dan tertangkap kamera oleh salah seorang rekan penatua.  Hal yang paling menarik adalah saat saya diberikan penjelasan bahwa kupu-kupu khas Bali, yakni kupu-kupu Barong hanya hidup selama 5 hari. Dan sebagai anak teologi yang udah biasa berefleksi, tiba-tiba di kepala saya muncul hal ini, “Mereka lahir untuk keindahan dan mati untuk keindahan. Bahkan, mereka mati dalam sebuah arti.” Hmmm, barangkali refleksinya dipengaruhi masa-masa ulang tahun kali yah wkwkwkw…

Kedua, saya dan teman-teman bersyukur karena bisa menyaksikan sepotong kisah dari upacara ngaben. Kalau nonton tari kecak dan tari barong pasti udah biasa donk yah. Tapi kali ini bener-bener luar biasa karena melihat upacara ngaben. Jadi, saat menuju Air terjun kato lampo, mobil kami tiba-tiba diberhentikan karena akan ada arak-arakan upacara ngaben. Dan asli upacaranya keren banget. Kalau kata anak gaul sih kapanlagi.com

Ketiga, saya dan teman-teman mengalami pengalaman mistis. Jadi, saya ini ceritanya sok-sok gaya nyetir di Bali. Dari air terjun Kato Lampo yang indah banget, kami menuju ke Tanah Lot. Entah gimana kami salah mengatur GPSnya. Rupanya ada banyak sekali pure Tanah Lot, yang tidak selalu di Tanah Lot. Yang menarik, kami diarahkan ke sebuah pure yang ada di dalam sebuah gang. Hanya saja, karena ada mobil di depan mobil kami, maka kami ikutan masuk. Ternyata…. Mobil di depan kami tiba-tiba menghilang, saat kami keselang satu motor. Dan anehnya, asli aneh banget! Itu jalan buntu dan hanya ada jalan untuk motor. Di situlah kami celingak-celinguk. Saya sendiri bukan pengemudi yang pintar untuk memundurkan mobil. Alhasil saya hanya diam di mobil sambal berdoa dalam kepanikan. “Duh, Tuhan gimana nih mundurnya. Mana kanan kiri sawah.” Di belakang kami pun motor-motor sudah mengantri hingga menimbulkan kemacetan. Akhirnya, ada seorang pengemudi motor yang sangat baik. Dia menawarkan saya untuk membantu memundurkan mobil rental yang saya pinjam. Asli itu sih puji Tuhan banget. Pengalaman mistis ini sih serem juga. Tapi melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa di dalam hidup ini, pertolongan Tuhan selalu ada buat anak-anak-Nya. Saya percaya juga, bahwa sekalipun saya ga tahu masa depan saya, sekalipun gak ada GPS untuk masa depan, dan sekalipun yang saya doakan pun belum dijawab, tapi saya percaya akan selalu ada pertolongan Tuhan. Well, di hari terakhir juga ada kisah lain yang sama mendebarkannya, tapi biarlah teman saya yang berulang tahun di tanggal itu yang menuliskan kisah pertolongan Tuhan itu.


Sabtu, 24 Maret 2018

NASI UDUK DAN POST TRUTH




Sekitar empat tahun lalu, seorang rekan mengajak saya untuk makan nasi uduk Kebon Kacang yang pertama kali ada di Jakarta yakni di daerah Kebon Kacang. Awalnya saya membayangkan bahwa tempatnya bersih dan mewah. Ternyata, tempatnya sangat kecil dan sempit, seperti warung tenda. Uniknya, ada banyak mobil berderet di jalan sempit itu. Konon katanya, para pemilik mobil itu rela antri sempit-sempitan untuk mencoba makanan di warung legendaris itu. Rupanya, “kemasan” warung tidak semerta-merta membuat orang undur untuk tidak makan di sana.  

Andai saja orang memandang fakta dan data seperti orang memandang nasi uduk Kebon Kacang, tentu saja tidak akan banyak hoax  bertebaran di mana-mana dalam era yang disebut dengan post-truth ini. Bukankah saat ini, orang lebih mementingkan rasa --suka-tidak suka rasa senang-tidak senang—ketika menilai sesuatu. Akibatnya, berita-berita hoax lebih diminati. Orang dicintai idenya ketika dipandang dari kemasan yang ditampilkan: wajah, agama, etnis dan lain sebagainya. Kita dengan mudahnya diteror oleh opini kehancuran Indonesia yang dilontarkan tanpa data yang jelas. Mengerikan bukan?

Para pencinta kuliner, rela makan di gang sempit demi suatu fakta cita rasa yang tidak dapat dibohongi. Itulah kenikmatan hidup! Bukan kemasan, tetapi isi yang penting! Karena itu, hanya orang yang mengerti seni mencintai hiduplah yang belajar melampaui post-truth. Ya, orang yang mencintai hidup adalah orang yang mau melihat ide yang baik, data dan fakta ketimbang kemasan. Saya percaya orang Indonesia cerdas dan mau belajar melampaui era post-truth pada era Pilkada Serentak dan Pemilu 2019!

Yesie

Sabtu, 17 Februari 2018

Valentine dan Rabu Abu


Tentu saja, kita tahu hari Valentine, hari di mana orang merayakan keindahan cinta kasih di antara umat manusia. Maka tak heran kita menemukan dekorasi berbentuk hati di mana saja. Tak jarang, valentine mengalami pendangkalan makna, dari perayaan hari kasih sayang menjadi perayaan romantisme yang dijadikan komoditi bisnis.   
Bagaimana dengan Rabu Abu? Rabu Abu menandai hari pertama dalam rangkaian masa raya Paska yang dimulai dengan berpuasa. Rabu Abu mengingatkan kita akan kefanaan manusia, manusia diciptakan dari debu tanah dan akan kembali kepada debu tanah. Debu itu kecil, rapuh, kotor sama seperti manusia. Manusia makhluk yang kecil, rapuh dan penuh dosa. Namun, karena cinta Tuhan, maka yang kecil, rapuh dan kotor itu dijadikan-Nya menjadi ciptaan yang berharga.
Pada tahun ini, valentine dan rabu abu jatuh pada hari yang sama. Barangkali memang kebetulan, namun kebetulan ini sangatlah menarik. Mengapa menarik? Karena justru kita mengingat bahwa hari ini, yang merayakan hari kasih sayang adalah orang-orang yang rapuh, fana, kecil dan penuh dosa. Ketika bertengkar dengan sesama, barangkali kita merasa bahwa diri kita yang benar. Namun, saat ini kita diingatkan untuk saling mengasihi satu dengan yang lainnya serta menerima kekurangan dan kelebihan satu dengan yang lainnya. Kurangilah ambisi dan tuntutan yang tinggi kepada sesama serta diri sendiri. Perbesarlah cinta dan syukurilah kehadiran orang-orang di sekitar kita. Ingat, manusia yang rapuh itu menjadi berarti karena cinta Tuhan.
YIR  



Kamis, 15 Februari 2018

Kisah Persahabatan dalam Narasi-narasi Kecil


Kita tentu saja, mengetahui deretan nama nabi yang terkenal seperti Musa, Elia, Elisa, Yunus, dan lain sebagainya. Namun, Alkitab mencatat juga nama-nama nabi yang barangkali jarang kita dengar. Salah satu nabi yang jarang kita dengar namanya adalah Nabi Oded. Nabi Oded adalah nabi yang hidup dalam masa pemerintahan Raja Asa. Namanya hanya disebut tiga kali dalam Alkitab, sehingga kisahnya masuk dalam narasi kecil yang barangkali jarang kita perhatikan. Akan tetapi, pesan yang disampaikan oleh Nabi Oded dalam 2 Tawarikh 28: 9-14 sangatlah kuat. Ia menyampaikan pesan persahabatan kepada bala tentara Kerajaan Israel Utara yang baru saja menang dan membawa sejumlah tawanan yang diperbudak  dari Yehuda. Nabi Oded dengan berani menyuarakan suara Tuhan yang berisi pesan persahabatan. Ia memprotes perlakuan para tentara kepada para tawanannya. Ia mengatakan bahwa tawanan itu adalah saudara mereka juga. Karena itu, ia mendorong para tentara untuk mengembalikan para tawanan itu. Bahkan sebelumnya, mereka mengobati para tawanan itu serta membagikan pakaian, sepatu, makanan, dan minuman kepada para tawanan yang memerlukannya. Setelah itu, barulah tentara Israel Utara itu kembali ke tempat tinggalnya di daerah Samaria.
                Seperti sepenggal kisah Nabi Obed dalam Alkitab, narasi-narasi kecil yang bermakna juga dapat kita temukan dalam berbagai narasi besar lainnya. Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu saya bersama dengan guru-guru SBI Kasih Yesus mengunjungi museum Benteng Heritage di Tanggerang. Di Museum itu, pemandu museum menjelaskan kisah pelayaran Laksamana Ceng Ho dan armada kapalnya yang besar (bahkan lebih besar daripada kapal Victoria milik Colombus!). Satu hal yang menarik, saya membaca sebuah narasi dalam sebuah papan penjelasan besar yang tidak dijelaskan secara lisan oleh pemandu tur museum. Dikisahkan bahwa Laksamana Ceng Ho adalah penganut Muslim yang taat dan ia tidak pernah membawa misi ekspansi atau penjajahan. Ia justru membawa misi persahabatan saat berlayar. Ia mau berbagi ilmu dengan mengajarkan kepada orang-orang yang ia jumpai di darat mengenai teknik pertanian dan peternakan. Loh koq bisa? Tentu saja, karena di dalam kapalnya ada ladang pertanian. Woww....

                Narasi-narasi kecil lintas agama dan etnis itu mengajarkan kepada kita semua bahwa nilai-nilai cinta kasih dan persahabatan hadir di sepanjang sejarah umat manusia. Kekerasan-kekerasan atas nama agama yang terjadi akhir-akhir ini, seharusnya tidak menyurutkan semangat kita untuk menyerukan bahwa kita mensyukuri persahabatan di tengah perbedaan. Selamat mensyukuri makna cinta kasih dan persahabatan Allah, sambil mengingat tagline GKI Kayu Putih untuk periode tahun pelayanan mendatang. semua sahabat, sahabat semua. 

Jumat, 24 November 2017

DAPAT DIPERCAYA

“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.”
1 Korintus 4:2

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton film Great Wall. Film layar lebar ini mengisahkan tentang William, Tovar dan rekan-rekannya yang pergi ke Cina untuk mendapatkan harta karun yakni black powder. Di dalam perjalanan mereka diserang oleh Tao Tie, spesies sejenis kadal raksasa. Dalam penyerangan itu yang selamat hanyalah William dan Tovar. Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka hingga mereka tiba di tembok Cina. Di sana, mereka ditangkap dan hendak dihukum mati. Namun, William memiliki ide gila untuk menyerahkan tangan Tao Tie yang berhasil ia bunuh ketika mereka diserang Tao Tie. Akhirnya mereka tidak jadi dibunuh karena rupanya Tao Tie adalah musuh yang sudah lama mengancam Cina. 
                Rupanya, William tergerak untuk menolong pasukan Cina yang hendak berperang melawan kawanan Tao Tie. Jendral Lin, seorang perempuan yang menjadi pemimpin Orde Tanpa Nama pun belajar mempercayai William, orang asing itu. Ada kalimat yang sangat menarik dalam percakapan antara Jendral Lin dan William. Jendral Lin berkata,  “Kamu harus bisa mempercayai orang lain, dan kamu akan dipercaya.” Filosofi hidup Jendral Lin mengubah paradigma William. William yang awalnya berpikir bahwa harta adalah segalanya, kini menyadari bahwa harta bukanlah segalanya. Keserakahan manusia menghancurkan dunia ini. Namun, kepercayaan dan relasi antara sesama manusia adalah harta yang paling berharga untuk dipertahankan.
Kisah ini masih berlanjut dengan kisah ketika kepercayaan dan relasi persahabatan di antara William dan Jendral Lin diuji. Tovar melakukan pengkhianatan kepada William dan pasukan Tembok Cina, dengan mencuri black powder. Dampaknya, Williamlah yang dituduh sebagai pengkhianat. Walaupun ia sudah difitnah dan tidak dipercaya lagi, William tetap berjuang untuk menolong Jendral Lin dalam misi melindungi rakyat Cina dari Tao Tie. Akhirnya kebenaran pun terkuak. Jendral Lin dan Kaisar pun tahu bahwa William tidak bersalah.
                Menjaga kepercayaan juga merupakan nilai yang sangat penting di dalam Alkitab. Dalam surat 1 Korintus 4:1-5 Paulus mengingatkan kepada umat di Korintus bahwa yang dituntut dari pada pelayan-pelayan adalah bahwa mereka dapat dipercaya oleh Tuhan dan sesama manusia untuk melakukan kebenaran. Barangkali, orang lain dapat tidak mempercayai kita ketika kita mewartakan dan melakukan kebenaran. Bahkan, kita dapat dihakimi oleh orang-orang yang tidak menyukai kita. Akan tetapi, di dalam 1 Korintus 4:5 dikatakan bahwa Tuhanlah yang akan menerangi, juga apa yang tersembunyi di dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati.
                Tuhan adalah hakim yang adil. Kita semua telanjang di hadapan Tuhan. Topeng yang kita gunakan tidak akan dapat mengelabui Tuhan. Apapun yang kita sembunyikan dapat terungkap di hadapan Tuhan. Tuhan mengetahui ketika kita kita tidak tulus dan menyalahgunakan kepercayaan daripada-Nya untuk kepentingan diri kita. Sebaliknya, Tuhan pun tahu, saat kita belajar untuk menjaga kepercayaan-Nya. Karena itu, marilah belajar untuk menjaga kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita sebagai pelayan-pelayannya.


pojok Jakarta
YIR

Jumat, 03 November 2017

TANGISAN NEMO


Byurrr...... aku melompat dari perahu itu. Air laut Pahawang yang hangat membasahi tubuhku. Cahaya matahari menerobos air laut dan memberikan penerangan bagiku. Aku mencari para nemo untuk menari bersama dengan mereka di balik gelembung-gelembung air. Namun, di manakah para nemo itu?

Tiba-tiba.... braaak!!!! Aduh sakit sekali! Badanku terkena kaki orang lain yang sedang snorkling. Ah, lautan ini seperti menjadi sangat sempit. Semua orang ingin menari bersama dengan nemo. Bahkan, ada yang berenang mengejar nemo ini dengan kasar untuk memegang mereka. Aku pun menuju permukaan laut untuk mengambil nafas sejenak. Tiba-tiba aku merasa bahwa air laut ini terasa seperti bercampur rasa kopi pahit. Ah sial! Ternyata aku mengambil nafas di dekat warung apung. Si penjaga warung baru saja menumpahkan kopinya ke laut. Tidak hanya kopi, sampah bekas bungkus kopinya pun dibuang ke laut.

Pantas saja, tidak ada nemo yang mau muncul untuk berenang bersama manusia-manusia jorok ini. Para nemo itu bersembunyi di balik terumbu karang. Aku rasa, trauma tidak hanya terjadi pada manusia. Ikan pun bisa mengalami trauma karena manusia. Bahkan, ekosistem laut dapat rusak karena ketidakpedulian manusia. Bayangkanlah, barangkali ikan-ikan itu sedang meneteskan air matanya dan gemetar ketakutan ketika Anda memaksa memegangnya.  

Aku heran dengan manusia-manusia yang merasa tak bersalah ketika membuang sampah di laut, melukai para nemo dan merusak terumbu karang. Membuang sampah di laut sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran. Menangkap dan menyentuh nemo pun dipandang kebanggaan. Berfoto dengan menginjak terumbu karang dipandang sebagai sesuatu yang keren.

Bagaimana jika kutegur? Mungkin aku yang akan dianggap gila karena lebih banyak yang melanggar ketimbang yang sadar. Terkadang, manusia melakukan segala cara untuk mendapatkan kesenangannya. Manusia lupa bahwa apa yang ia lakukan untuk mendapatkan kesenangan ternyata membuat makhluk yang lain menderita. Manusia lupa bagaimana caranya bersahabat dengan para nemo dan ekosistem laut.

Kutuliskan kesedihan dan jeritan hatiku dalam tulisan ini. Aku berharap semakin banyak yang membacanya dan menyadari tugas dan panggilan kita untuk memelihara bumi. Alam adalah sahabat kita. Perlakukanlah mereka sebagai sahabat dengan cinta yang Tuhan anugerahkan kepadamu.



Puncak, 3 Nopember 2011
YIR