Pada masa raya Paska tahun lalu, saya melayani ibadah Paska, dalam rangka kepedulian bagi keluarga dan anak disabilitas. Anak-anak dan orang tua yang memiliki anggota keluarga dengan disabilitas diundang untuk ikut serta. Ibadah ini juga melibatkan komisi remaja dan panitia Paska. Dalam acara itu, saya berbincang-bincang dengan seorang ibu yang memiliki anak disabilitas, semacam retardasi mental.
Ibu itu mengisahkan bahwa awalnya ia merasa bersusah hati karena mendapatkan kepercayaan dari Tuhan untuk mengurusi anak dengan disabilitas. Ibu ini sempat masuk ke dalam tahap kemarahan total. Ia sempat mengunci anaknya di kamar mandi karena merasa frustasi mengajari anak ini. Namun, setelah dikeluarkan dari kamar mandi, anak ini memeluk ibunya, sambil mengatakan, "Tuhan Yesus sayang mama." Sejak saat itulah, ibunya justru belajar banyak tentang kehidupan spiritual dari anak itu.
Saat ibu itu bercerita, saya menatap matanya dan mata anaknya secara bergantian. Saya menahan tangis ketika mendengar ceritanya. Anaknya menatap saya dengan berbinar, lalu tersenyum. Senyumnya manis sekali. Lalu, anak itu melonjak-lonjak dan berputar-putar sambil tertawa. Ibunya melepaskan genggamannya dan anak itu pun berlari-lari.
Sesaat kemudian, ibunya melanjutkan kisahnya. Ada masa yang sangat menggugah hatinya, yakni ketika anak ini harus menjalani operasi otak. Ibunya begitu cemas saat ia dioperasi otak. Ibunya takut sekali anak ini mengalami efek terburuk dari operasi, yakni justru lupa semua atas apa yang sudah diajarkan dan diingatnya. Padahal, belum lama baru saja si ibu berhasil mengajari anak ini berhitung satu hingga sepuluh dalam rentang waktu yang sangat lama. Saat anak ini siuman, ibunya langsung menunjukkan jarinya kepada si anak lalu berkata, "Nak, ini berapa?" Si anak yang baru siuman berkata, "Ma, Tuhan Yesus sayang kita, jangan takut." Lagi-lagi si ibu merasa disapa Allah dengan jawaban si anak. Sekali lagi ibunya berkata kepada saya, "Tuhan justru mengajarkan saya banyak hal melalui anak ini."
Mata saya sudah berkaca-kaca. Karena pada saat yang bersamaan, kisah itu pun menjadi sapaan bagi saya dalam pengembaraan saya. Saya pun bertanya kepada ibu itu, "Ibu, apakah ibu pernah bertanya kepada anak ibu, apa cita-cita anak ibu?" Kemudian, ibu itu menjawab, "Pernah. Dan dia ingin menjadi pendeta." Tiba-tiba anak itu memeluk ibu itu dari belakang. Saya pun berlutut dan bertanya kepadanya, "Kamu mau jadi pendeta?" Anak itu tersenyum manis dan mengangguk kepada saya. Tanpa terasa, air mata saya menetes karena merasakan ketulusan anak ini.
Pengalaman ini begitu membekas bagi saya. Dalam masa cuti ini, saya berkesempatan untuk merenungkan banyak hal. Termasuk cita-cita anak ini? Mungkinkah cita-citanya untuk menjadi pendeta dapat tercapai? Secara personal, saya ingin sekali punya pendeta seperti anak karena ia sangat tulus. Barangkali, ia tidak sama seperti para pendeta dan calon pendeta yang sukanya bermain "politik" di gereja. Barangkali, ia tidak sama dengan para pendeta dan calon pendeta yang memakai kekuasaan untuk menindas rekannya dan jemaatnya. Tetapi, saya berkali-kali merenung. Apakah mungkin dia dapat menjadi seorang pendeta? Atau minimal masuk ke sekolah teologi?
Mungkinkah? Barangkali kita perlu berpikir ulang mengenai konsep kependetaan kita dan konsep pendidikan teologi. Apa sih yang disyaratkan untuk menjadi seorang pendeta (sambil melirik Tata Gereja hehehehe...)? Lalu bagaimanakah dengan sekolah teologi? Barangkali sekolah teologi sudah mulai terbuka bagi orang-orang dengan disabilitas fisik, dengan berusaha menyiapkan fasilitas yang dapat menunjang pembelajaran dengan kekhususan mereka. Tapi bagaimana dengan orang-orang dengan disabilitas mental? Bukankah untuk masuk ke sekolah teologi ada standard test IQ, dengan batas minimum skor IQ tertentu?
Refleksi ini menjadi sebuah refleksi terbuka. Saya sendiri masih bertanya dalam keterbatasan saya sambil mengingat kasih Allah yang menyapa setiap orang. Jika Allah itu penuh misteri, maka akankah kita terbuka pada misteri-Nya yang barangkali dapat memanggil orang-orang dengan disabilitas fisik dan mental untuk menjadi pendeta?
Di tengah keheningan
7 Maret 2017
curahan berbagai refleksi atas pergumulan memaknai perjalanan dan pergelutan bersama Allah dalam kemurnian hati.
Senin, 06 Maret 2017
Selasa, 21 Februari 2017
Satu Tahun Lalu....
Satu tahun yang lalu, saya merasa Tuhan menjerumuskan
saya ke tengah proses yang menyakitkan
Dalam proses di tahun ini, saya belajar memahami tuntunan
tangan-Nya di tengah proses yang menyakitkan.
Satu tahun yang lalu, saya tidak mengerti arti
kebahagiaan.
Dalam proses di tahun ini, saya belajar untuk memaknai
kebahagian dan keindahan.
Satu tahun yang lalu, air mata menjadi teman hidup saya.
Dalam proses di tahun ini, saya belajar untuk bersahabat
dengan senyuman.
Satu tahun yang lalu, saya masih bersikeras untuk menggenggam
sesuatu.
Dalam proses di tahun ini, saya belajar melepaskan
genggaman itu dalam rahmat Allah.
Satu tahun yang lalu, saya merasa tidak dicintai.
Dalam proses di tahun ini, Tuhan menunjukkan bahwa saya
dicintai.
Satu tahun yang lalu, saya tidak mengerti apa itu
pengharapan.
Dalam proses di tahun ini, Tuhan menolong saya untuk
merasakan pengharapan.
Satu tahun yang lalu, saya kecewa pada Tuhan di tengah
luka dan kehancuran.
Dalam proses di tahun ini, saya melihat ternyata Tuhan merengkuh
dan menyembuhkan saya dari luka dan kehancuran itu.
Satu tahun yang lalu, saya masih terpikir untuk mundur
pada hari yang ditakuti sekaligus dinantikan.
Dalam proses di tahun ini, saya belajar untuk bertahan
dalam cinta-Nya, walaupun terkadang masih terpikir untuk mundur.
Terima kasih Tuhan untuk:
tawa dan tangis;
cinta dan air mata;
setiap pengalaman indah dan menyakitkan;
para sahabat dan keluarga yang mengasihi saya;
dan GKI Kayu Putih yang Tuhan anugerahkan.
Jakarta, 21 Februari
2017
Detik-detik menuju 1
tahun penahbisan
Sabtu, 24 Desember 2016
Perspektif Baru
Ketika kelam membayangi kehidupan kami,
Ajarlah kami melihat
keindahan dari Allah,
Melalui desahan angin
malam
Yang menerpa wajah
kami.
Ketika putus asa
melilit kehidupan kami,
Ajarlah kami melihat
pengharapan dari Allah,
Melalui daun-daun yang
berguguran, jatuh ke tanah lalu mati,
namun menyuburkan tanaman lainnya...
namun menyuburkan tanaman lainnya...
Ketika trauma membuat
kami tak dapat lagi melihat cinta,
Ajarlah kami melihat
cinta Allah,
Melalui rasa sakit
yang ditahan oleh seorang ibu
Ketika ia dengan penuh
cinta melahirkan dan menyusui bayinya
Ketika pengalaman
pahit menyergap kami,
Ajarilah kami mengecap
aneka rasa dari Allah
Melalui beragam rasa
makanan yang kami makan
Agar kami dapat merayakan
kehidupan dengan perspektif baru.
Jakarta, 24 Desember 2016
YIR
Jumat, 23 Desember 2016
Kelahiran Sang Bayi
Sang Bayi lahir...
di
malam yang sepi,
untuk
mengingat perasaan kesepian
yang
melilit insan dengan mengerikan
Sang Bayi lahir...
di
pondok orang asing,
untuk
memahami perasaan terasing
yang
mencekik insan dalam suasana bising
Sang Bayi lahir...
disambut
para gembala yang terjaga
untuk
mengingat orang-orang sederhana
yang
terjaga demi makanan secukupnya
Sang Bayi menjadi kanak-kanak...
disambut
para Majus dari jauh
untuk
merayakan keberagaman yang utuh
yang
kini rasanya agak menjauh
Sang Bayi menjadi kanak-kanak...
Di tengah
pembantaian penguasa
Untuk
merengkuh korban kekerasan
Yang
penuh cucuran air mata
Sang Bayi menjadi kanak-kanak...
Di tengah
ratapan air mata di Rama
Untuk
menemani orang-orang yang dibelit trauma
Yang
sukar melihat hidup yang berirama
Selamat menyambut Sang Bayi dalam keheningan...
Jakarta, 24 Desember 2016
YIR
Kamis, 08 Desember 2016
JATUH-LUKA-JATUH-LUKA, DI MANAKAH KESEMBUHAN?
Di
masa kecil, saya senang sekali bermain di sawah. Berlari-lari ke sana-sini di
sawah kering untuk mengejar layangan putus. Suatu kali, kaki saya tersangkut di
antara tanah lempung kering hingga akhirnya saya terjatuh. Wajah saya hancur
dan dipenuhi luka. Minggu-minggu itu, rasanya saya malu sekali ke sekolah.
Teman-teman saya menertawakan saya. Sebagian ada yang berkata, “Anak cewek koq
mainnya ngejar layangan putus.”
Selain
diejek, penderitaan yang juga berat adalah ketika mama saya membersihkan luka
saya. Perih sekali. Luka itu tidak boleh dibiarkan bernanah. Harus dibersihkan,
dibasuh, dan ditaburi “obat merah” resep Cina yang perihnya bukan main.
Jadilah, selama beberapa hari, saya kapok pergi ke sawah. Saya hanya melihat
layangan putus dari belakang kaca jendela rumah. Sayangnya, kapok itu tidak
cukup ampuh untuk menahan saya yang ceroboh dan sering jatuh. Saya kembali
jatuh terantuk di rumah. Luka di wajah belum kering, kini bertambah luka di
kaki.
Entah
mengapa dalam beberapa hari ini, saya teringat peristiwa itu. Jatuh-luka-jatuh-luka
menjadi hal yang sering terjadi di dalam kehidupan saya. Kadang, saya berlari
menghindari luka. Namun, kadang saat luka hampir sembuh, saya pun jatuh lagi.
Kadang, saya sudah berhati-hati, namun saya tetap jatuh. #nasib
Saya
teringat percakapan yang mengejutkan dengan Mince, rekan semasa kuliah saya.
Ada momen ketika dia sudah hampir melupakan luka-lukanya, namun Tuhan kembali
seperti memukul dan mengingatkannya kembali akan lukanya. Dan itu sakit! Tokh
yang Mince alami ini juga saya berulang kali rasakan. Kalau saya mengilas balik
perjalanan hidup saya selama setahun terakhir, rasanya Tuhan membiarkan saya
untuk jatuh-luka-jatuh terus menerus. Ada kelelahan yang amat sangat ketika
mengilas balik perjalanan di tahun ini. Saya pun bertanya kembali tentang siapa
Tuhan? Dan mengapa saya berulang kali terjatuh? Kapan saya sembuh ya Tuhan?
Hosea
8:2-3 melukiskan gambaran yang menarik tentang Tuhan dalam fase
jatuh-luka-jatuh itu. “Mari kita berbalik
kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita,
yang telah memukul dan yang akan membalut kita. Ia akan menghidupkan kita
sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita
akan hidup di hadapan-Nya. Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh
mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita
seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.”
Sungguh
menarik karena Tuhan digambarkan sebagai penerkam dan penyembuh; pemukuldan pembalut;
yang muncul bagai fajar dan hujan. Barangkali, proses
diterkam-disembuhkan; dipukul-dibalut
inilah yang terjadi dalam misteri yang tak terjelaskan. Barangkali,sang penulis
ingin menggambarkan kerinduannya sekaligus ketidaksanggupannya untuk mengenal
TUHAN yang wajahNya tidak tunggal. TUHAN yang tak bisa dipahami seutuhnya,
namun hadir dalam proses jatuh-luka-jatuh.
Lalu
di manakah kesembuhan? Kesembuhan hadir dalam kesadaran pertobatan, sebagaimana
yang dikatakan dalam Hosea 8:2, “Mari kita berbalik kepada TUHAN”. Pertobatan
adalah sebuah kesadaran penuh bahwa kita adalah manusia yang rapuh yang lukanya
belum kering dan selalu punya potensi untuk terjatuh. Atau bahkan jatuh lagi
dan lagi! Kesembuhan adalah kerinduan untuk kembali kepada Sang Misteri dalam
proses JATUH-LUKA-JATUH-LUKA, di mana kata SEMBUH tersembunyi dan berkelindan
di antara kata JATUH-LUKA-JATUH-LUKA. Kiranya Tuhan menolong setiap kita yang
sedang ada dalam proses yang pahit namun manis ini.
Jakarta, 8 Desember 2016
YIR
Minggu, 20 November 2016
Allah yang Mengejutkan
Allah itu memang mengejutkan!
Saya tidak pernah menyangka....
bahwa saya bisa berkhotbah di GKI Kayu Putih bersama dengan Mince, teman kuliah saya
Saya tidak pernah menyangka...
bahwa tema pada hari itu adalah tentang "Yesus, ingat aku!"
Saya tidak pernah menyangka...
bahwa dalam proses beriman kami, kami sama-sama pernah merasakan dilupakan Tuhan.
Saya tidak pernah menyangka...
bahwa sebelum berkhotbah kami sama-sama mengingat pengalaman penolakan yang dilakukan oleh supir taksi sepulang dari RSCM kepada Mama Mince, yang adalah mama kami juga
Saya tidak pernah menyangka....
bahwa cerita kehidupan Mince yang ia khotbahkan paska kami lulus justru menguatkan saya.
kami punya kesamaan, yakni pada saat kami mau "move on", Tuhan justru memperjumpakan kami dengan kelemahan masing-masing
Saya tidak pernah menyangka bahwa....
ayat yang sudah bergema sejak penahbisan, "Cukuplah kasih karuniaKu kepadamu, sebab di dalam kelemahanmulah, kuasaKu menjadi sempurna" dibunyikan lagi oleh Mince pada saat kami berkhotbah bersama.
Saya tidak pernah menyangka bahwa...
Tuhan mengingat saya melalui Mince, demikian juga barangkali sebaliknya.
Saya tidak pernah menyangka bahwa...
dalam momen khotbah dan doa bersama kami sama-sama dikuatkan Tuhan...
Saya tidak pernah menyangka bahwa...
kegelapan dan air mata, menuntun kami untuk semakin terbenam dalam cinta dan rahmatMu.
Saya tidak pernah menyangka bahwa...
Firdaus itu adalah ketika kami diingat Tuhan, hari ini juga melalui perjumpaan yang mengejutkan.
Jakarta, 21 Nopember 2011
Minggu, 13 November 2016
Tentang Kepedihan
Pada keanehan indra yang benderang
Dengan balutan intuisi yang bergelinjang
Data-data menjadi telanjang
Dalam ruang yang tak terang
Badan kami terasa berat.
Saat pengkhianatan begitu pekat
Kemarahan dan kepedihan telah berurat
Membuat mata kami pekat
Tuhan, ajarilah kami mengampuni
Sebagaimana Engkau Allah yang rahimi
Agar cinta tetap bersemi
Dalam kesederhanaan alami
Langganan:
Postingan (Atom)


