Rabu, 30 Januari 2013

A Grief Observed (Mengupas Duka)


Pada tahun 2010, saya pernah melakukan kesalahan bodoh kepada rekan saya. Pada saat itu, dia mengalami dukacita karena sahabat terkasihnya, M, meninggal dunia. Sayangnya, rekan saya tidak dapat menemani M hingga akhir hayatnya karena ia tidak berada di kota yang sama. Sayalah yang justru mendapatkan kesempatan untuk mendampingi M.
Rekan saya –yang sudah mempunyai firasat bahwa M akan segera “pulang”-- menghubungi saya melalui pesan singkat. Ia menanyakan kondisi M. Bodohnya, saya pada saat itu tidak menempatkan diri pada posisinya. Saya membalas pesannya seperti ini, “M sudah bahagia sekarang, ia sudah berada bersama dengan Bapa. Ini yang terbaik untuk M.” Saya tidak menyangka bahwa rekan saya membalas sms saya dengan penuh kemarahan. “Bagaimana kau dapat mengatakan bahwa hal itu adalah yang terbaik untuk M (dan untuk saya)? Bagaimana kau mengatakan bahwa peristiwa kecelakaan dan kematiannya adalah hal yang baik?” ujarnya dalam SMS singkatnya. Saya merasa tertampar pada saat itu. Saya mulai menyadari bahwa saya belum bisa berempati. Saya hanya membalas SMS-nya dengan kalimat, “Maafkan saya karena mengatakan hal yang tidak seharusnya saya katakan padamu.”  
C.S. Lewis, penulis buku The Chronicle of Narnia, membantu saya untuk memahami bagaimana perasaan orang yang berduka. Lewis pernah mengalami perasaan tersinggung yang sama dengan rekan saya ketika ia mengalami kedukaan. Lewis menceritakan pengalamannya ini dalam bukunya A Grief Observed (Mengupas Duka). Ketika istrinya meninggal karena leukemia, rekan-rekannya berusaha untuk menghiburnya dengan mengutip kata-kata Paulus, “Jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.” Dalam kemarahannya, raksasa intelektual di abad 20 ini berkata, “Jangan bicara padaku tentang penghiburan dalam agama, atau aku akan curiga bahwa Anda tidak memahami apa-apa.”
Lewis dengan terbuka menceritakan pengalaman dukacitanya ketika maut merenggut istrinya yang mengidap Leukemia. sehingga lima tahapan dukacita yang dikemukakan oleh Elizabeth Kübler-Ross, tampak nyata dalam buku ini. Pada bab pertama dan kedua, dengan jujur ia mempertanyakan keberadaan Allah dalam duka. Dengan penuh kemarahan, ia juga menyatakan kekecewaannya pada Allah sebagai Si Sadis Sejagad. Si Sadis Sejagad itu tidak nyata ketika dukacita melandanya, namun nyata pada saat sukacita. Ia mempertanyakan keberadaan istrinya saat ini. Ia bertanya mengapa orang-orang di sekitarnya begitu yakin dengan imaji surga sebagai tempat yang indah? Mengapa orang-orang begitu yakin akan adanya “reuni keluarga setelah kematian”, padahal tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menjelaskan tentang “reuni” tersebut?
Dalam bab tiga dan empat, tampak emosi Lewis sudah menurun. Pada bagian-bagian ini, ia mulai dapat menerima kematian istrinya dan melihat bahwa kekalutannya membuat ia tidak dapat memandang “pintu” yang Allah bukakan baginya. Ia menyadari bahwa kesedihan yang mendalam, membuat dirinya semakin terpisah jauh dari Allah dan istrinya yang telah meninggal. Dia akhir babnya, ia menyatakan bahwa kedukaan adalah sebuah proses perjalanan, bukan sebuah peta. Yang menarik di akhir bukunya, ia mengatakan bahwa kematian dan kebangkitan adalah sebuah misteri. Kita tidak dapat memahaminya dan bahkan kita tidak tahu apa-apa tentangnya.
Bahasa Lewis yang sangat jujur tentang kekecewaan dan ketidakmengertiannya sangatlah menarik untuk saya. Bagi saya, kejujuran macam ini diperlukan untuk membantu proses pemulihan luka atas kehilangan orang yang kita kasihi. Kemarahan-kemarahannya yang dengan gamblang dinyatakan dalam tulisan ini, membuat saya terus bertanya. Bagaimana sikap kita ketika melayankan kebaktian penghiburan? Bagaimana kontribusi “iman” itu dapat dinyatakan kepada orang-orang yang berduka. Akh, tampaknya menulis khotbah-khotbah penghiburan akan semakin sulit…. Atau mungkin, pada satu saat nanti, saya hanya memeluk orang yang berduka sebagai ganti khotbah penghiburan itu. Mungkinkah?

Bandung, di penghujung Januari 2013
YIL


Judul   : A Grief Observed (Mengupas Duka)
Penulis: C.S.Lewis
diterbitkan pada tahun 1961  oleh Harper Collins Publisher 
diterbitkan pada tahun 2010 dalam bahasa Indonesia oleh Pionir Jaya.

Minggu, 13 Januari 2013

Ketika Dia Berdoa Untukku

Beberapa waktu lalu, aku datang ke kota tembakau untuk memenuhi janjiku. Aku pergi ke sana untuk mengunjungi seorang nenek tua, yang kisahnya sudah lebih dari dua kali kutuliskan. Namun, rasanya menulis tentangnya tiada ada habisnya. Dia bukan orang terpelajar. Dia bukan orang kaya. Dia adalah orang yang rumahnya beralaskan tanah, di sela-sela dua rumah yang hampir berdempetan.

Di sela-sela hujan yang semakin deras, aku mengetuk pintu rumahnya, yang tak layak juga disebut sebagai pintu. Dia tidak menyahut. Kutengok ke dalam rumah tak berjendela itu, namun ia tidak ada. Firasatku tak enak. Aku berlari menuju ke kios rokok, tempat ia berjualan. Lalu, kulihat dirinya memegang payung rombengnya. Aku berlari menerobos hujan dan kupeluk dia. Aku terkejut melihat wajahnya yang biru lebam. Dia menarik aku agar berlindung di bawah naungan payungnya.

Dengan tak sabar menahan rasa penasaran dan keterkejutanku, aku bertanya padanya, "Ma, kenapa mukanya biru?" Dia menahan isak tangis dan masih belum mau menceritakan pengalamannya padaku. Dia balik bertanya, "Kamu dari mana? Sekarang kerja di mana?" Aku termenung untuk sesaat karena dirinya masih dapat memerhatikan orang lain dalam kondisinya yang buruk. Aku pun menjawab pelan, "Aku sedang menunggu penempatan dan panggilan, Ma. Aku sedang berada dalam masa tenang dan ke sini khusus untuk bertemu dengan Ema."

Nenek tua itu mengucurkan air matanya dan menceritakan kejadian yang menimpanya kepadaku. Ia baru saja dirampok untuk yang ke-8 kalinya. Uangnya diambil. Ia tidak memegang uang sedikitpun. Ia dapat pergi ke rumah sakit karena diantar tukang becak dan masyarakat di sekitarnya.

Aku sedih sekali ketika memandang nenek tua ini. Anganku melayang menembus dimensi waktu, yakni sehari sebelum aku pulang dari kota tembakau itu. Di sore hari, ia datang memberiku amplop dan kue. "Ini bekal untuk di jalan, Nak" katanya. Aku mencium nenek tua renta ini. Pemberian ini sangat berharga bagiku. Seorang yang sangat terbatas, rela memberikanku hadiah. Bagi kebanyakan orang mungkin jumlahnya tak banyak. Namun bagiku, pemberian ini sangat berarti. Ia memberi dari apa yang ia miliki, bukan dari kelebihannya. Aku merasakan keharuan yang sulit digambarkan. Perasaan yang mungkin juga dialami Kristus, sewaktu Ia melihat janda miskin yang memberi persembahan.

Lamunanku buyar, ketika ia memegang tanganku dan berkata dengan suara lirih, "Ema tidak punya apa-apa. Ema mau berdoa untukmu dan untuk pekerjaanmu, agar Tuhan menempatkanmu di tempat yang sesuai dengan kehendak-Nya." Aku terisak. Perempuan ini berkata, "Jangan menangis dan jangan takut, ada Tuhan bersamamu." Ah, lagi-lagi Tuhan mengingatkanku untuk tetap berjuang melalui nenek tua ini. Aku menutup mataku dan mendengarkan doanya. Aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa isi doanya. Ia berdoa dalam bahasa Jawa dan dengan suara yang lirih. Namun, kurasakan getaran batin dan Tuhan berbicara melaluinya ketika ia berdoa untukku. Seolah-olah, dalam lirih ia berkata, "Maju dan yakinlah Tuhan akan menjaga dan menolongmu."

Aku membuka mataku ketika selesai berdoa. Kucium dan kupeluk dirinya. Aku selalu menemukan pengalaman berharga setiap kali mengunjunginya. Terima kasih untuk ketulusanmu. Aku tidak akan melupakanmu, engkau yang masih berdoa untuk orang lain walaupun dirimu mengalami penderitaan.


YIL
ketika mengenang perjalanan spiritual di bulan November 2012
Jakarta-Jogja-Temanggung-Bandung.

Jumat, 11 Januari 2013

Pulang: Novel Karya Leila S. Chudori




 “Rumah adalah tempat di mana aku bisa pulang.” 

Dimas Suryo


Percikan kalimat pendek di atas menjadi jantung dari novel Pulang. Pulang mengisahkan pergumulan para eksil yang terlibat maupun dituduh terlibat dalam peristiwa berdarah di tahun 1965. Mereka “terjebak” di Perancis dan tak dapat menjejakkan kakinya kembali ke Indonesia karena mengalami berbagai peraturan diskriminatif dari rezim Orde Baru. Hingga akhirnya mereka dapat kembali pulang --dalam bentuk manusia utuh ataupun seonggok mayat—ke Indonesia, setelah kejatuhan rezim Orde Baru di tahun 1998.

Novel bergenre sejarah ini berlatarkan tiga peristiwa kunci: Indonesia di tahun 1965, gerakan mahasiswa di Perancis di tahun 1968, dan kerusuhan Mei 1998 di Indonesia. Dengan alur yang sangat memikat di tengah-tengah ketakberaturannya, novel ini menggiring saya untuk memasuki tiga konteks itu dan dengan sigap menyerap saya dalam pusaran imajinasi tentang sisi lain dari peristiwa sejarah 1965, yakni pergumulan orang-orang yang dicap oleh pemerintah sebagai aktor beserta keluarganya. 


Novel bercorak pos-kolonial ini menceritakan fragmen-fragmen pergumulan para tokoh utama dan orang-orang yang dicap sebagai antek-antek PKI. Novel ini adalah sebuah bentuk penentangan terhadap gelombang besar produk tunggal historis yang diangkai oleh satu rezim. Dimas Suryo, Lintang Utara dan Segara Alam menjadi tiga tokoh utama dengan berbagai orang di sekitarnya. Bagi saya, keberadaan lebih dari satu tokoh kunci dan pergumulan orang-orang di sekitarnya membuat novel ini menjadi lebih memikat. 


Dimas Suryo menjadi seorang eksil –yang terpaksa menjadi eksil—di Perancis, karena menggantikan Hananto Prawiro (seorang redaktur di kantor Berita Nusantara yang berkaitan dengan PKI dan Lekra) untuk mengikuti Konferensi Wartawan Asia Afrika di Peking. Dimas Suryo bukanlah seorang golongan kaum kiri. Ia hanya terjebak dan dipandang sebagai golongan kaum kiri. Pada saat itu, Indonesia tidak mengenal warna dan arah lain selain hitam dan putih serta kiri dan kanan. Tidak ada kata bagi moderat dan sejuta warna lainnya. Dimas dicemplungkan ke dalam warna hitam dan kiri karena keterlibatannya di kantor Berita Nusantara. Hubungan Dimas dengan Hananto terpilin karena keberadaan Surti, mantan kekasih Dimas yang akhirnya memilih Hananto. Hananto menitipkan Surti dan ketiga anaknya kepada Dimas, setelah ia harus diburu dan akhirnya dihukum mati karena keterlibatannya dalam tubuh PKI. 

Dalam pelariannya di Perancis, ia berjumpa dengan Vivenne Deveraux. Vivenne adalah mahasiswi yang mengikuti unjuk rasa melawan pemerintah Perancis. Vivenne menjadi istri Dimas karena cinta pada pandangan pertama. Di Perancis, Dimas berjumpa kembali dengan kawan-kawannya yang menjadi eksil yakni: Nug, Tjai, dan Risjaf. Mereka merindukan untuk pulang ke rumah mereka: I.N.D.O.N.E.S.I.A. Hanya Risjaf yang berhasil pulang. Namun selebihnya tidak dapat pulang ke tanah airnya karena diskriminasi yang mereka alami sebagai orang-orang yang dicap “berbahaya” oleh polisi. Mereka pun mendirikan restoran Tanah Air sebagai ekspresi atas kerinduan mereka terhadap Indonesia dan desakkan dari dewa ekonomi yang memaksa mereka untuk bertahan hidup di Perancis. Di sela-sela alur besar ini, kita dapat menemukan kisah cinta dan prahara rumah tangga yang menarik serta alunan nada sedih dari orang-orang yang mereka tinggalkan di tanah air melalui untaian surat dan telegram yang mereka terima dari kerabat mereka yang harus menderita di Indonesia karena dianggap sebagai keluarga PKI. 

Lintang Utara Suryo adalah putri cantik dan pintar dari pasangan Dimas dan Vivenne. Ia menguasai tiga bahasa: Perancis, Inggris dan Indonesia. Cita-cita Dimas untuk menjejak ke tanah air diwakili oleh Lintang anaknya yang harus merampungkan tugas akhir studi strata satunya dengan membuat sebuah film dokumenter bertemakan pergumulan dan penderitaan keluarga orang-orang yang terlibat maupun dituduh sebagai anggota PKI.  Lintang berhasil mendapatkan visa ke Indonesia atas bantuan Narayana Lavebre (kekasihnya) dan teman-temannya. Mereka memasukkan nama Utara sebagai nama keluarga Lintang dan membuang nama Suryo dalam formulir pendaftaran visa milik Lintang.

Lintang pulang ke Indonesia pada saat-saat yang berat. Ayahnya, Dimas Suryo, sedang mengidap cirrhosis, penyakit yang dirahasiakan Dimas pada Lintang. Tidak hanya itu, keadaan politik dan ekonomi di Indonesia sedang memanas, yakni pada kisaran bulan Mei 1998. Di Indonesia, ia ikut mengalami peristiwa Mei 1998, yakni kerusuhan besar, penganiayaan terhadap etnis Tionghoa dan jatuhnya rezim Orde Baru, yang telah “menghadiahi” keluarga besar mereka dengan sebuah cap besar: DISKRIMINASI. Di Indonesia, ia harus mendengar kisah pedih dari keluarga orang-orang yang dicap terlibat PKI. Ia mendengarkan pedihnya ungkapan tante Surti Anandari yang mengalami pelecehan seksual pada saat diinterogasi. Ia merasakan kepedihan ketika ayahnya dimaki-maki oleh golongan “elit” yang mencicipi gelimang harta dari rezim orde baru. Ia merasakan pergumulan keluarga pamannya, Aji Suryo yang mengalami diskriminasi untuk mendapat pekerjaan di instansi pemerintahaan. Kisah hidup Lintang menjadi semakin menarik dengan bumbu kisah cinta segitiga yang dialaminya dengan Narayana dan Alam Sagara.

Alam Sagara adalah putra bungsu dari Surti Anandari (mantan kekasih Dimas) dan Hananto Prawiro. Laki-laki tampan ini memikat hati Lintang dalam cinta pada pandangan pertama. Ialah yang membantu lintang membuat film dokumenter itu dengan menghubungkan Lintang pada para korban dan tokoh-tokoh perjuanan Hak Asasi Manusia. Keterlibatannya dalam perjuangan menegakkan Hak Asasi Manusia, membuatnya memiliki jejaring dengan berbagai tokoh penting seperti Pramoedya Ananta Toer, Rendra dan tokoh-tokoh lainnya. Lintang dan Alam terlibat dalam pengejaran intel Orde Baru yang mengincar Alam sebagai targetnya. 


Tidak mudah untuk menceritakan kekayaan novel ini dalam sebuah tulisan singkat ini. Dari novel ini, saya belajar sisi lain sejarah dari perspektif orang-orang yang mengalami diskriminasi. Selama ini, orde baru memanipulasi dan menumpulkan daya kritis rakyatnya dengan membentuk sebuah narasi historis tunggal dari sudut pandang P.E.N.G.U.A.S.A.  Mereka yang disebut penguasa ini memercikan roh kebencian dan roh diskriminatif pada mereka dan keluarga mereka yang dimasukkan ke dalam kategori pelaku G.30. SPKI. Saya ingat setiap tanggal 30 September, diputar film tentang penembakan jendral yang dilakukan oleh anggota PKI, tanpa pernah menceritakan bagaimana pergumulan mereka dan orang-orang tak bersalah yang dianggap terlibat dalam pergerakkan ini. Di samping itu, dari novel ini saya juga mencicipi kebudayaan Indonesia yang berharga yakni kisah-kisah pewayangan Mahabarata dan berbagai kutipan dari pujangga Indonesia. Kekayaan budaya dan karya ini perlu diketahui oleh kaum muda bangsa Indonesia. Demi menimbulkan hasrat penasaran, saya tidak akan menceritakan detilnya dalam tulisan ini. Akhirnya, saya merekomendasikan para pencinta novel dan orang yang baru mau mencintai sastra untuk mengalami apa yang saya rasakan: terjun ke dalam pusaran imajinasi apik dalam novel berjudul Pulang.

Judul : Pulang
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Terbit : Desember 2012


YIL
Januari 2013, 
dalam keheningan rumahku di Bandung 
rumah dan kota yang selalu membuat aku ingin pulang.

Kamis, 20 Desember 2012

KETEGANGAN ANTARA HOSPITALITY DAN HOSTILITY DALAM KISAH KELAHIRAN KRISTUS



Beberapa waktu terakhir ini, muncul beberapa usaha untuk merekonstruksi kisah Natal yang diwarnai dengan hostility, melalui suatu tafsiran imajinatif ala Joas Adiprasetya, dosen saya di STT Jakarta. Rekonstruksi ini cukup menarik dan menimbulkan pro-kontra tentunya. Awalnya, saya termasuk ke dalam kelompok yang kontra terhadap kemungkinan hospitality ini. Saya sempat berdebat dengan teman-teman saya dan dengan tegas mengatakan bahwa saya tidak setuju.
Namun, setelah melalui berbagai perdebatan, saya pun merenungkan kembali  kemungkinan adanya hospitality dalam kisah kelahiran Kristus. Hasil perenungan itu pernah saya tuliskan sebelumnya dalam kolom komentar di sebuah blog, yakni http://ngakawiweti.blogspot.com/2012/12/natal-sebagai-momen-keramahtamahan.html#comment-form. Seorang teman mengatakan bahwa dalam refleksi saya tersebut ada suatu lompatan pemikiran. Saya menerima kritikan itu dan dalam tulisan ini saya mencoba menata ulang hasil refleksi saya.
Pertama-tama, biarlah saya menceritakan mengapa saya mempertanyakan konsep hospitality itu. Saya dengan mudah menerima konstruksi teologis Joas bahwa Yesus tidak lahir di kandang domba, melainkan di ruang bawah tanah. Namun, saya sangat sulit untuk menerima konsep hospitality di dalam kisah Natal versi Lukas. Mengapa? Karena awalnya, dalam imajinasi saya (yang negatif, katakanlah begitu), saya tidak melihat adanya keramah-tamahan. Saya hanya melihat hostility, walaupun Yesus dilahirkan di ruang bawah. Pertanyaan yang berkecamuk dalam diri saya adalah, “Mengapa pemilik rumah tidak meminjamkan kamarnya saja? Mengapa pemilik rumah tidak memprioritaskan orang yang hamil tua, walaupun dia datang terlambat sekalipun?” Pada saat itu, saya masih belum dapat menerima argumentasi Joas bahwa ruangan yang diberikan bagi Maria dan Yusuf adalah ruangan yang terbaik bagi mereka.
Namun, setelah saya merenung-renung, saya pun menyadari kekeliruan saya. Saya menyadari bahwa masih ada kemungkinan ruang bagi hospitality. “Pertobatan” pemikiran saya ini terjadi setelah saya berdiskusi dengan teman-teman saya dan me-re-imajinasikan pergumulan pemilik penginapan. Re-imajinasi ini mungkin sedikit berbeda dengan yang disampaikan oleh Joas. Joas dalam tulisannya menggambarkan pergumulan pemilik penginapan dengan sebuah imajinasi seperti ini: 

" Maka, bisa dibayangkan betapa bingungnya tuan dan nyonya rumah. Sepasang sejoli muda datang terlambat, sementara rumah mereka telah penuh sesak. Dan, bukan hanya itu, si perempuan muda itu mengandung tua dan siap melahirkan. Bagaimana jika mereka dipaksa masuk ke kataluma, lalu di sana ia melahirkan? Bagaimana mungkin bayi yang bakal lahir dapat beristirahat? Bagaimana juga dengan ibu baru yang tentu membutuhkan ketenangan untuk memulihkan tenaga? Dan seribu satu pertanyaan penuh kekuatiran.” (http://www.facebook.com/notes/joas-adiprasetya/natal-perdana-ruang-keramahtamahan/10151172666821964)

Saya mengakui bahwa imaji Joas terhadap hospitality pemilik rumah sangat positif. Pertimbangan yang digumuli oleh pemilik rumah sangatlah positif. Namun, saya punya imaji lain dengan Joas. Boleh khan? Secara singkat, saya rangkumkan imaji saya dengan sebuah kalimat: pergumulan antara "hostility" dan "hospitality", yang "dimenangkan" oleh hospitality". Jadi, yang saya lihat adalah pertentangan batin di dalam diri pemilik rumah yang kemungkinan besar adalah sanak saudara dari Yusuf. Di dalam batin tuan dan nyonya rumah, mungkin muncul "hostility" yang bergesekan dengan "hospitality".

Saya membangun imajinasi itu dengan argumentasi teologis di bawah ini:
(1) Ada pergumulan batin untuk menghadirkan hospitality dalam diri pemilik penginapan. "Hospitality" ini disebabkan karena dua hal. Pertama, hospitality sudah menjadi adat istiadat bagi bangsa Israel (bahkan hospitality memang menjadi praktik yang sangat penting di dalam dunia kuno!) (Mercer dictionary of the Bible, 1990, pp. 393). Dalam Kitab Ayub 31:32, Ayub juga menjunjung tinggi hospitality. "malah orang asing pun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir." Kedua, secara manusiawi MUNGKIN SAJA pemilik rumah IBA melihat perempuan hamil besar dan mau melahirkan.
(2) Ada pergumulan "hostility" dalam diri pemilik penginapan. Setidaknya, menurut saya "hostility" ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena gosip hamil pra-nikah yang beredar di kalangan sanak keluarga Yusuf. Dalam Zondervan Dictionary of Biblical Imagery, dikatakan bahwa pemilik rumah (yang adalah sanak keluarga Yusuf) tidak mau menerima mereka karena gosip hamil pra-nikah yang sudah beredar di kalangan keluarga Yusuf. Kedua, karena pemilik rumah ketakutan jika orang-orang lain yang menginap di rumahnya merasa terganggu karena Maria hampir melahirkan. Perlu diingat bahwa orang-orang Yahudi merasa bahwa perempuan yang melahirkan adalah najis, bandingkan Imamat 12:1-5.
Jadi dalam imajinasi saya, terbentang suatu pergumulan batin di dalam diri pemilik penginapan, antara "memelihara tradisi hospitality" dengan "mempertahankan pagar taurat tentang kenajisan", antara "perasaan iba terhadap Maria" dengan "perasaan takut dihakimi oleh tamu yang lain karena tindakkannya".
Pada akhirnya pergumulan batin itu dapat diselesaikan oleh pemilik rumah dengan kemenangan "hospitality".  “Hospitality” menjadi keputusan etis yang diambil oleh tuan rumah saat mereka memberikan ruang bawah tanah bagi Maria dan Yusuf. Secara bentuk ruang, mungkin ruang bawah tanah memang bukanlah ruangan yang terbaik. Namun, pemberian ruangan ini adalah pilihan yang terbijak dari si tuan rumah, baik itu bagi Maria, Yusuf serta tamu-tamunya yang lain.
Melalui rekonstruksi ini, saya terbantu untuk melihat sisi positif dari manusia (baca: tuan rumah). Perlu diakui bahwa kecenderungan atas sifat baik dan buruk itu memang ada di dalam diri manusia. Saya jadi teringat sebuah novel kuno, Jackyll and Hyde, yang menggambarkan bahwa di dalam hidup manusia selalu ada sisi gelap-terang, sifat jahat dan baik. Namun, melalui rekonstruksi ini saya diingatkan bahwa tidak selamanya sisi gelap itu yang selalu menonjol. Saya pernah (dan kadang-kadang masih!) menjadi orang yang sangat curigaan terhadap orang lain dan bersikap skeptis terhadap orang-orang yang sudah saya cap buruk. Saya merasa bahwa tidak ada sisi baik dalam diri mereka. Yeah, itu juga yang menjadi “dosa komunal” gereja selama berabad-abad terhadap pemilik rumah itu. Kita memberikan label buruk sebagai “penolak Kristus yang kejam” kepada si pemilik rumah.  Namun, melalui rekonstruksi terhadap teks ini, saya diingatkan bahwa masih ada sisi baik di dalam diri pemilik rumah, begitu juga dengan orang lain yang selama ini saya sudah berikan cap buruk.  
Sebagai sebuah penutup, saya memohon ampun pada Tuhan karena sering bersikap skeptis terhadap keramah-tamahan Illahi yang tercermin dalam keramah-tamahan insani. Ampuni saya juga karena saya masih suka berpandangan negatif kepada orang-orang tertentu. Saya juga memohon maaf pada mereka yang pernah saya berikan label negatif. Saya percaya, sekalipun di dalam diri manusia ada sisi gelap dan terang serta sejuta pergumulan di dalamnya, Tuhan dapat bekerja untuk memunculkan sisi terang dan mereduksi sisi gelap itu dan menuntun kita untuk mengambil keputusan etis atas setiap pergumulan yang harus kita hadapi. J

Bandung, 20 Desember 2012
YIL

Kamis, 29 November 2012

Resensi: The Lost Girl


Pernahkah Anda mendengar tentang narrative healing? Narrative healing  adalah salah satu cara untuk menyembuhkan luka-luka batin melalui narasi, yakni menceritakan luka-luka itu kepada orang lain dan tidak menyimpannya seorang diri. Narrative healing dapat dilakukan melalui dua bentuk, yakni (1) dengan menuturkan pengalaman keterlukaan kita kepada orang lain dan dengan (2) menuliskan luka-luka kita dalam tulisan.

Bagi saya, metode ini cukup menarik. Biasanya, orang yang terluka cenderung akan menutup rapat lukanya dan tidak bersedia untuk membagikan lukanya pada khalayak ramai. Perasaan malu, tidak mudah percaya dan curiga membuat diri kita enggan untuk bercerita tentang luka batin yang kita alami. Tampakya, mengorek dan menunjukkan luka adalah sesuatu yang menyakitkan, menimbulkan kepedihan di hati. Namun, metode ini ternyata justru menolong orang untuk sembuh dari luka-luka batinnya dengan mengundang setiap orang yang terluka untuk mengakui luka-lukanya.

Saat berkeliling di Perpustakaan Umum Kota Istimewa (Yogyakarta), saya menemukan sebuah buku menarik berisi autobiografi Caroline Roberts, autobiografi seorang korban pelecehan seksual.  Caroline menggunakan metode narrative healing dalam menyembuhkan luka-lukanya. Buku ini sangat inspiratif dan layak untuk dibaca.

Caroline adalah seorang anak yang dilahirkan dari hasil perselingkuhan terselubung antara Eliizabeth Mills dan Michael Mahoney. Saat itu, Elizabeth sudah menikah dengan Albert. Saat Albert mengetahui perselingkuhan istrinya, ia mengusir istrinya dan kedua anak hasil perselingkuhannya. Setelah bercerai, Ellizabeth menikah kembali dengan Alf. Hubungan Alf dengan Caroline tidak baik. Alf dan kakak tirinya sering berlaku kasar pada Caroline. Alf dan kakak tirinya rajin memukuli Caroline dan mengata-ngatainya sebagai anak perempuan nakal. Sungguh malang nasib Caroline, pada usia 6 tahun ia hampir mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki tua yang tidak dikenalnya. Ia selamat dari pelecehan seksual itu, namun ayah tirinya menyalahkan Caroline atas apa yang ia alami.

Caroline bertumbuh menjadi gadis perempuan cantik yang memiliki wajah ganda. Ia tampak riang dan ceria di hadapan orang lain, namun sebenarnya ia sangat rapuh. Kepribadiannya tampak bertolak belakang. Di luar rumah ia menjadi anak yang periang, untuk menutupi kepedihannya.  Namun, di rumahnya ia menjadi anak yang pemberontak dan kasar.

Perjumpaan Caroline dengan Fred dan Rose West serta kecantikannya membuatnya terperangkap dalam “jeratan iblis”. Fred dan Rose adalah pasangan suami istri yang aneh. Mereka memiliki kebiasaan seksual yang aneh. Fred adalah seorang yang memiliki nafsu seksual yang liar dan tak tertahankan. Sementara itu, Rose adalah seorang biseksual. Hasratnya terhadap perempuan muncul saat ia mengandung. Sayangnya, Caroline malang tidak mengetahui kehidupan keluarga ini. Dengan polosnya, ia menerima tawaran Fred dan Rose untuk menjadi pengasuh anak-anak mereka.

Saat Caroline menjadi pengasuh, ia diperkosa oleh Fred dan Rose. Ia semakin memandang rendah dirinya. Citra dirinya hancur. Ia bahkan melakukan usaha bunuh diri. Ia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri. Ia berhasil kabur dari rumah Fred dan Rose, namun Fred dan Rose kembali menculiknya bahkan memperlakukan dirinya dengan lebih kejam. Potret dirinya semakin rusak. Ia sebenarnya hanya ingin dicintai dengan tulus, namun ia tidak merasa pernah mendapatkannya. Tidak ada orang luar yang mengetahui pergumulannya. Ia mengubur lukanya, agar tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Ia terjebak dan terjerat, tak tahu bagaimana cara melepaskan diri.

Singkat cerita, ia berhasil meloloskan diri dan melaporkan kekejaman Fred dan Rose ke polisi. Namun, ia belum memaafkan dirinya. Pengalaman traumatis yang tidak ia selesaikan membuat dirinya menjadi pencemburu. Hubungannya dengan lawan jenis sering menemui kegagalan. Ia berkali-kali pacaran dan putus. Intuisinya yang tajam membuat ia semakin menderita karena ia berkali-kali menyadari bahwa pacarnya hanya memanfaatkannya untuk bercinta dengannya. Pada saat ada orang yang dengan tulus mengasihinya, orang tersebut meninggal pada saat hendak mengunjungi Caroline di hari ulang tahunnya. Pengalaman itu membuat Caroline merasa bahwa dirinya adalah seorang pembawa sial.

Citra diri Caroline menjadi semakin rusak ketika ia memenangkan kontes modeling yang disarankan ibunya. Ibunya berpikir bahwa kepercayaan diri Caroline akan membaik jika ia memenangkan kontes tersebut. Nyatanya, Caroline semakin merasa hancur. Pada saat ia memenangkan kontes tersebut, para wartawan menghancurkan citra dirinya dengan mengkonfirmasi berita pelecehan seksual yang pernah dialaminya dulu. Ia merasa sangat terpuruk dan tidak dapat menolong dirinya sendiri. Ia menjadi orang yang semakin bersifat curiga pada orang lain dan gemar menyakiti orang-orang yang mengasihinya.

Caroline yang terpuruk, perlahan-lahan mulai bangkit setelah dia mengalami pengalaman spiritual di sebuah gereja. Tuhan memulihkan citra dirinya melalui pengalamannya bersama dengan kelompok “lingkaran pengembangan” di gereja itu. Ia menyadari bahwa dirinya berharga. Ia menyadari bahwa masih ada orang-orang yang begitu mengasihinya. Ia pun menyadari bahwa ia tidak sendirian dan ia menerima balutan luka dari Tuhannya.

Caroline memerlukan waktu 10 tahun untuk menuliskan buku ini. Waktu yang tidak singkat. Ia mengatakan bahwa buku ini menjadi terapi baginya, seperti yang kita sebut di atas sebagai narrative healing. Ia sekarang dapat meneruskan hidupnya bersama dengan Tuhan. Ia kini berani mengambil keputusan dalam hidupnya. Trauma dan luka batinnya kini telah sembuh. Tuhan menggunakan gereja dan metode narrative healing untuk menyembuhkan lukanya.

Yogyakarta, 29 November 2012
dalam sebuah permenungan
YIL

KEPUSTAKAAN:
Judul buku: THE LOST GIRL: PENGALAMAN SEORANG KORBAN PELECEHAN SEKSUAL MELAWAN TRAUMA MASA LALUNYA
Penerbit : Gramedia
Penulis : Caroline Roberts
Genre : Autobiografi
Tahun terbit: 2007



Jumat, 23 November 2012

Imajinasi Pelenyap Kesepian




The world’s greatest tragedy is unwantedness,
The world’s greatest disease is loneliness
Mother Teresa


Apa itu kesepian? Kesepian adalah sebuah perasaan mengerikan yang dapat menghancurkan kita. Ya, perasaan ketika kita merasa merindukan sesuatu atau seseorang, namun kita merasa bahwa tidak akan ada orang yang merindukan, memahami dan mempedulikan kita. Namun, kesepian tidak sama dengan kesendirian. Aku senang menyendiri, namun aku tidak merasa sepi. Namun, di tengah keramaian aku dapat merasakan kesepian. Ya, kesepian tidak selalu hadir dalam kondisi sunyi, tanpa suara. Ia dapat mencengkrammu dalam keramaian ketika bising knalpot motor dan mobil menunjukkan kegagahannya. Begitu menyeramkannya cengkraman kesepian ini, sehingga aku pernah merasa bahwa kesepian ini melilit jiwaku. Aku ingin lari, namun tak dapat. Aku mencoba menari dalam keramaian, namun kini yang tertinggal hanya kesepian. Hampa! Maka dari itu, tidak salah jika Bunda Teresa mengatakan bahwa kesepian adalah penyakit terbesar di dunia.
Kesepian dapat dialami oleh siapapun, baik itu orang yang miskin maupun kaya. Kesepian dapat menghinggapi umat maupun para “pemimpin” umat. Dalam jalan yang kutekuni saat ini, aku pernah bertanya pada Tuhan, “Bagaimana aku dapat menemani orang yang kesepian jika aku sendiri kesepian?” Dalam sebuah refleksi imajiner, aku membayangkan sebuah percakapan antara Kristus dan diriku. Kristus tersenyum seraya menjawab pertanyaanku, “Aku juga pernah mengalami kesepian saat bergumul di taman Getsemani, Nak. Saat aku berharap murid-muridku menemaniku, ternyata mereka tertidur.” Aku terisak sambil mengeluh padaNya, “Ya Tuhan, aku pun demikian. Aku pernah merasakan ketiadaan kehadiran orang-orang yang kuharapkan mendukung dan menemaniku pada saat aku terpuruk. Aku kesepian.” Ia tersenyum mengangguk dan aku pun membalas senyumnya dalam imajiku karena Ia lebih dulu merasakan apa yang kurasakan.
Sambil memandang wajahNya, dengan tangan terbuka untuk menanti jawaban aku bertanya, “Tuhan apa yang lakukan kala itu? Kala kesepian mendedahkan kegeramannya di hadapan wajah kita, dapatkah kita sintas ataukah kita menyerah dan terlarut dalam pusaran kesepian? Bagaimanakah aku dapat terbebas dari kesepianku?”
Tiba-tiba aku teringat pada sebuah analisis yang dilakukan oleh Paul Tillich tentang tingkat-tingkat kesepian dalam diri manusia. Pada akhirnya Tillich menyimpulkan bahwa kesepian itu adalah suatu hal yang bersifat eksistensial dalam diri manusia. Kesepian menjadi tanda keterasingan manusia. Manusia teralineasi dari cinta kasih. Bagi Tillich, salah satunya cara untuk mengatasi kesepian adalah dengan merekatkan diri pada Sang Illahi. Manusia tak mampu melepaskan diri dari kesepiannya. Hanya Tuhanlah yang mampu membuatnya merasakan kehangatan, lepas dari kesepiannya.
Kini, kulihat gambaran Kristus yang berdoa dengan darah yang menetes. Kurasakan kelekatan Kristus dengan Bapa-Nya, an invisible person. Pribadi yang tidak terlihat itu merangkul-Nya dan memberikan-Nya kekuatan. Aku mengerti, bahwa doa adalah sebuah media untuk merasakan kehangatan bersama Bapa, sehingga kesepian pun lenyaplah. Ya, dan kini kesepian yang kurasakan pun lenyap bersamaan dengan kalimat penutup sebuah doa dalam rupa imaji bersama Kristus. Kehangatan Kristus melingkupi malam sunyi ini dan kesepian pun lenyaplah…

YIL
saat meninggalkan kesepian menuju kehangatan

Minggu, 21 Oktober 2012

Keluargaku: Inspiratif atau Destruktif?



I.              Beberapa Percikan Peristiwa
Percikan Peristiwa 1
Pada tanggal 27 Februari 2012, Usman, seorang warga di Palembang, ditangkap oleh polisi karena telah membunuh. Yang ia bunuh adalah mertua perempuannya. Ia membacok kepala ibu mertuanya yang sedang tidur dengan menggunakan golok yang dibawanya. Dari hasil pemeriksaan polisi, diketahui bahwa motif pembunuhan yang dilakukan Usman adalah karena dendam kesumat. Usman jengah karena martabatnya direndahkan oleh pihak keluarga istrinya. Berita ini dilansir dari www.indosiar.com.

Percikan Peristiwa 2
Niko Kili-kili, seorang mantan ketua preman yang sempat membuat keributan di Tanah Abang Jakarta, terlahir dari sebuah keluarga broken home. Ayahnya yang adalah seorang pengacara menikah dengan beberapa orang perempuan. Sejak kecil, ayahnya berkata padanya, “Jika kamu masuk penjara karena menghamili anak orang ataupun memakai narkoba, Papa tidak akan melepaskanmu dari penjara. Jika hendak melakukan kejahatan, bunuh saja orang sekalian! Papa akan membelamu dan membebaskanmu dari penjara.” Niko kili-kili tak dapat menemukan keluarga yang inspiratif dalam hidupnya. Saat dewasa, ia membunuh. Ia bermain judi. Ia menjadi pecandu narkoba.  

**************
Saya mengawali tulisan ini dengan kutipan yang sangat destruktif. Memang, tampaknya kutipan ini berada dalam titik ekstrim (baca: keluarga yang hancur dan rapuh). Namun, saya ingin menghindari kesan generalisir. Memang perlu diakui bahwa tidak selamanya hubungan mertua dan menantu yang retak berujung dengan sebuah golok. Tidak selamanya juga, seorang anak yang berasal dari keluarga broken home menjadi anak yang brutal. Namun, melalui percikan-percikan peristiwa ini, saya ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa keluarga tetap memiliki peran yang penting bagi masing-masing anggotanya dalam mengarungi samudera hidup ini.

II.            Pengaruh Keluarga terhadap Kepribadian Anggota Keluarganya
Kontak sosial yang pertama terjadi dalam keluarga. Zdanowics, Pascal dan Reynart (2004) melakukan studi banding terhadap 814 orang remaja yang tidak bermasalah dengan 358 remaja yang mengalami gangguan psikologis dengan menggunakan kuesioner Oslon (kuesioner yang digunakan untuk melihat bagaimana kondisi keluarga seseorang). Dari hasil penelitian itu, diperoleh kesimpulan bahwa remaja yang tidak bermasalah tumbuh di lingkungan keluarga yang adaptif dan memiliki interaksi yang baik. Sementara itu remaja yang mengalami gangguan psikologis tumbuh di lingkungan keluarga yang berantakan (baca: tercerai berai) dan kaku. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keluarga mempunyai peluang untuk menjadi sumber inspirasi atau menjadi sumber destruksi bagi anggotanya.
Dalam Alkitab, kita juga melihat kisah beberapa tokoh Alkitab yang hidupnya berantakan karena kehidupan keluarganya yang tidak memberikan inspirasi. Menurut saya, prahara rumah tangga Daud yang berselingkuh dengan Batsyeba secara tidak langsung memberi dampak pada kehidupan keluarganya. Keluarganya hancur berantakan. Tamar, anak perempuannya diperkosa oleh Amnon, saudaranya sendiri. Selanjutnya Amnon dibunuh oleh Absalom, kakak kandung Tamar.
            Sebaliknya, kita juga dapat menemukan keluarga yang inspiratif dalam kehidupan keluarga Timotius. Ia dididik dalam cinta kasih Kristus oleh ibunya Eunike dan neneknya Louis (2 Timotius 1:5). Keluarga menjadi lokus disemainya benih-benih Injil dalam diri anak. Oleh karena itu, pada saat Timotius dewasa, ia bertumbuh menjadi pemimpin yang teguh dan mengasihi Tuhan.
            Dari pemaparan ini, sudah sangat jelas bahwa kehidupan keluarga kita pun berpengaruh terhadap pertumbuhan psikis dan iman masing-masing anggota keluarga. Pertumbuhan kedewasaan psikis dan iman tidaklah terbatas. Psikis dan iman dapat terus bertumbuh sampai kita berada di dalam titik akhir kehidupan. Pribadi-pribadi yang bertumbuh dalam keluarga yang inspiratif tentu saja akan mewarnai kehidupan di lokus yang lebih luas (baca: gereja dan masyarakat). Hal ini senada dengan apa yang diucapkan oleh Horminghausen dan Enklaar -teolog di bidang pendidikan Kristiani-. Mereka berkata bahwa kehidupan bergereja pun akan semakin sehat jika anggota-anggota jemaat hidup dalam keluarga yang sehat dan inspiratif. Oleh karena itu, marilah kita membangun keluarga Kristen yang inspiratif dan bukan keluarga yang destruktif! Pertanyaannya bagaimana membangun iklim keluarga yang inspiratif?

III.           Keluarga yang Inspiratif:
Menjadikan Tuhan sebagai Dasar keluarga
Keluarga Kristen harusnya menjadi gambaran dari keluarga Allah. Peristiwa kehadiran Yesus dalam perkawinan di Kana menunjukkan kepedulian Allah terhadap keluarga. Keluarga Kristen harus membangun dasar kehidupan berkeluarganya di atas dasar Kristus. Keluarga yang berjangkar pada Kristus menjadikan kehidupan Kristus sebagai teladan bagi keluarga kita untuk mengarungi hidup ini. Setiap anggota keluarga meneladani kasihNya, kerelaanNya untuk berkorban, kesetiaanNya, ketulusanNya dan perhatianNya. Sebaliknya, jika kita membangun kehidupan keluarga di atas hasrat keegoisan masing-masing anggota keluarganya, maka kita sedang membangun di atas pasir yang rapuh, dan bukan di atas batu karang (band. Mat 7:24-27).
Membangun di atas batu karang berarti menjadikan Kristus sebagai fondasi bagi kehidupan keluarga. Hal ini bukan berarti bahwa tidak akan ada badai hidup yang menimpa keluarga kita. Badai hidup, masalah, dan godaan akan tetap ada. Namun, cara menghadapi badai pada keluarga yang membangun dasarnya di atas Kristus tentunya akan berbeda dengan cara menghadapi badai pada keluarga yang membangun dasarnya di atas pasir. Keluarga yang berakar pada Kristus akan menjadikan Kristus sebagai sumber pertolongan dan kekuatan. Keluarga yang berakar pada Kristus akan mencari solusi yang sejalan dengan kehendakNya.

Mempererat komunikasi di antara anggota keluarga
Ada banyak kesalah-pahaman yang terjadi di dalam keluarga. Suami merasa istri hanya mementingkan dirinya, demikian sebaliknya. Anak-anak merasa orang tua tidak mengerti harapannya, demikian sebaliknya. Padahal, di dalam hati masing-masing anggota keluarga, ada benih-benih kasih untuk saling memperhatikan. Namun, yang sering terjadi adalah perhatianku untukmu tidak dimengerti sebagai pengertian olehmu, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, dalam kehidupan berkeluarga kita perlu mengubah persepsi kita. Berpikirlah untuk keutuhan dan kebahagiaan seluruh anggota keluarga.
Kesalah-pahaman ini sering terjadi karena kurangnya komunikasi. Pada saat ini, kehidupan keluarga Kristen sudah dirasuki oleh perkembangan teknologi yang menyuburkan individualisme. Setiap makan di rumah makan, saya sering memperhatikan pola komunikasi di antara keluarga-keluarga yang makan bersama. Mereka memang duduk dalam satu meja makan. Namun, mereka memiliki dunia yang berlainan. Masing-masing sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. Tidak ada percakapan di antara anggota keluarga itu. Mereka tersenyum atau cemberut sendiri, sambil menatap telepon genggam. 
Pola komunikasi yang seperti ini membuat jarak yang dekat pun menjadi semakin jauh. Anak dan orang tua menjadi orang asing yang tidak saling mengenal dengan baik. Tidak ada kehangatan dalam keluarga. Akibatnya, kesalah-pahaman pun sering terjadi. Saya berpendapat bahwa setiap keluarga harus membuat perjanjian bersama untuk saling memperhatikan keberadaan masing-masing, serta menyimpan telepon genggam pada saat kebersamaan keluarga. Masing-masing keluarga juga perlu mengadakan persekutuan doa keluarga, walaupun persekutuan doa sangat sulit untuk dilakukan mengingat kesibukan masing-masing anggota keluarga dalam kehidupan keluarga di kota besar.


IV.          Ah, keluargaku sudah terlanjur kacau!
Jika memang pada saat ini kehidupan keluarga kita berada dalam titik rapuh dan menjurus ke arah destruksi, bukan tidak mungkin kita mengolah sesuatu yang destruktif menjadi inspiratif. Selalu ada harapan di dalam kekelaman. Niko Kili-Kili, dalam Percikan Peristiwa ke-2 pada  bagian tulisan di awal tadi pun akhirnya dapat bertobat dan mengampuni ayahnya. Hidupnya dipulihkan. Ia membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan. Ia bertobat dan ia berubah menjadi seseorang yang begitu mencintai istrinya. Ia tidak mau istrinya merasakan apa yang dialami oleh ibunya dulu. Selalu saja ada harapan untuk memutuskan rantai destruktif yang sudah membelit keluarga kita.
Di dalam Alkitab, kita dapat menjumpai banyak tokoh yang akhirnya dapat berdamai dengan pengalaman pahit di dalam keluarganya. Esau dan Yakub yang hidup dalam ketegangan karena favoritisme yang dilakukan oleh orang tuanya pun pada akhirnya dapat berdamai kembali. Tuhan meretas cinta kasih yang melunturkan kemarahan di dalam dua saudara ini. Mereka berdua pun akhirnya dapat berdamai. Mereka berpelukan, bertangis-tangisan dan bercium-ciuman (Kejadian 33:4). Kisah perdamaian antara Esau dan Yakub ini tentunya dapat menjadi inspirasi bagi keluarga yang berada di ambang kehancuran, untuk kembali lagi merekatkan bejana yang retak.

Selamat mengusahakan keluarga yang inspiratif. Di dalam Kristus selalu ada harapan untuk mengubah keluarga yang destruktif menjadi inspiratif.

YIL