Minggu, 14 Juli 2013

Peduli Sesama (dalam rangka bulan anak)


Teks dari: Lukas 11:1-13


Biasanya, kalau membaca perikop tentang hal berdoa, mata kita selalu tertuju pada ayat ini. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Lukas 11:9) Penafsiran yang dominan adalah perihal permohonan pribadi pada Tuhan. Ketika berada dalam pergumulan, tak henti-hentinya kita berdoa meminta pertolongan pada Tuhan dengan tekun dan gigih. Kita yakin bahwa ketika kita mengetuk terus-menerus, maka Tuhan akan membukakan pintu.
Sebenarnya, perikop ini dapat dibaca dari sisi yang lain. Oleh karena itu, saya tidak akan membahas perihal kegigihan dalam berdoa. Saya justru ingin mengajak saudara-saudara sekalian untuk melihat sisi lain dari perikop tentang doa ini. Perikop tentang doa ini juga mengajarkan tentang kita tentang KEPEDULIAN. Ada tiga hal yang menunjukkan dimensi kepedulian dalam teks ini
1.            Dimensi kepedulian yang pertama
Kalau kita memerhatikan ayat yang ke-13, dikatakan “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya”. Kalimat ini berbeda dengan kalimat doa bapa kami dalam injil Matius. Dalam Injil Matius dikatakan, “Berikanlah kami hari ini makanan kami yang secukupnya.” Perbedaannya adalah pada setiap hari dan hari ini. Mengapa penulis Lukas menulis setiap hari? Karena pada konteks zaman ketika Lukas menulis injilnya banyak orang yang menderita kelaparan. Lukas menulis teks ini dengan penuh keprihatinan sambil membayangkan betapa beratnya beban hidup mereka. Jangankan untuk makan esok hari, makan untuk hari ini saja entah dari mana. Mereka hidup dari hari ke hari tanpa jaminan apapun, tanpa asuransi.
Saudara-saudara yang terkasih, dari Lukas sebenarnya kita dapat belajar bahwa kepedulian diawali dengan sikap mau merasakan bagaimana penderitaan orang lain. Dalam bahasa Inggris kata peduli adalah care. Care ini berasal dari bahasa Gothic, yaitu Kara, yang berarti meratap bersama-sama, merasakan penderitaan dan menangis bersama.
Dari konteks kepedulian Lukas dan dari definisi ini saya tersadar akan kekeliruan yang seringkali kita pahami. Seringkali kita memandang bahwa kepedulian adalah sebuah sikap dari yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah. Dari yang lebih punya kuasa terhadap yang kurang berkuasa. Misalnya saja, ketika ada orang yang kecelakaan di jalan, ada di antara kita mungkin yang merasa enggan menolong karena takut disangka penabrak lah, dll.
Namun, kepedulian melampaui batasan kuat-lemah itu. Dalam definisi tadi ada kata “with” atau kata “bersama” yang ditekankan. Ini berarti kita berada setara dengan orang yang perlu kita pedulikan. Kesetaraan membuat kita untuk melihat apa yang dilihat oleh orang lain dengan berada di dalam posisi mereka. Ibaratnya, kita duduk di kursi berhadap-hadapan dengan orang lain, apakah kita dapat melihat yang ia lihat? Tentu tidak! Sebaliknya, ketika kita berpindah posisi, dari berhadapan menjadi sejajar, kita akan melihat apa yang menjadi keprihatinannya. Demikian pula dengan kepedulian. Kepedulian diawali ketika kita mau merasakan apa yang ia rasakan.
Saya belajar peduli justru dari anak-anak. Pada saat camp anak kemarin, ada seorang anak yang menangis. Yang menarik, ketika melihat temannya menangis, teman-temannya langsung datang dang menghampiri dia. Ada yang membawakan temannya kue, ada yang membawakan temannya snack. Ada yang menemani sambil bertanya, “Kamu kenapa sedih? Aku temani ya.” Anak-anak dengan sangat polos dan lugu punya kesediaan untuk merasakan penderitaan orang lain.

2.    Dimensi kepedulian yang kedua
Saudara-saudara, Allah digambarkan sebagai pribadi yang melampaui orang yang membuka pintunya dengan terpaksa. Allah adalah Allah pribadi yang penuh kasih. Ia selalu sigap mendengarkan orang-orang yang meminta pertolongan dalam doanya. Ini berarti kepedulian, salah satunya diwujudnyatakan dalam sikap siap untuk mendengarkan, sama seperti Allah yang selalu sigap mendengarkan kita. Jika Allah adalah pribadi yang selalu mendengarkan kita, dalam kerangka “imitation Dei” alias “mengikuti jejak Allah” kita pun perlu menjadi orang yang sigap mendengarkan. Ini berarti dimensi kepedulian yang kedua adalah siap mendengarkan.
Pada suatu saat, Henry Nouwen pernah ditanya, “Siapakah teman yang paling peduli dalam hidup Anda? Henri Nouwen mengatakan bahwa jawabannya bukanlah orang yang banyak memberikan masukan, saran atau solusi. Orang yang paling peduli adalah orang yang ada bersama-sama dengan kita pada saat-saat kita berada di dalam pergumulan, yang dapat memahami beban kita. Orang yang mau mendengarkan kita menangis, bahkan tanpa berbicara apapun juga. Cukup hanya dengan berbicara, aku berada di sampingmu.
Saudara-saudara, dalam bulan anak ini, mari kita memeriksa kepedulian kita kepada anak-anak. Bagi yang sudah berkeluarga, pertanyaannya adalah apakah kita sudah menjadi orang tua yang peduli kepada anak? Kepedulian bukan sekadar memberikan keperluan fisik anak-anak, seperti makanan dll. Kepedulian juga adalah memberikan keperluan psikis dan spiritual bagi anak, yakni mendengarkan pergumulan mereka. Dalam camp anak yang lalu, dilakukan acara “survey” pada anak-anak. Anak-anak diminta untuk menceritakan pengalaman mereka apakah mereka pernah mengalami bullying dan menceritakan perasaan mereka. Dari 104 anak yang ikut, 28 anak sering mengalami bullying. 64 anak kadang-kadang. 9 orang tidak pernah.
Ketika diminta mengungkapkan perasaannya mereka rata-rata merasa sedih karena ada yang pernah dikata-katai, dipukul, ditendang, dikucilkan teman sekelasnya dan bahkan dibuka roknya di depan teman laki-lakinya. Apakah Anda sebagai orang tua tahu? Seberapa care kita pada anak-anak? Bagi yang berkeluarga dan memiliki anak-anak, adakah quality time di dalam keluarga, untuk secara khusus mendengarkan pergumulan mereka?

3.  Dimensi kepedulian yang ketiga
Dimensi kepedulian yang ketiga ditemukan dalam perumpamaan tamu yang datang di malam hari. Saudara-saudara, pada abad pertama, orang Yahudi sangat menjunjung tinggi hospitalitas. Tuan rumah harus menghidangkan tiga buah roti untuk para tamu yang datang ke rumah mereka, bahkan ketika mereka tiba pada tengah malam sekalipun. Ada kalanya sang empunya rumah kehabisan roti, sehingga mereka harus meminta pada tentangga mereka.
Tetangga tersebut harus membukakan pintunya dan memberikan roti, walaupun itu tengah malam sekalipun. Perlu diakui bahawa sebagian memberikan roti mereka dengan tulus, namun ada juga tetangga yang terpaksa memberikan karena mereka takut kehilangan nama baik di kampungnya jika tidak memberikannya.
Terlepas dari berbagai kecenderungan tersebut, kita melihat bahwa kepedulian bukanlah sekadar hal yang personal. Kepedulian adalah sebuah tindakkan membangun jejaring. Ada kalanya kita merasakan penderitaan orang lain, tapi kita tidak tahu harus bagaimana membantunya. Namun, orang lain tahu bagaimana membantunya. Sama seperti orang yang harus menerima orang lain, namun ia tidak punya roti tersebut. Ia meminta tolong lagi kepada orang lain untuk memberikan roti bagi si pendatang.

Penutup
Dalam budaya Yahudi, mereka tidak asal mengetuk pintu rumah orang lain. Mereka mengetuk orang yang mempunyai persediaan roti segar karena pada saat itu para ibu di Palestina tahu siapa tetangganya yang memiliki roti. Mereka hanya membuat roti sekali seminggu. Anda pasti pernah menjumpai orang-orang yang berharap mendapatkan kepedulian dari Anda. Mereka yang perlu dipedulikan adalah orang-orang yang tahu siapa kita dan berharap kita menunjukkan kepedulian pada mereka. Pertanyaannya, apakah kita mau menunjukkan kepedulian kita pada mereka dengan menempatkan diri kita pada posisi mereka, mendengarkan mereka dan dengan sigap mebuat koneksi untuk menolong, seperti yang telah diteladankan oleh Allah yang senantiasa membukakan pintu bagi kita yang mengetuk kepada-Nya? Amin J

Jakarta, 14 Juli 2013
16.00 WIB
YIL

Kamis, 27 Juni 2013

MARI “MENGACAUKAN BAHASA”!



Dalam gereja, ada berbagai macam kelompok mulai dari kategori usia, hobby hingga corak spiritualitas. Semuanya memang harus diwadahi dan mendapatkan ruang di dalam gereja. Biasanya, orang-orang yang sudah merasakan zona nyaman di kelompoknya, akan terus hadir untuk mengikuti setiap kegiatan di kelompoknya. Misalnya saja saya memerhatikan bahwa orang-orang yang datang ke kelompok meditasi adalah orang-orang yang sudah nyaman. Guru-guru Sekolah Minggu yang sangat setia berpuluh-puluh tahun mengajar di Sekolah Minggu dan disebut sebagai kakak. Pengurus komisi-komisi yang sudah sangat solid. Ini hanyalah sebagian contoh kecil, ada banyak contoh lainnya di dalam gereja yang dapat kita perhatikan.
Di satu sisi, kedekatan ini baik karena mereka memiliki ruang nyaman di dalam komunitasnya. Gereja menjadi rumah kedua, di mana mereka selalu nyaman untuk datang dan berbagi. Ada sukacita ketika berjumpa rekan-rekan dalam komunitasnya di dalam zona nyaman dan hangat. Di sisi lain, kedekatan ini dapat menjadi berbahaya ketika kedekatan ini tidak dikelola dengan baik dan berujung pada eksklusivisme. Virus eksklusivisme dapat membuat manusia menjadi sangat solid dalam kelompoknya, namun menjadi asing bagi orang atau kelompok lain.
Ketika merenungkan virus eksklusivisme yang berpotensi memecah gereja menjadi gereja-gereja kecil yang terpisah dan tidak terkoneksi satu sama lain, saya teringat dengan kisah penduduk yang membangun kota dan menara Babel. Kisah ini menjadi inspirasi bagi saya dalam memikirkan kondisi yang berpotensi (ataupun sudah)  menjadi masalah. Sebagai intermezo, saya sengaja tidak menggunakan frasa “menara Babel” untuk menghindari kelirumologi pemahaman bahwa TUHAN menghancurkan menara Babel.
Ada banyak orang yang menafsirkan tindakkan Tuhan mengacaukan bahasa penduduk Babel sebagai sebuah tindakkan penghukuman untuk menentang kesombongan dan arogansi penduduk Babel. Terlepas dari pengetahuan bahwa kisah ini adalah mitologi atau tidak, saya melihatnya sebagai hal yang lain. Menurut saya, tidak ada indikasi kesombongan dalam kalimat yang diucapkan manusia di ayat ke-3. Pertanyaan yang muncul dalam diri saya adalah, “Bukankah cita-cita manusia di Babel itu ingin bersatu supaya mereka tidak terserak di bumi? Lalu mengapa TUHAN menentang rencana untuk bersatu ini dan justru menyerakkan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka? Apakah TUHAN menggunakan politik devide et impera?”
Dengan mengacu pada beberapa sumber tafsir, saya melihat tindakkan TUHAN ini sebagai tindakkan untuk mencegah dan meminimalisir kecenderungan ekslusivitas manusia yang lahir dari kelompok yang terlalu solid sehingga menjadi rigid. Bila kita memerhatikan, mitologi ini berasal dari Mesopotamia, bukan Palestina. Bisa jadi mereka belum berjumpa dengan kelompok lain. Apalagi, kalau kita memerhatikan perikop sebelumnya di pasal 10 yang berasal dari sumber yang berbeda dengan sumber kisah mitologi Babel, di ayat 5 dikatakan bahwa “keturunan Yafet masing-masing di tanahnya, dengan bahasanya sendiri, menurut kaum dan bangsa mereka.” Dalam konteks Mitologi sekalipun, sudah ada bangsa lain yang berbeda bahasa. Saya rasa, perjumpaan penduduk Babel yang diserakkan TUHAN dengan bangsa lain akan menimbulkan kesulitan dan kebahagiaan sendiri sebagai pengalaman perjumpaan dengan mereka yang berbeda. Mereka akan berjumpa dengan orang-orang lain setelah terserak ke bumi, walaupun kota itu berhenti dibangun. Mereka akan belajar  bergaul dalam keberagaman dan menikmati keindahannya, di luar kelompoknya yang mempunya tendensi untuk menjadi eksklusif.
 Kembali pada pergumulan “gereja-gereja kecil yang terpisah” itu, saya menjadi berpikir. Apakah kita perlu mengikuti teladan TUHAN untuk “mengacaukan bahasa”?
Dalam pengamatan saya, kelompok yang sudah solid memiliki bahasa kelompoknya sendiri yang mungkin tidak dipahami oleh orang lain atau kelompok lain. Yang paling mudah untuk diamati adalah pada remaja. Sebuah geng anak remaja memiliki bahasa simbolik sendiri yang tidak dipahami oleh kelompok lainnya. Ambil contoh, ketika saya praktik di salah satu gereja, ada sekelompok anak perempuan yang kalau bertemu bersama-sama menunjukkan symbol huruf L dan A melalui jari-jari tangan mereka. Saya terheran-heran apa itu “L A”? Apakah Los Angeles? Saya bertanya kepada mereka. Ternyata L A adalah singkatan dari Labil Alay, nama kelompok mereka.
Bahasa-bahasa kelompok ini tidak hanya dimiliki oleh kelompok remaja saja. Orang dewasa pun memilikinya dalam bentuk yang berbeda tentunya. Pada suatu kali, saya menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan salah seorang anggota pengurus wilayah. Saya bertanya, “Dari pengalaman Anda, menurut Anda mengapa orang enggan datang ke kegiatan yang dirancang wilayah?” Dia menceritakan pengalamannya. Dia mengaku bahwa dia belum lama tergabung menjadi pengurus wilayah. Awalnya, ia merasa tidak nyaman ketika masuk ke wilayah tersebut. Menurutnya, pengurusnya sibuk dengan percakapan dengan menggunakan bahasa di komunitasnya yang ia tidak pahami. Ia tidak nyaman. Menurutnya, hal ini juga yang dirasakan oleh anggota wilayah yang lain yang pertama kali datang. Dampaknya ada orang yang tidak merasa nyaman dan tidak mau lagi datang ke kegiatan wilayah. Namun, pribadinya yang cuek dan ingin melayani Tuhan membuat ia pun mencoba memahami bahasa kelompok tersebut.
Tidak semua orang seperti orang tersebut. Ada orang yang justru akan mundur setelah merasakan ketidaknyamanan itu. Oleh karena itu, saya terus bertanya, “Apakah kita perlu mengacaukan bahasa komunitas yang sudah solid?” Mungkin tidak seekstrim itu. Namun, rasanya perlu ada pembekalan bagi kelompok-kelompok yang sudah solid untuk “mengacaukan bahasa kelompok mereka sendiri” ketika berjumpa dengan pendatang yang baru dan komunitas di luar komunitasnya.
Bentuk konkret yang pertama adalah dengan melakukan pembinaan untuk berbahasa dengan “bahasa” yang digunakan oleh orang baru. Bukan mereka yang dipaksakan untuk memahami “bahasa komunitas” itu, tetapi kita lah yang menjemput bola untuk “memahami bahasa” mereka yang baru datang. Bukankah kita pun akan diperkaya dengan “bahasa” mereka yang baru datang? Bentuk konkret yang kedua adalah dengan membuat kelompok yang solid menjadi terserak dan berjumpa dengan kelompok lainnya. Beragam bentuk kebersamaan dapat digunakan untuk memfasilitasi proses “penyerakan” ini. Dengan penyerakan, kita akan berjumpa dengan kelompok lain sehingga kita merasakan kebahagiaan dalam perjumpaan dengan orang yang berbeda.
Mungkin dengan “mengacaukan bahasa” setiap kelompok yang bertendensi untuk menjadi eksklusif, orang yang baru datang tidak akan merasa menjadi orang asing di tengah bahasa yang tidak mereka mengerti. Mungkin dengan “mengacaukan bahasa” kelompok yang bertendensi menjadi eksklusif akan merasakan indahnya keberagaman untuk berbahasa dengan orang yang baru dan kelompok yang baru, tanpa harus meninggalkan kelompoknya yang lama. Mari kita “mengacaukan bahasa” bersama TUHAN!




 Jakarta, 28 Juni 2013
YIL

Minggu, 12 Mei 2013

Thank You Power



Disarikan dari buku : Thank You Power
Penulis : Deborah Norville
Penerbit : Libri
Tahun terbit : 2008

Hasil survey National Opinion Research Centre, University of Chicago menunjukkan bahwa orang yang memiliki harta kekayaan banyak belum tentu bahagia. Dalam 50 tahun terakhir, di Amerika keluarga dengan tingkat ekonomi menengah menggunakan mobil yang lebih mewah dan memiliki rumah yang bagus. Namun, orang Amerika yang mengatakan bahwa mereka sangat bahagia menurun dari 35% menjadi 30%. Faktanya, walaupun tingkat ekonomi membaik, tetap saja terjadi perceraian, bunuh diri dan depresi. Hal ini terjadi karena kurangnya rasa syukur.
Selanjutnya, jemaat diajak untuk mengisi Daftar Pertanyaan Rasa Syukur untuk mengetahui tingkat rasa syukur jemaat.

Dampak dari Thank You
Dampak dari Thank You diteliti dari sebuah riset. Dalam riset itu ada tiga kelompok sukarelawan. Kelompok A berfokus pada hal-hal yang menjengkelkan atau mengganggu dalam kehidupan sehari-hari, seperti sakit gigi, aki motor mati, kopi tumpah, dll. Kelompok B berfokus pada hal-hal yang dapat disyukuri. Misalnya, walaupun sakit kaki, mata saya masih berfungsi, cuaca hari ini bersahabat, dll. Kelompok C harus mengingat kejadian yang biasa-biasa saja. Misalnya, saya telah membersihkan lemari, dll. Selanjutnya para peserta diminta untuk menuliskan perasaan mereka. Mereka juga ditanya pertanyaan spesifik seputar gaya hidup. Misalnya, berapa banyak waktu yang digunakan untuk berolah raga? Apakah Anda menderita sakit? Ternyata, dari hasil riset tersebut kelompok B menghasilkan dampak yang lebih positif ketimbang kelompok A dan C.
1. Bagi diri sendiri:
• dampak secara psikis
Orang yang bersyukur akan lebih gembira, lebih optimis, tidak mengalami depresi, tidak khawatir.
• dampak secara medis
Orang yang bersyukur akan lebih sehat dan tidurnya lebih nyenyak. Dalam ilmu kedokteran dikatakan bahwa rasa syukur merangsang Dopamine (cairan kimia di otak yang berhubungan dengan saraf rasa senang) yang membuat daya tahan tubuh meningkat.
• Kita dapat berpikir think outside of the box (kreatif)
• memulihkan trauma (menemukan hal-hal positif dari luka batin)
• Orang yang bersyukur tidak akan dihancurkan oleh krisis. Kuasa ketabahan menemukan nilai positif dalam krisis
2. Bagi orang lain:
• orang lain akan nyaman bergaul dengan kita.
“Jika anda memakan rebung, jangan lupa berterima kasih kepada penanamnya.”

Cara untuk Berterima Kasih
• Memfokuskan diri pada hari esok, bukan pada hal-hal kecil yang membuat kita tidak bisa bersungut-sungut
• Misalnya, ada perkataan dari keluarga yang tidak mengenakan di hati kita saat sarapan, namun apakah hal itu mempengaruhi seluruh hari kita? Apakah sepanjang hari kita akan mengomel, lesu, marah dan mengamuk pada orang yang seharusnya tidak terkena omelan kita?
• Membuat daftar penyertaan Tuhan, ketimbang membuat daftar keluhan. C.S Lewis mengatakan bahwa sebuah kesenangan bertumbuh sepenuhnya ketika diingat.
• Melihat hal-hal positif dalam setiap masalah yang buruk
• Merefleksikan dan menuliskan refleksi tersebut
• Mengatakan terima kasih pada Tuhan, sesama, dan seluruh ciptaan dengan penuh KETULUSAN

Jakarta, 11 Mei 2013
YIL

Spiritualitas Dalam Rapat (1): Si Pembidik

Saya suka memerhatikan toko makanan yang menjajakan kuenya dengan sangat apik. Kue-kue dipajang di etalase kaca dengan penataan yang apik. Sebagian datang ke sana untuk mencari makanan yang ia perlukan. Sementara itu, sebagian pengunjung lainnya memasuki toko itu karena tertarik dengan keindahan kue-kue yang dijajakannya. Namun, banyak pengunjung tidak tahu bagaimana dapur yang ada di sudut belakang toko kue itu. Mungkin saja, ada toko yang dapurnya rapi. Namun, ada juga toko yang dapurnya berantakan. Ada banyak tikus yang berkeliaran. Ada banyak kotoran binatang terselip di antara panggangan kue. Sayangnya, pengunjung tidak ada yang tahu. Yang tahu hanyalah si pemilik dan para pegawai di toko itu. Atau, si pengunjung yang kebelet dan menumpang ke toilet.
Saya mengibaratkan gereja seumpama toko makanan yang “cantik” tersebut. Tentu saja, pengibaratan ini masih dapat dikritisi.  Sebagian umat yang tidak terlalu aktif, dapat diibaratkan seperti pengunjung toko yang hanya melihat display kue-kue menarik yang ada di etalase toko. Sebaliknya, para pengurus dan anggota majelis jemaat adalah orang-orang yang mengetahui kondisi dapur gereja. Setidaknya, pengalaman inilah yang saya rasakan saat saya menjadi simpatisan pada saat remaja dulu. Orang di gereja tampak ramah dan suka tersenyum. Setiap hari Minggu, saya mendapat sapaan dari mereka. Saya tidak mengetahui –atau bahkan belum mau tahu-- kondisi dapur gereja.
Saya mulai menjumpai “dapur” toko yang berdebu, kotor dan penuh tikus sekitar 7 tahun lalu, yakni sejak saya memasuki dunia pelayanan gerejawi. Dapur yang berantakan ini saya jumpai ketika saya mengikuti rapat. Oleh karena itu, tulisan ini dibuat dalam rangka merefleksikan spiritualitas dapur gerejawi  yang berantakan. Saya akan menuliskannya dalam empat seri (atau mungkin lebih). Ya, semoga saja saya konsisten dengan niat ini. Hehehehe….
 Spiritualitas seseorang tampak jelas ketika ia mengikuti rapat. Setidaknya ada berbagai tipe orang dalam rapat itu. Ada orang yang gemar mencari kesalahan seseorang ketika mereka menjumpai masalah di dalam rapat. Itu. Saya menyebutnya dengan sebutan si pembidik. Ada orang yang diam, tak bergeming walaupun keputusan yang diambil bertentangan dengan nilai-nilai yang Tuhan ajarkan. Saya menyebutnya dengan sebutan si kura-kura dalam perahu. Ada juga orang yang mendominasi pembicaraan dan ingin agar keinginannya dipenuhi. Saya menyebutnya dengan si pemangsa. Ada juga orang yang tidak konsisten dalam berkata-kata. Saya menyebutnya dengan istilah si lidah ganda. Dalam tulisan bagian pertama ini, saya hanya akan merefleksikan spiritulitas si pembidik.
Si pembidik, selalu muncul dalam setiap rapat, khusunya ketika ada sebuah permasalahan yang menyangkut kehidupan bergereja. Misalnya saja, di sebuah gereja pernah terjadi perdebatan mengenai pemakaian alat band. Remaja dan pemuda menginginkan adanya ruang dalam mengembangkan kreatifitas dalam musik di ibadah Minggu. Mereka menginginkan penggunaan alat band dan lagu-lagu kontemporer. Namun, ketika Majelis Jemaat mengadakan persidangan, mereka langsung menentang pemakaian alat band dan lagu kontemporer. Bagi majelis jemaat, hanya ada satu alat musik yang dapat digunakan yakni piano. Mereka berasumsi bahwa remaja dan pemuda ingin meninggalkan warisan tradisi musik gereja mereka. Tidak hanya itu, dalam rapat itu terjadi proses pencarian “siapa yang salah”. Mereka mulai mencari siapa yang salah. Mereka mulai menyalahkan penatua pendamping pemuda remaja hingga pendeta yang dianggap tidak dapat mendidik remaja.
Sayang sekali, poin utama dalam permohonan remaja ini tidak ditangkap. Persoalannya bukan semerta-merta bahwa remaja dan pemuda ingin meninggalkan warisan tradisi musik gerejawi dari gereja ini. Mereka hanya memerlukan ruang untuk mengembangkan kreativitas musik gereja. Padahal, soal kreativitas adalah hal yang luas. Dalam pemikiran saya, lebih baik mereka mencari solusi yang terbaik, ketimbang mencari siapa yang salah dan buru-buru mengatakan tidak. Tokh, pengembangan kreativitas juga dapat dikembangkan melalui musik etnik maupun kontemporer. Justru semangat ini harusnya ditangkap dan difasilitasi. Mengapa mereka tidak memfasilitasinya dengan menyediakan pelatih musik gereja yang handal? Mengapa hanya berkutat pada persoalan bidik membidik siapa yang salah.
Menurut saya, “roh pembidik” ini muncul karena sebuah keyakinan bahwa diri sendiri lebih baik daripada orang lain. Ada roh kesombongan yang menempel pada orang-orang yang saya sebut sebagai pembidik. Oh, kondisi ini sungguh menyedihkan! Di luar “toko” ini tampak rapi dan cantik, namun “dapur”nya dipenuhi keangkuhan hati yang semakin membusuk. Inilah wajah “toko” itu yang sesungguhnya. Inilah wajah gereja yang angkuh namun rapuh.
Diana Butler Bass dalam Practicing Theology mengatakan bahwa sikap "membidik" siapa yang bersalah adalah sebuah kegagalan dalam gereja untuk mengenali hal yang nyata dari konflik tersebut: “What if no one can be blamed? What if no one is at fault?” Banyak ketegangan dan konflik bukan terjadi karena orang-orang yang ada di dalam komunitas itu sendiri, melainkan terjadi sebagai hasil dari reaksi dan respons institusi terhadap perubahan budaya dan sosial --trend, ide, dan praktik di luar “gedung gereja”-- yang telah mempengaruhi kehidupan manusia. Tidak ada yang harus disalahkan karena perubahan kultur global ini bukanlah kesalahan siapa-siapa.
Kecenderungan mencari yang salah ini juga dijumpai ketika Yesus bercakap dengan murid-murid-Nya dalam Yohanes 9. Para murid-Nya mempertanyakan tentang siapa yang salah sehingga ada orang yang buta sejak lahirnya. Apakah dirinya sendiri? Ataukah orang tuanya? Pertanyaan ini muncul karena para murid merasa diri mereka sempurna dan tidak memiliki dosa. Belum lagi, dalam pemahaman yang berkembang pada saat itu, dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kebutuhan khusus sejak lahirnya adalah orang yang berdosa.
Bagi saya, jawaban Yesus adalah jawaban yang out of the box. Ia tidak terjebak untuk menyalahkan seseorang. Jawaban-Nya adalah jawaban yang menyejahterakan dan membuat kita berpikir melampaui para pembidik ulung. Ia berkata bahwa apa yang diderita oleh orang tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan siapapun, melainkan supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam diri si buta tersebut. Bukankah kita dapat merasakan nuansa positif dalam jawaban Yesus?
Seandainya, di dalam rapat maupun persidangan gerejawi para pembidik itu berpikir seperti Yesus, tentu saja tidak akan ada orang-orang yang terluka karena disudutkan. Seandainya para pembidik mau belajar dari Yesus, tentu saja gereja akan mengalami pembangunan jemaat dengan lebih pesat. Apa sich keuntungan dari menyalahkan orang? Mungkin saja, keuntungannya hanya pada kepuasan sesaat. Ah, entah dari mana budaya busuk saling menyalahkan ini tumbuh dan berkembang!

Tuhan kita tidak mengajarkan kita untuk saling menyalahkan. Menjadi pengikut Kristus berarti harus bersedia menanggalkan roh keangkuhan kita yang membakukan kita untuk menjadi si pembidik. Menjadi pengikut Kristus berarti harus berani berpikir di luar kotak dan melihat peluang perbaikan dari segenap masalah. Mari membenahi “dapur” gereja! Ya, tindakan membenahi itu dimulai dari mengubah diri kita dari si pembidik menjadi si pencari solusi. J

Jakarta, 12 Mei 2013
YIL