Senin, 18 April 2016

Tentang Kehidupan

Kadang rindu menggelayut
Kadang luka menghampar
Kadang cinta merintih

Menanti sapaan
Merindu pelukan
Menyayat hati

Melepas asa
Mengusap air mata
Mengulum sepi



Kamis, 14 April 2016

Syalom bagi Orang-orang yang Hidup dalam Trauma: Diberikan cuma-cuma atau Diusahakan?


Tubuh perempuan berusia 33 tahun itu tiba-tiba berguncang. Keringat sebesar biji jagung mengalir deras dari pelipisnya. Ia mengambil tas gendongnya dan memeluknya erat-erat. Tangan dan kakinya gemetar. Teman-temannya yang hendak menonton di bioskop bersamanya hanya terheran-heran melihat keanehan tingkahnya. Kejadian itu terjadi tiba-tiba saja, ketika ada seorang laki-laki dewasa lewat di depan segerombolan perempuan yang sedang duduk-duduk menunggu pintu bioskop dibuka. Setelah agak tenang, perempuan bermata sipit itu menggigit bibirnya lalu berbisik perlahan kepada rekannya, “Laki-laki itu mirip dengan orang yang menjarah rumahku pada Mei 1998.”

 

Kisah itu adalah sepenggal kisah perjumpaan imajiner dengan seseorang yang mengalami trauma. Tentu saja, kisah imajiner ini bukan kisah sebenarnya, namun merupakan penyamaran dan sari-sari utama dari kejadian sebenarnya. Perempuan muda itu hidup dalam trauma. Trauma bukan sekadar luka fisik. Trauma adalah luka batin. Bagi orang yang trauma, ia tidak tinggal dalam dimensi masa kini, apalagi masa depan. Orang yang trauma tinggal dalam dimensi masa lalu dan tak dapat beranjak daripadanya. Bagi orang yang hidup dalam trauma terjadi pergeseran dimensi waktu. Yesterday is present because trauma is present! Hidupnya dipenuhi ketakutan dan bayang-bayang akan masa lalu. Bahkan, kemiripan fisik pun dapat memicu “teriakan luka” dari tubuh dan jiwa yang terluka. Bahasa tubuhnya menceritakan ada luka yang menganga. Trauma mempengaruhi cara pandang terhadap diri kita dan dunia di luar kita.

Pengalaman saya hidup bersama-sama dengan orang-orang yang mengalami trauma membuat saya bertanya-tanya apakah syalom sebagai sebuah anugerah dari yang illahi dan tidak perlu diusahakan? Atau apakah syalom itu pun perlu diusahakan –sesuai dengan tema penahbisan sahabat saya, Lan Yong Xing.  Bagi orang yang hidup dalam trauma, syalom  adalah hal yang sangat sukar untuk dirasakan. Mungkin kita berpikir bahwa penderitaan yang masih tertinggal dari trauma itu dapat segera hilang ketika diperhadapkan dengan teologi tentang penebusan dan kebangkitan. Karena itu orang yang ditebus dapat serta merta merasakan syalom. Akan tetapi, saya mengutip Shelly Rambo dan Serene Jones –-teolog-teolog yang mendalami trauma—yang berkata bahwa teologi semacam itu tidak dapat diterapkan kepada orang-orang yang mengalami penderitaan yang masih tertinggal karena trauma karena mereka adalah orang-orang yang sukar melihat kebangkitan dan pengharapan. Dengan demikian, Syalom pun menjadi sukar untuk dirasakan karena diri kita yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah itu ternodai oleh berbagai pengalaman pahit yang melilit kehidupan kita.

Akan tetapi, apakah berarti tidak ada pengharapan bagi orang-orang yang hidup dalam pengalaman traumatik? Apakah syalom memang tidak dapat dirasakan oleh orang-orang yang mengalami berbagai kejadian traumatik? Tentu saja masih bisa asal kita mengusahakan syalom. Karena itu, tema penahbisan rekan saya Yong Xing menjadi sangat relevan bagi orang-orang yang mengalami pengalaman traumatik.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mengusahakan syalom bagi orang-orang yang hidup dalam trauma? Saya meminjam pemikiran Shelly Rambo dalam melakukan trauma healing. Menurut Shelly Rambo, ada dua cara untuk menolong orang-orang yang mengalami trauma agar dapat “sembuh” dan merasakan syalom. Pertama, tracking the undertow. Kita diajak untuk menggali kedalaman yang tidak ada di “permukaan”. Kita dapat tersenyum, namun sebenarnya kita tak damai. Kita dapat terlihat kuat, namun sebenarnya kita rapuh. Ada luka yang masih tertinggal di dalam ruang batin yang tak terlihat. Karena itu, bersama-sama dengan Roh Kudus, kita diajak untuk memasuki perasaan kehilangan, kemarahan, dukacita dan kekacauan dalam hidup kita. Roh Kudus menyingkapkan dan menyaksikan realitas yang tertinggal di dalam bahasa trauma. Dengan memasuki kedalaman batin kita, kita akan mengenali siapa diri kita dan apa yang membuat kita tidak dapat merasakan syalom itu sendiri. Sehingga, kita kemudian akan tertantang untuk mengusahakan syalom.

Kedua, sensing life. Orang yang mengalami trauma hidup tapi seperti sudah mati karena sukar sekali merasakan kedamaian dalam hidup ini. Karena itu, kita perlu menolong orang-orang dalam trauma untuk merasakan bahwa masih ada kehidupan yang dipenuhi syalom. Dan itu berarti, kita tidak membombardir dia dengan kecaman “tidak beriman” ketika ia terpuruk dan tidak dapat merasakan kehidupan serta kehadiran Allah. Akan tetapi, kita justru menghayati dan menyadari bahwa hidup kita sangatlah rentan. Karena itu, kita siap dipakai Roh Kudus untuk menolong orang lain (dan bahkan diri sendiri!) untuk bangkit dari keterpurukan. Roh Kudus itulah yang memampukan orang-orang yang traumatis untuk merasa, melihat secara lebih tajam, dan mengecap kehidupan lebih sensitif. Rambo mencatat, “to reconnect a person to the world in the aftermath of a traumatic event, it is essential to first reconnect a person to the movements of her body, enabling her to reestablish and nagivate her physical connection to the world”.

Dalam trauma healing terjadi proses merasakan “kehidupan” kembali dan juga “rekonstruksi” ulang tentang arti syalom. Syalom bukanlah kondisi yang sesuai dengan keinginan kita: bayangan kemakmuran, tanpa masalah dan lain sebagainya. Syalom adalah kondisi di mana kita yang rapuh ini dapat berjuang melahirkan kedamaian dalam diri dan komunitas, bersama dengan Allah yang memberi kekuatan kepada kita.

Bagi saya, hidup berjemaat adalah hidup bersama-sama dengan orang yang penuh trauma karena setiap orang memiliki traumanya masing-masing. Trauma tidak hanya disebabkan oleh pelecehan seksual, namun oleh berbagai hal lainnya. Trauma dapat terjadi karena keretakan dalam rumah tangga, kehilangan orang yang dicintai, patah hati, gesekan dalam tubuh internal gereja, bencana alam dan peristiwa lainnya. Karena itu, menjadi seorang pendeta berarti berjalan dengan: (1) diri sendiri yang memiliki pengalaman traumatik; (2) anggota jemaat yang juga mengalami pengalaman traumatik; dan (3) dengan Allah sumber pemulihan.

Kerinduan Yong Xing untuk mengusahakan syalom, menurut saya salah satunya adalah kerinduan untuk megusahakan gereja menjadi sebuah “rumah pemulihan”bagi orang-orang yang mengalami trauma. Ini berarti ada sebuah impian akan kehangatan, keakraban, cinta kasih yang besar di dalam gereja. Tentu saja, usaha itu bukan hanya merupakan usaha manusia saja. Ada campur tangan Roh Kudus yang lebih besar dan tak dapat dibatasi sehingga setiap orang dapat merasakan karya Allah yang memulihkan itu.  Tentu saja, ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Saya yakin, Yong Xing tahu benar apa tantangannya. Karena itu, diperlukan kesabaran, ketenangan, ketulusan, kerendahan hati dan kerjasama baik dari Yong Xing maupun GKI Duta Mas.

Tak banyak yang dapat dituliskan dalam lembaran ini. Tulisan ini hanyalah menjadi semburat refleksi dalam perjumpaan dengan seorang sahabat yang saat ini akan ditahbiskan sebagai pendeta. Yong Xing, selamat mengusahakan syalom bersama dengan keluarga tercinta, GKI Duta Mas, seluruh rekan-rekan calon pendeta dan pendeta, masyarakat dan tentunya dengan Kristus, Sahabat kita! Proses kependetaan bukan berakhir pada pencapaian jabatan pendeta. Proses kependetaaan adalah proses perjalanan spiritual bersama dengan Allah dan umat. Biarlah dirimu menjadi setenang, selentur dan sekuat pohon bambu. Karena itu, apapun yang terjadi dalam perjalanan kependetaan nanti, ingatlah --seperti pesan yang YongXing juga pernah sampaikan pada saya— bahwa Kristus mengasihi kita yang rapuh ini apa adanya. J

Jakarta, 17 September 2015

tulisan untuk penahbisan Pdt. Lan Yong Xing,
dari teman Bina Kader
YIR


Jones, Serene. Trauma and Grace: Theology in a Ruptured World. Louisville: Westminster John Knox Press, 2009.

Rambo, Shelly. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining. Louisville: Westminster John Knox Press, 2010.

Jumat, 08 April 2016

KEBANGKITANNYA MENGUBAHKU


            Waktu kecil, saya sangat takut dengan gelap. Pada suatu malam, saya sedang bermain di kamar sendirian. Tiba-tiba lampu mati. Seketika itu pun saya merasa ketakutan dan saya menangis dengan kencang. Yang saya ingat, saya sangat ketakutan. Ada banyak bayangan yang menghantui saya. Saya berlari ke luar kamar, namun kaki saya terantuk pintu dan saya pun menjerit makin keras. Sampai akhirnya mama saya datang dan memanggil nama saya. Sebenarnya, saya tahu mama saya ada di dalam rumah dan dia sedang mandi. Namun, kekalutan yang ada membuat saya tidak “ingat” dan tidak “sadar” lagi bahwa mama saya ada di rumah.

            Saat saya masih kecil, saya merasa takut dan kalut dalam ruang gelap. Saat saya dewasa, saya juga sering merasa takut dan kalut ketika berada dalam “kegelapan hidup”. Barangkali, Anda juga merasakan hal yang sama: kalut dan takut ketika berada dalam “kegelapan hidup”. Dan tokoh-tokoh di dalam Alkitab kita pun merasakan hal yang sama! Hari ini, kita membaca kisah seorang perempuan yang sedang berada dalam “kegelapan hidup” yaitu Maria Magdalena.

            Maria Magdalena, seorang perempuan yang sedang kalut dan takut karena kehilangan Tuhan Yesus yang begitu dikasihinya. Perhatikan saja gesturnya. Ia datang pagi-pagi benar untuk datang ke kubur Yesus pada waktu hari masih gelap. Ia hanya ingin mencurahkan kesedihannya dan merasa dekat dengan Tuhan Yesus dengan mengunjungi makamnya. Namun, betapa sedihnya ia ketika batu telah diambil dari kubur. Tampaknya, ia mengira bahwa mayat Tuhan Yesus telah diambil orang. Ia lari kepada murid-murid yang lain untuk memberitahukan hal itu. Kemudian ia kembali lagi ke kubur itu dan menangis. Betapa pedih hatinya. Ia mungkin merasakan kehampaan dan kehilangan yang mendalam. Katanya kepada malaikat yang menanyainya, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakan.”

            Yang menarik, dalam kekalutannya Maria tidak mengenali Yesus. Ia tidak mengenali Tuhan Yesus ketika ia berbalik dan melihat Tuhan Yesus. Ia mengira bahwa itu adalah tukang kebun. “Tuan kalau Tuan mengambil dia, katakanlah di mana tuan meletakan Dia supaya aku dapat mengambil-Nya.” Rupanya kekalutan dan ketakutan membuat orang tidak dapat berpikir tenang, apalagi mengalami perubahan di dalam “kegelapan hidupnya”. Karena dalam kekalutan dan ketakutan kita hanya terfokus pada bayang-bayang menyeramkan yang ada di dalam pikiran kita. Di dalam ketakutan dan kekalutan kita tidak dapat melihat pengharapan, bahkan kita tidak dapat mengenali karya Allah. Kita memaksa diri untuk berubah, tapi kita tidak bisa berubah sehingga kita lelah-selelah-lelahnya!

Padahal yang kita perlukan untuk berubah dan berani menghadapi ketakutan itu adalah: ketenangan. Biasanya saat kita sedang kalut dan gelisah, kita memaksa diri untuk tenang, namun kita tidak bisa mendapatkannya. Karena itu, menurut saya ketenangan itu adalah anugerah Allah kepada kita melalui sapaannya. Seperti Tuhan Yesus yang menganugerahkan ketenangan kepada Maria ketika ia menyapa Maria Magdalena dengan namanya. Dan seketika itu juga Maria Magdalena sadar dan mengalami ketenangan.

Mengapa sapaan itu dapat menenangkan Maria? Kita ingat dalam Yohanes 10:3-5 dikatakan bahwa seorang domba mengenali suara gembalanya. Hal ini mungkin asing dan tak lazim dalam konteks Indonesia. Namun, dalam konteks bangsa Israel hal ini tidaklah aneh. Sang gembala biasa menamai dombanya dengan nama satu per satu. Lalu, domba pun mengerti siapa namanya dan mengenali suara gembalanya yang memanggilnya.

Karena itu, sapaan ini begitu bermakna bagi Maria karena Maria mengenali suara Tuhan Yesus. Ketika mendengar suara tuhan Yesus, Maria berpaling dan berkata, “Rabuni.” Dalam Alkitab NIV, istilah yang dipakai itu adalah “cried out” yang artinya berteriak dengan terkejut dan penuh sukacita. Seketika itu juga, kesedihannya digantikan oleh sukacita. Kesepiannya digantikan oleh kepenuhan. Kehilangannya digantikan oleh pengharapan. Kekalutannya digantikan dengan ketenangan. Ketakutannya digantikan oleh sukacita.

Di dalam hidup ini, apabila kita sedang merasakan perasaan-perasaan seperti yang dialami Maria Magdalena, percayalah bahwa suatu saat Tuhan akan menyapa kita. Domba yang baik akan mengetahui sapaan gembalanya. Saya dan rekan-rekan yang saya anggap sebagai “spiritual friends” saya sering berbagi kisah mengenai bagaimana Tuhan menyapa kita dalam masa-masa kalut dan takut. Entah melalui tulisan yang kita baca, entah melalui orang lain yang tidak kita kenal dan tiba-tiba berbicara kepada kita. Dan perjumpaan semacam ini begitu menguatkan. Ada rasa haru, tangisan yang melegakan, dan sukacita serta damai sejahtera.

Kembali pada Maria Magdalena, saya membayangkan bahwa larangan Tuhan Yesus, “Jangan memegang aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa” agak mengejutkannya dan mungkin agak aneh juga bagi kita yang membaca kisah ini. Pasti saja Maria ingin memegang Tuhan Yesus. Bukankah di bagian Injil lain, Tuhan Yesus menunjukkan lengannya dan menyuruh Tomas mencucukan jarinya ke dalam lambungnya. Mengapa perintah itu ditunjukkan? Beberapa penafsir mengatakan bahwa larangan ini diberikan agar Maria tidak terlena dan menerima berita itu untuk dirinya sendiri. Tuhan Yesus menyatakan kemendesakan tugas baginya untuk memberitakan kebangkitan-Nya kepada saudara-saudaranya.“

Hal ini membuktikan bahwa Kristus percaya kepada Maria Magdalena, seorang perempuan yang tidak dianggap pada masanya. Kristus mengutus Maria Magdalena --seorang perempuan yang pernah kerasukan tujuh roh jahat-- untuk menjadi saksi pertama atas kebangkitan-Nya. Bagi saya Maria Magdalena adalah seorang rasul perempuan karena ia telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit dan juga diutus untuk menyaksikan berita kebangkitan Kristus. J
 
Refleksi atas Yohanes 20:11-23
Jakarta, 8 April 2016
YIR

Sabtu, 27 Februari 2016

Refleksi Penahbisan: Mengasihi dalam Kerapuhan

MENGASIHI DALAM KERAPUHAN
Yohanes 21:15-19
 
Panggilan dalam Kerapuhan
 
Mengapa kamu memilih menjadi seorang pastor? Biasanya, kita akan menjawab dengan spontan, rela dan hampir agresif: “Sebab Tuhan memanggil aku, dan aku meyakini panggilan itu.” Hanya saja, baru-baru ini ketika aku berhubungan dengan manusia yang memiliki beranekaragam sifat, aku kemudian menyadari bahwa ada bayang-bayang dalam ingatan hidupku hingga akhirnya aku berani menatapnya.
Aku menatap kembali peristiwa ketika ayahku meninggal dunia. Hidupku dan keluargaku menjadi sangat sulit. Namun, di tengah kesulitan itu, aku berhasil masuk sekolah unggulan. Elit-elit yang tamat dari sekolah itu didorong untuk masuk biara. Tentunya, hal ini merupakan gabungan antara keistimewaan, tradisi dan gengsi.  Masuk ke dalam korps rohaniwan menjadi suatu kehormatan dan keistimewaan. Bahkan status sosial keluarga pun terdongkrak karena sebagai seorang rohaniwan, hidupku akan selalu cukup tanpa perlu sibuk dengan kompetisi keuangan dunia.
Namun, ada situasi lain. Saat aku berdoa di kapel, ada seorang Bapa Rohani yang menepuk pundakku. Ia rupanya sedang memastikan agar anak-anak dari sekolah unggulan masuk ke dalam sekolah kerohanian. Ia berbisik, “Dengarlah suara Kristus dari salib yang memerintahkan kamu untuk mengikuti Dia.” Suara itu menekanku hingga aku memutuskan untuk mengikuti sarannya.
Selama bertahun-tahun aku tidak menyadari bahwa di dalam pilihanku itu terselip motif-motif mencari aman, menghindari tekanan, dan mencari prestise. Aku berpikir bahwa pilihanku hanya didasarkan atas cinta kasih yang murni pada Allah. Aku bahkan kurang memahami siapa diriku sendiri.
Akan tetapi, Allah tidak membiarkan diriku abai terhadap pengujian diri sendiri. Allah memperjumpakanku dengan orang-orang yang menuntunku pada permenungan penggalian motivasi diri. Tuhan juga membenturkanku dengan kegagalan dalam melaksanakan proyek-proyek di hidupku hingga akhirnya aku tersadar. Ya, aku tersadar bahwa di balik motifku untuk mencintai Kristus, terselip identitas asliku dan motif-motif campuran yang ada dalam diriku.
 
(diparafrase dari The Art of Choosing, 53-70)
 
 
Kisah di atas bukanlah kisah perjalanan kependetaan saya, melainkan kisah seorang pastor Jesuit yang bernama Carlos G Valles. Ia mengatakan bahwa tidak ada pilihan yang benar-benar murni. Dalam kenyataannya, ada banyak motif (melingkupi campuran akal budi, perasaan, masa lalu, masa kini, tradisi, reaksi, harapan, dan juga ketakutan-ketakutan kita) yang meresap ke dalam pilihan akhir yang kita buat. Dan bahkan kadang kita tidak menyadari motif campuran itu. Karena itu, diperlukan mata batin yang jernih untuk memeriksa motif yang sesungguhnya dan juga gerak hati yang tersembunyi (Valles 1998, 15-51).
Jadi, mengapa saya ingin menjadi seorang pendeta? Pertanyaan itu pun kembali menukik pada setiap calon pendeta dan pendeta, termasuk diri saya. Dalam proses yang panjang ini, Tuhan memperjumpakan saya dengan berbagai pergumulan yang menuntun saya pada refleksi yang hampir sama dengan Valles. Dan saya sekarang bersyukur untuk kasih Tuhan melalui setiap terpaan yang Tuhan hadirkan di dalam hidup saya!
Awalnya, tanpa berpikir panjang, saya berkata bahwa saya mau menjadi pendeta karena cinta pada Tuhan, sebagaimana yang saya katakan pada Pdt. Ferdy Suleeman dan Pdt. Suhud saat test seleksi calon mahasiswa teologi. Namun, jawaban awal itu menjadi jawaban yang dipertanyakan, yang tidak taken for granted karena dalam perjalanan iman ini Tuhan menolong saya untuk menguji diri sendiri lewat berbagai pergumulan dan kegagalan. Dalam berbagai peristiwa itu, saya sempat mempertanyakan kebaikan Tuhan, bahkan marah kepada Tuhan. Hingga akhirnya, saya menyadari bahwa motif-motif campuran itu pun mewarnai perjalanan saya.
Melalui berbagai peristiwa, Tuhan menyibakkan siapa diri saya. Tuhan memurnikan saya untuk menyadari bahwa saya hanyalah seorang yang rapuh. Saya menemukan beragam motif alam bawah sadar yang awalnya saya sendiri pun tidak menyadarinya. Tuhan membuka kunci atas kotak masa lalu, masa kini, kesalahan, ketakutan, kepongahan dan harapan yang saya kubur di tempat tersembunyi. Ternyata, diri saya tidak sebaik seperti yang saya kira. Bahkan dalam titik-titik tertentu, saya merasa tidak layak menjadi seorang pendeta.  
Karena itu, kalau saya saat ini dapat sampai pada momen penahbisan, maka saya memahami panggilan saya sebagai anugerah Tuhan semata. Tuhan memanggil saya untuk menjalani hidup dalam anugerah “ketegangan” antara cinta kepada Tuhan dan pergulatan melawan riak-riak dalam alam bawah sadar yang dapat merusak panggilan kependetaan saya. Saya akui hal ini tidak mudah karena dalam titik-titik tertentu saya kadang merasa hampir menyerah dengan diri saya sendiri. Namun, dalam berbagai refleksi saya sering membayangkan bahwa Tuhan tak pernah lelah untuk berkata, “Ayo Yes, berjuanglah bersama-Ku.” Ada sebuah lagu yang syairnya dengan tepat menggambarkan refleksi saya atas anugerah panggilan Tuhan dalam kerapuhan. Lagu ini berjudul God of Silence, karya Bukas Palad. Demikian liriknya:
 
The God of silence beckons me
To journey to my heart
Where He awaits
O Lord, I hear You calling tenderly
To You I come to gaze
At the beauty of Your face I cannot see
 
To rest in Your embrace I cannot feel
To dwell in Your love hurting but sweet
To be with You; to glimpse eternity
 
God of night, fount of all my delight.
Show Your light . . . that my heart, like Yours, burn bright.
 
Be still the torment of the night
Will not encumber you, if you believe
My child this darkness isn’t emptiness
For here I mold your heart
Unto My image painfully you long to see
 
The self you yearn to be, but fear to know
The world from which you flee in Me find home
All these I give you, if you remain in Me

I am ever here
My child, you need not fear
The dark will set you free
And bring your heart to Me

The God of silence beckons me
To journey to my heart
Where He awaits me.
 
Perjumpaan yang Memulihkan: Apakah Engkau Mengasihi Aku?
            Teks yang saya pilih untuk dikhotbahkan dalam penahbisan saya adalah teks perjumpaan Tuhan Yesus dengan Petrus, paska kebangkitan-Nya. Kenapa tokoh Petrus? Karena saya merasa seperti Petrus yang dalam panggilannya berkali-kali jatuh bangun karena beragam pergumulan pada alam bawah sadarnya.
Kita tentu masih ingat kisah Petrus berjalan di atas air, namun ia hampir tenggelam ketika tiupan angin keras menerpanya. Di tengah ketakutannya, Petrus berseru memohon pertolongan Tuhan. Petrus juga pernah merasa lebih tahu dari Tuhan Yesus saat ia menegur Tuhan Yesus yang sedang memberitahukan penderitaan-Nya dan syarat untuk mengikuti-Nya. Petrus juga pernah berkata-kata kepada Tuhan Yesus dengan sangat gagah, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Faktanya, Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok. Akibatnya, Petrus pulang dengan sedihnya ketika matanya bertatapan dengan mata Tuhan Yesus.
Dari kisah Petrus ini, tentu kita dapat mengerti bagaimana karakter Petrus. Petrus merasa menjadi seorang pemberani, namun ternyata ia hanya berani dalam posisi aman. Petrus merasa memahami kehendak Allah, namun ternyata yang dipahaminya tak selaras dengan apa yang Allah pikirkan. Petrus merasa menjadi orang yang setia, namun ternyata ketakutannya mengalahkan kesetiaannya. Petrus awalnya merasa mampu mengasihi Tuhan dengan kekuatannya sendiri, ternyata ia tak mampu membuktikannya.
Akan tetapi, Kristus adalah Allah yang penuh kasih dan memanggil kita dalam pemulihan. Injil Yohanes 21:15-19, menunjukkan rasa cinta Tuhan Yesus kepada Petrus, walaupun berkali-kali Petrus tidak dapat mempertahankan ucapannya. Dalam percakapannya dengan Petrus pasca kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus bertanya hingga sebanyak tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Pertanyaan sebanyak tiga kali ini sungguh menarik karena berbanding lurus dengan penyangkalan Petrus sebanyak tiga kali. Dalam hal ini, saya membayangkan bahwa ketika Tuhan Yesus bertanya  kepada Petrus, Petrus mengingat kembali peristiwa ketika ia menyangkal Yesus dan berbagai peristiwa lainnya yang menunjukkan kerapuhannya sebagai seorang manusia.   
Kata kasih yang digunakan dalam pertanyaan pertama dan kedua adalah agapan yang merujuk kepada kasih Allah. Namun, Petrus menjawab pertanyaan Yesus dengan menggunakan kata philein, kasih seorang sahabat. Barulah pada pertanyaan ketiga, Tuhan Yesus mengganti kata agapan dengan philein. Menurut saya, pergantian kata ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menerima Petrus apa adanya dalam segala kerapuhannya. Alkitab mencatat, maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?”. Dalam jawaban yang ketiga, tercermin jawaban Petrus yang sangat rendah hati. Petrus berkata, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Dengan demikian, Tuhan Yesus mau menjadi sahabat bagi Petrus yang berjuang untuk mengasihi-Nya.  
Dalam suatu permenungan, saya pernah membayangkan Tuhan Yesus bertanya kepada saya, seperti Ia bertanya kepada Petrus. Di sanalah saya merasa begitu sedih, karena saya harus menghadapi dan mengakui kerapuhan saya. Akan tetapi, di dalam kesedihan itu pula saya merasakan cinta kasih dan rahmat Allah yang besar. Ia tak pernah menyerah untuk merengkuh saya yang awalnya tak mengenal diri saya dan yang telah berkali-kali menyangkali-Nya. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Henri Nouwen, bahwa Allah menuntun kita untuk merengkuh kerapuhan kita dan meletakannya dalam berkat-Nya.”The first response to our brokenness is to face it squarely and befriend it. The second response to our brokenness is to put it under the blessing,” (Nouwen 2003, 36-155)
Tuhan Yesus yang menerima Petrus dan segala kerapuhannya itu pun terus memulihkan Petrus dalam mandat pastoral untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Karena itu, saya pun meyakini bahwa mandat pastoral dari Tuhan untuk menggembalakan umat Tuhan bukanlah diperoleh karena kehebatan saya. Saya bukanlah siapa-siapa! Saya bukanlah orang serba bisa dan dapat mengontrol segala sesuatu! Tidak ada yang pantas disombongkan dari diri saya. Tuhan Yesus memanggil saya dalam kerapuhan dan memulihkan saya dalam proses penggembalaan terhadap umat.
 
Visi: Mengasihi dalam Kerapuhan
To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you want to make sure of keeping it intact you must give it to no one, not even an animal. Wrap it carefully round with hobbies and little luxuries; avoid all entanglements. Lock it up safe in the casket or coffin of your selfishness. But in that casket, safe, dark, motionless, airless, it will change. It will not be broken; it will become unbreakable, impenetrable, irredeemable. To love is to be vulnerable.”
 
C.S Lewis, The Four Loves
 
Pertanyaan yang sering saya dengar ketika masuk ke dalam proses kependetaan adalah, “Apa visimu?” Sebelum menjawab pertanyaan itu, baiklah saya menegaskan bahwa visi saya terkait erat dengan kesadaran bahwa saya dipanggil dalam kerapuhan. Saya meminjam pandangan Nouwen, yang mengatakan bahwa ada hubungan misterius antara kesadaran akan kerapuhan kita dengan kemampuan untuk memberi diri bagi sesama.
Menurut Nouwen, kita mungkin pernah memasuki ruang kerapuhan saat kita merasakan luka yang begitu menusuk. Dan dalam masa-masa “gelap” itu, Tuhan menuntun kita untuk menyadari kerapuhan kita. Dalam titik rapuh itu, kita masuk ke dalam permenungan bahwa kita tidak memiliki apapun untuk diberikan kepada orang lain. Namun kemudian, Tuhan membuka mata kita untuk menyadari pentingnya berbagi hidup dengan orang lain. Tuhanlah yang menolong kita untuk dapat berbagi hidup dengan orang lain dalam kerapuhan kita (Nouwen 1992, 80).
Frasa berbagi hidup dalam kerapuhan dianalogikan Nouwen dengan roti yang dipecah-pecahkan. Roti harus dipecah-pecahkan terlebih dahulu agar dapat dibagikan (Nouwen 2011, 80-81). Bukankan broken bread itu menjadi simbol kerapuhan Anak Manusia? Ya, perjamuan kudus mengingatkan kita akan kasih Kristus yang menjadi manusia. Allah yang tak terbatas itu berinkarnasi menjadi manusia yang terbatas dan rapuh karena kasih-Nya kepada manusia. Tuhan merasakan pedih perih yang dirasakan manusia ketika berjumpa dengan ketidak-setiaan dan penolakan. Di dalam kerapuhanlah, Kristus mengasihi kita. Maka jelaslah yang dikatakan C.S. Lewis dalam kutipan surat undangan penahbisan saya bahwa “to love at all is to be vulnerable.”
Dengan berkaca pada inkarnasi Kristus, pertanyaan akan visi yang sesungguhnya bukan lagi, “apa yang dapat kita berikan bagi orang lain, melainkan dapat menjadi apakah saya bagi orang lain?” Saya pernah punya keinginan besar untuk memberi diri bagi gereja dengan menjadikan gereja seperti ini-itu melalui berbagai program. Saya berpikir dengan paradigma program oriented. Akan tetapi, saya menyadari bahwa program dapat berganti sesuai dengan perkembangan zaman. Apa yang menjadi program yang popular di masa kini, akan menjadi usang di masa depan. Belum lagi, penekanan yang terlalu berlebihan pada program dapat membuat orang memperlakukan sesamanya seperti mesin. Kasih-Nya melampaui batasan-batasan yang rigid, kaku dan terpola. Ternyata titik berangkatnya bukan dari program, melainkan dari sentuhan kasih Allah Tritunggal yang diwujud-nyatakan melalui sikap berbagi hidup dengan seluruh ciptaan.
Akhirnya, dalam proses ini, saya menemukan bahwa visi saya adalah untuk menjadi seorang pendeta yang mengasihi dalam kerapuhan. Menjadi pendeta yang mengasihi dalam kerapuhan berarti melekatkan diri pada Allah, walaupun perjalan bersama-Nya kadang naik dan turun dalam irama yang tak selalu membahagiakan. Menjadi pendeta yang mengasihi dalam kerapuhan berarti berfokus pada transformasi umat (di mana saya ada di dalamnya), walaupun mungkin kita harus jatuh bangun bersama-sama. Menjadi pendeta yang mengasihi dalam kerapuhan berarti menyadari betapa kecilnya diri kita dihadapan Allah, namun begitu dicintai-Nya. Menjadi pendeta yang mengasihi dalam kerapuhan berarti memiliki ketekunan, kesabaran dan cinta yang besar untuk berjalan dengan sesama umat yang rapuh, sama seperti saya yang juga rapuh. Visi ini adalah sebuah way of life, jalan hidup yang saya pilih karena anugerah Allah. Dalam berbagai refleksi, pengujian, dan bahkan keraguan, saya merasa bahwa Allah merestui pilihan hidup saya untuk mengasihi dalam kerapuhan.
 
Jakarta, 1 Februari 2016
Yesie Irawan
 
REFERENSI
 
Rebecca Laird & Michael J. Christensen (Ed). 2003. The Heart of Henri Nouwen: His Words of Blessing. Quenzon City: Claretian Publication.
Henri J.M. Nouwen. 1992. Life of The Beloved: Spiritual Living in a Secular World. New York: Crossroad Publishing Company.
 

Selasa, 24 November 2015

Katekisasi Bagi Katekisan Berkebutuhan Khusus

Malam itu, saya dan Ko Adi (mentor saya) bercakap-cakap mengenai kerinduan saya untuk memfasilitasi kelas katekisasi bagi katekisan berkebutuhan khusus. Kerinduan ini muncul begitu saja ketika melihat fenomena kemunculan anak-anak berkebutuhan khusus yang semakin banyak. Tak menyangka, selang beberapa hari setelah kami bercakap-cakap, dia memberikan sebuah pesan yang sepertinya menjadi jawaban dari Tuhan atas kerinduan saya.

Seorang perempuan, sebut saja X, yang berkebutuhan khusus ingin mengikuti kelas katekisasi. Dia berusia 27 tahun, usia yang sama dengan saya. Dia lahir di bulan Juni, bulan yang sama dengan bulan kelahiran saya. Saya menghabiskan dua pertemuan pertama saya hanya untuk bercakap-cakap dengan dia, tentang kehidupannya. Ya, bukan tentang makna katekisasi dan segala rupa doktrin yang ada di dalamnya.

Mengajaknya bercakap-cakap adalah hal yang susah-susah gampang. Awalnya, ada resistensi dalam dirinya dan diri saya. Saya menyadari momen-momen ketidak-tulusan dalam diri saya ketika ia mulai resisten. X menolong saya mengenali diri saya karena X adalah seorang perempuan yang sangat cepat menangkap getar ketulusan, persahabatan dan rasa percaya. Ia tahu mana orang yang sungguh-sungguh menerimanya dan yang hanya berpura-pura menerimanya.

Kelas katekisasi kami menjadi sangat menyenangkan. Jika biasanya doktrin-doktrin teologi yang kompleks mewarnai kelas katekisasi pada umumnya, maka dalam kelas katekisasi ini proses berteologi dimulai dari pengalaman kami (katekisan dan pengajar). Kami belajar memahami diri kami masing-masing. Kami belajar menyadari bahawa kami dicintai Allah dalam alunan musik sederhana yang biasa dimainkannya dalam harmoni ataupun disharmoni denting tuts piano yang ditekannya. Kami memasuki ruang tawa dalam perjalanan kami mengenal cinta dan asa lewat penejelajahan kami di suatu ruang publik di Jakarta.

Dalam pengalaman mengajar katekisasi dengannya, saya tidak lagi menjadi guru baginya.
Saya menjadi sahabatnya, bahkan saya menjadi muridnya.
Ia tak belajar 10 semester di ruang kuliah teologi, tetapi ia mengajarkan saya tentang siapa Allah.
Ia mengajarkan saya arti pengharapan, walaupun harapan itu hanya setipis celah pada pintu yang tertutup rapat.
Ia mengajarkan saya arti kelembutan, ketika ia melihat air mata dan rasa sakit.
Ia mengajarkan saya arti ketegaran, dalam ruang kehidupannya yang tak semudah yang kita kira.

Suatu saat, saya bergumul sehingga saya memintanya untuk mendoakan saya. Hati saya bergetar ketika dia mendoakan saya dengan doa Bapa Kami. Ia tak tahu apa yang saya gumuli, tetapi ketulusannya menguatkan saya yang saat itu merasa ada di titik nadir.Terima kasih X, karena telah menjadi guru dan sahabat bagi saya. Pengalaman ini menjadi suatu rinai kelegaan di tengah padang gurun spiritual. Dan saya menanti, tugas selanjutnya dari Tuhan untuk berjumpa dengan orang-orang berkebutuhan khusus yang akan menjadi guru dan sahabat saya.

Jakarta, 25 November 2015
ketika mengintip cahaya pada celah pintu pengharapan.

Kamis, 08 Oktober 2015

Oma Yun dan HUT GKI Kayu Putih ke-35

Tadi pagi, saya melawat Oma Yun, salah satu “founder” GKI Kayu Putih. Oma Yun tidak pernah ingat nama saya, tapi dia selalu hafal wajah saya. “Kamu, yang suka khotbah di depan kan. Saya ingat wajah kamu, tapi saya lupa nama kamu.” Setiap bertemu dia, saya seperti berjumpa dengan almarhum nenek saya. Bagi yang belum kenal Oma Yun, dia adalah seorang oma yang ceria dan tulus. Dia rajin membaca Alkitab dan menyalinnya di buku tulisnya.

Dalam percakapan dengan Oma Yun tadi pagi, saya menanyakan, “Apa harapan Oma Yun buat GKI Kayu Putih yang sedang berulang tahun ke-35?” Lalu, Oma Yun menjawab, “Ya, sekarang kalau ke gereja udah banyak orang baru yang saya tidak kenal. Tapi, saya bersyukur karena kedatangan orang baru ke gereja kita adalah anugerah Tuhan. Senang rasanya kalau saya menyapa orang baru. Saya juga senang kalau ketemu teman-teman lama di gereja setiap hari Minggu. Sederhana saja, saya berharap agar GKI Kayu Putih tetap kompak dan berjalan bersama-sama. Enak khan kalau punya teman”.

Satu hal yang saya rasakan ketika mengunjungi Oma Yun, saya merasakan aura ketulusan dan kesederhanaan dari dirinya sebagai salah seorang “founder”. Dalam ketulusan dan kesederhanaan, Tuhan mememberkati GKI Kayu Putih hingga seperti sekarang ini. Ya, kesederhanaan, ketulusan dan rahmat Allah menjadi tiga kata kunci dalam perjalanan GKI Kayu Putih.

Karena itu, ketika kita merindukan suatu gereja yang dipenuhi persahabatan, saya rasa yang menjadi kunci utama adalah ketulusan dan kesederhanaan. Kita menyadari bahwa diri kita bukanlah orang hebat. Kita hanyalah orang sederhana yang Tuhan pakai. Dan kemudian saya jadi teringat akan perkataan Jean Vanier, pendiri Komunitas L’arche. Jean Vanier berkata bahwa sebuah komunitas tercipta ketika para anggotanya menerima kenyataan bahwa masing-masing dirinya bukanlah superhero. Akan tetapi, masing-masing anggotanya menyadari ruang kerapuhan dan ketidaksempurnaannya. Dalam kesederhanaannya, biarlah kita menjadi seperti anak kecil yang sederhana, Menjalani hidup ini dengan ketulusan dan tanpa intrik. Penuh cinta dan rasa syukur. Dalam hal ini, perkataan Paulus dalam Roma 12:16 menjadi begitu bergema, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai.”

Bagi saya, momen ulang tahun adalah sebuah “present”, atau kado dari yang Illahi. Ketika kadonya di buka, kita mendapat kesempatan untuk melakukan sebuah momen reflektif: mengilas balik untuk menatap ke depan, seraya menjalani hari ini sebagai sebuah anugerah. Dengan mengilas balik melalui pembelajaran dari para founder kita, saya berharap bahwa  kesederhanaan, rasa syukur, ketulusan dan cinta kasih Illahi akan mewarnai derap langkah pengembaraan kita bersama sebagai seorang sahabat dari sekarang sampai seterusnya. Selamat Ulang Tahun GKI Kayu Putih ke-35!

Jakarta, 8 Oktober 2015

YIL

 

 

Senin, 01 Juni 2015

Beragam Rasa Hidup dalam Sepiring Makanan

"Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”
Matius 26:39 b

Kalau ditanya, tempat makanan mana yang paling berkesan di hidupku, maka aku akan segera menjawab: di rumah retreat daerah Bintaro. Jawaban ini muncul dari pengalamanku ketika aku mengikuti retreat tentang panggilan pelayan. Di ruang makan itu ada sebuah ikon Kristus, terang dunia. Aku duduk di depan ikon tersebut sambil menikmati makanku. Sorotan mata Kristus di dalam ikon itu tidak bercahaya, sangat rapuh. Sorotan matanya bukan sorotan mata yang menyiratkan terang dan binar cahaya. Di dalamnya kulihat kepedihan dan kerapuhan. Vulnerability of Christ!
Silent retreat! Aku makan sambil terdiam, sambil sesekali memandang ikon Kristus. Tanpa kata. Tanpa bicara. Aku memerintahkan pikiran yang berkecamuk untuk diam. Biar Allah yang diam itu menyatakan sesuatu dalam kediaman-Nya.
Perlahan-lahan air mata yang menetes ketika aku mengunyah makananku.  Air mata ini seperti menjadi penanda bahwa aku mulai memasuki misteri Allah yang Diam. Rasa asin, pedas, manis, pahit berpadu dalam mulutku. Aku teringat kehidupanku. Ada berbagai rasa yang kurasakan ketika menjalani panggilan ini. Di antara rasa-rasa itu, ada yang tak aku sukai dan kusukai. Ada yang menyenangkan hatiku dan ada yang menyayat hatiku.
Kupandang Kristus Sang Terang dunia yang tidak memancarkan sorotan mata yang berbinar. Aku teringat, ketika Ia bergumul di dalam taman. "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” Kristus Terang Dunia itu pun menjadi terang dalam kerapuhan-Nya. Kristus Sang Terang menjadi Terang ketika Ia menandaskan cawan yang Ia minum. Ia akhirnya menikmati beragam rasa dalam masa perutusan-Nya dengan menyelesaikan tugas-Nya.
Aku merasakan rasa makanan dari suapan terakhirku. Sambil menikmati beragam rasa di lidahku, air mataku menetes lagi. Memang perjalanan ini adalah ziarah beragam rasa, yang akan dan harus kutandaskan bersama Sang Illahi. Aku mengangkat piringku dan meletakannya pada tempat piring kotor. Rupanya, Allah yang diam itu sudah menyatakan diri-Nya lewat beragam rasa makanan di rumah retreat yang sunyi itu.

Jakarta, 1 Juni 2015

YIL