Minggu, 13 November 2016

Tentang Kepedihan


Pada keanehan indra yang benderang
Dengan balutan intuisi yang bergelinjang
Data-data menjadi telanjang
Dalam ruang yang tak terang

Badan kami terasa berat.
Saat pengkhianatan begitu pekat
Kemarahan dan kepedihan telah berurat
Membuat mata kami pekat

Tuhan,  ajarilah kami mengampuni
Sebagaimana Engkau Allah yang rahimi
Agar cinta tetap bersemi
Dalam kesederhanaan alami


Minggu, 16 Oktober 2016

Sebuah Pertanyaan

Malam menyapa dalam keheningan
Kedatangan mentari seolah tertahan
Dalam pengujian makna yang terpilin

Kepedihan meninggalkan goresan
Yang tak tergambarkan
Dengan sejumput bahasa insan

Sayup-sayup muncul sinar kebahagiaan
Menjadi hadiah pada proses misteri iman
Yang terus dipertanyakan

Liminalitas menjadi penanda keraguan
Sekaligus penanda pengharapan
Yang ada dalam kesempatan

Sang Khalik,  dalam doa kutanyakan
Mengenai sebuah intusi dan kepekaan
Dalam rasa yang berkejaran

Pada sebuah percepatan
Menerka sebuah pertanyaan dalam persimpangan
Yang penuh misteri dan kejutan

Jakarta,  17 Oktober 2016
YIR

Menang Atas Diri Sendiri (Kejadian 32:22-32)



“Kenalilah musuhmu, kenalilah diri sendiri.
Maka kau bisa berjuang dalam 100 pertempuran tanpa risiko kalah.

Kalimat itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Sun Tzu, seorang ahli perang yang sangat terkenal dari negeri Tiongkok. Buat saya kalimat itu sangat menarik, karena rupanya yang menjadi penentu kemenangan kita bukan hanya musuh melainkan diri sendiri. Dengan kata lain, musuh terbesar di dalam hidup ini adalah diri sendiri.

Dalam teks Alkitab yang kita baca kali ini, kita melihat kehidupan dari seorang tokoh Alkitab yang sudah diwarnai dengan sejumlah keberhasilan menurut standar dunia. Yakub memiliki banyak istri dan anak. Yakub mendapat berkat dan hak kesulungan. Yakub memiliki banyak harta dan juga budak. Semuanya ia punya, namun hidupnya tidak tenang dan penuh kekosongan. Mengapa? Karena ia dibayang-bayangi oleh musuh besarnya yakni dirinya sendiri.

Yakub mendapatkan semua itu dengan sebuah pola dosa yang berulang yakni dengan menipu. Betul, bahwa dengan menipu ia mendapatkan hak kesulungan dan berkat ayahnya, namun ia lari dari kemarahan kakaknya dan kekecewaan ayahnya. Betul bahwa dengan menipu, Yakub mendapatkan harta yang banyak, namun ia lari dari mertuanya. Dan ketidakjujurannya itu menimbulkan sikap pengecut di dalam dirinya. Kalau kita baca bagian perikop sebelumnya, kita tahu betapa pengecutnya Yakub. Ia tak berani pada Esau. Ia takut ditolak atau bahkan dibunuh oleh Esau karena kejadian di masa lampau. Karena itu, ia berusaha menyogok Esau dengan harta bendanya dan ia sendiri tertinggal jauh paling belakang. Sungguh pedih, karena orang yang kaya dan punya segala hal namun hidupnya tidak tenang dan menjadi sebuah pelarian.

Barangkali di hidup ini mungkin kita juga pernah merasakan apa yang dialami oleh Yakub. Kita memiliki segalanya. Pacar yang baik. Harta yang banyak. Nilai kuliah yang bagus. Pekerjaan yang mapan. Namun, ada kekosongan di jiwa kita yang disebabkan karena pergumulan dalam diri sendiri. Diri sendiri menjadi musuh yang paling menakutkan bagi kita. Kita berkali-kali jatuh pada perangkap yang sama dalam pola berulang. Kita sampai pada suatu titik bahwa tidak bisa mengendalikan diri sendiri untuk tidak melakukan hal yang salah, meskipun kita tahu bahwa itu salah. Kita membungkus diri kita dengan sejumlah daya tipu, karena kita tidak berani merengkuh kerapuhan dalam diri sendiri. Kita takut tidak diterima oleh orang lain, karena sebenarnya diri kita sendiri pun tidak menerima diri kita sendiri.

Namun satu hal, yang saya alami, yakini dan juga imani adalah bahwa Allah itu tidak pernah menyerah dengan kita, walaupun kita menyerah terhadap diri kita sendiri. Dalam kisah Yakub, Allah datang pada masa ketika Yakub sangat rapuh dan tidak dapat mengontrol rasa takut dalam dirinya sendiri. Namun, kali ini Allah tidak hadir sebagai pemberi janji, melainkan sebagai sebuah tokoh antagonis, yakni seorang laki-laki yang mengajak Yakub bergulat. Dengan demikian, kita pun dipaksa bergulat dengan Allah, dengan orang yang rusak relasinya dengan kita dan dengan diri kita sendiri. 

Perhatikanlah masa-masa ketika kita memasuki masa-masa yang disebut dengan “lembah kekelaman”. Ketika kita merasa bahwa hidup kita sangat berat, dan malam menjadi terang, disitulah Tuhan menantang saya bergulat. Dalam rasa yang lemah dan rasanya hidup ini hampir padam, Tuhan menyadarkan bahwa ternyata ada sisi gelap di dalam hidup kita yang selama ini kita enggan hadapi. Namun, di poin pergulatan itu, Tuhan menyadarkan kita bahwa ketika Tuhan mencintai kita, itu lebih dari cukup.
Dalam kisah Yakub di Yabok. Ada beberapa hal yang menarik yang menunjukkan keindahan proses transformasi dalam diri Yakub terjadi.

Pertama, perhatikanlah bahwa Allah sengaja menantang Yakub untuk berdiri tegak dan bergulat dengan penyerang. Di akhir bagian kisah ini, tampaknya disimpulkan bahwa yang menyerang adalah Allah, sebagai tokoh antagonis. Namun, saya membayangkan bahwa bisa saja sebenarnya Yakub awalnya tidak tahu siapa orang yang bergulat dengannya dalam kegelapan. Beberapa penafsir mengatakan, sebagai orang yang sangat ketakutan dan merasa berdosa terhadap Esau, barangkali Yakub dapat berpikir bahwa orang tersebut adalah Esau. Di sini Yakub seperti dipaksa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya, dalam sebuah pergulatan, di mana ia tidak dapat menggunakan sejumlah jurus tipuannya lagi. Dia pun kini berjuang melawan ketakutan dan keberdosaan dirinya sendiri terhadap Esau. Dia bergulat bersama dengan Esau.

Kedua, hal yang menarik setelah pergulatan itu berakhir, Yakub tidak membiarkan orang itu pergi tanpa memberkatinya. Kita lihat bahwa dari awal kehidupan Yakub, problem yang dihadapi Yakub adalah ia tergila-gila dengan berkat, baik itu kekayaan maupun ucapan berkat ayahnya yang dipercaya oleh mereka sebagai pemberi keberuntungan. Dan dalam masa lalunya yang kelam, Yakub mendapatkan berkat-berkat itu dengan cara-cara yang culas. Namun, di saat ini ia belajar mendapatkan berkat dengan jujur, dengan meminta langsung pada sang pemberi berkat, bahkan orang yang pernah bergulat dengan kita. Bagi saya, ini sebuah transformasi diri yang sangat dahsyat. Bahwa, kita meminta orang yang bergulat dengan kita memberikan berkat dan mendoakan kita. Hal ini meruntuhkan sebuah ego dan harga diri yang besar.

Hasil gambar untuk fajarKetiga, perhatikanlah waktunya. Yakub bergulat dari malam hari sampai matahari terbit. Dalam tradisi Yahudi, fajar adalah waktu ambang batas antara malam dan siang. Antara terang dan gelap. Ada sayup-sayup kegelapan. Namun, ada semburat cahaya fajar yang menunjukkan pengharapan. Dan fajar yang hadir itu adalah anugerah dari Tuhan, bukan sesuatu yang lahir dari usaha kita. Dan simbolisme ini menunjukkan hidup kita. Yakni, bahwa kita selalu hidup di ambang batas antara malam dan siang, terang dan gelap. Ketika kita berjumpa dengan Tuhan, tak semerta-merta kita berubah menjadi lebih baik, 180 derajat. Kita tetap bergumul dengan dosa-dosa kita antara “kegelapan” dan “terang”. Kita tetap bergumul dengan persoalan self control atas luka di masa lalu dan masa kini serta pengharapan di masa mendatang. Luka kita tidaklah hilang, membekas seperti kepincangan yang terjadi pada Yakub. Namun, kita tahu bahwa kita menang. Dan kemenangan perjuangan kita melawan diri sendiri itu disebabkan karena kekuatan anugerah Tuhan yang muncul bagai mentari yang menyapa kita.

Hingga dalam kisah penutup ini, dikatakan bahwa nama Yakub diubahkan. “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah.” Pada poin ini, kita menyadari bahwa transformasi diri bukan lahir dari kekuatan kita, namun dari anugerah Allah. Selamat bergulat dengan Allah J

Jakarta 15 Oktober 2016
Khotbah pemuda GKI Kaput
YIR

Senin, 29 Agustus 2016

Hujan Tanpa Kata

Air tertumpah deras dari atas bumi
Dalam desahan suara curahannya yang alami
Tak tersaingi denting piano dan petikan harpa
Pada malam yang hening, tanpa kata

Air tertumpah membasuh bumi yang tertutup debu
Yang tercipta dari hiruk pikuk keramaian
Air menelanjangi kepongahan hidup kelabu
Dalam bisu yang menggelisahkan

Desahan hujan mengantar pada kesunyian
Genangannya memantulkan realita
Yang samar terlihat oleh mata
Pada semburat misteri dalam perjalanan

Jakarta,  30 Agustus 2016
YIR

Minggu, 28 Agustus 2016

GKI, SUDAHKAH MENJADI GEREJA YANG MENGINDONESIA?

 Lukas 14:1, 7-14

Setiap kita pasti pernah melihat foto di samping ini. Ini adalah foto saat Soekarno membacakan teks proklamasi Indonesia. Namun, apakah Anda tahu siapa yang menjadi fotografernya? Fotografernya adalah Frans Sumarto Mendur dan Alexius Impurung Mendur. Karena jasa mereka berdua, kita dapat melihat foto yang menjadi saksi sejarah kemerdekaan kita.
                Yang menarik, baik Frans maupun Alexius tidak mendapat instruksi dari siapapun untuk mengabadikan momen tersebut melalui foto. Mereka hanya mendengar informasi dari Harian Asia Raya bahwa tanggal 17 Agustus 1945 akan ada peristiwa penting di kediaman Soekarno. Karena itu, mereka pergi ke Cikini dan tiba pkl. 05.00. Proklamasi dilangsungkan pkl. 10.00 dan mereka mengabadikan foto-foto itu. Namun, setelah upacara, mereka berdua disergap tentara Jepang. Alex tertangkap. Kameranya disita dan dibakar. Sementara itu Frans menyembunyikan kameranya di dalam tanah dan berkilah bahwa kameranya diambil barisan pelopor. Setelah dirasa aman, barulah keduanya mengendap-ngendap di tengah malam untuk mengambil kamera tersebut, mencari lab foto dan mencetaknya. Mereka mau melakukan hal ini, walaupun mereka terancam hukuman mati oleh Jepang.
                Saudara, dari kisah Frans dan Alex, ada salah satu nilai yang sangat penting di dalam sejarah bangsa Indonesia, yaitu sikap berani berkorban, tanpa memikirkan untung rugi. Sikap berani berkorban, tanpa mementingkan untung rugi juga merupakan perintah yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita. Dalam perjamuan makan yang dihadiri Tuhan Yesus, Tuhan Yesus menasihatkan tentang siapa saja orang yang harus diundang hadir dalam perjamuan. Lazimnya, sang tuan rumah akan mengundang orang-orang yang sama status sosialnya dengan dirinya atau orang-orang yang dekat dengannya, baik itu teman, keluarga atau tetangganya, bahkan orang yang kaya. Kemudian, sudah menjadi kebiasaan jika mereka yang diundang akan mengundang kembali orang yang pernah mengundangnya pada perjamuan selanjutnya. Spirit yang terjadi adalah spirit untung rugi. Dan inilah yang dikritik oleh Tuhan Yesus.
Karena itu, menurut Tuhan Yesus yang justru harus diundang adalah orang-orang yang tak mampu makan dengan layak, seperti orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Mereka merupakan orang-orang yang biasanya tak dianggap dalam kalangan masyarakat Yahudi. Bahkan, mereka dicap sebagai orang yang tak diberkati oleh Tuhan. Mereka dianggap orang yang tak layak dan bukan manusia yang utuh. Karena itu, tidak ada yang mengundang mereka makan. Yang lebih menarik lagi, di ayat 14 dikatakan dan engkau akan berbahagia karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Ajaran Tuhan Yesus ini mau mengatakan bahwa ketika kita melayani, maka layanilah dengan tulus, jangan memikirkan untung dan rugi. Bahkan beranilah untuk berkorban demi mereka. Dan dasar dari pengorbanan tersebut adalah kasih persaudaraan, sebagaimana yang dengan senada diungkapkan dalam Ibrani 13:1-2. Dengan demikian, orang cacat, orang lumpuh, orang miskin dan yang terabaikan itu adalah saudara kita. Masakan kita tak mau berkorban bagi sesama kita?
Lihat, betapa spirit rela berkorban menjadi nilai penting dalam Injil dan dalam sejarah bangsa kita. Karena itu, saat ini, pada momen HUT GKI, maka kita pun perlu berefleksi, apakah kita sudah menjadi gereja yang mengindonesia? Keindonesiaan GKI tidak ditentukan dari apakah kita pakai pakaian adat saat HUT GKI. Kekristenan dan Keindonesiaan GKI ditentukan dari sebuah pertanyaan, apakah spirit mau berkorban dan tidak berpikir soal untung rugi –yang merupakan nilai hidup Kristus dan nilai hidup Bangsa Indonesia-- itu sudah ada pada kita? Apakah nilai rela berkorban mewarnai spirit kehidupan kita? Apakah pelayanan GKI di seperti pelayanan rumah sakit, sekolah, universitas, pelayanan kemanusiaan, dlsb apakah sudah didasarkan pada spirit mengasihi orang lain dan bukan untung rugi?
Dalam sebuah sharing, ada gereja yang memberikan pelayanan kebersihan lingkungan, agar mereka dipinjamkan tempat parkir. Lihat, pola relasinya. Kita berpikir, kita memberi agar “aman”, agar “nyaman”. Atau ada yang membangun poliklinik agar gereja tidak diganggu oleh masyarakat sekitar. Pelayanan semacam ini masih pola untung rugi. Kita tidak berpikir bahwa kita melayani untuk melayani.
Di gereja kita masing-masing, apakah kita sudah sangat ramah terhadap orang-orang yang Tuhan katakan sebagai orang yang cacat, miskin, lumpuh dan buta. GKI manakah yang sudah sangat peduli pada orang yang cacat? Bagaimana jika ada anggota jemaat kita yang tuli? Bagaimana ia mendengarkan khotbah dan rangkaian liturgi? Sudahkah kita menyediakan fasilitas baginya? Bagaimana jika ada anggota jemaat kita yang lumpuh? Sudahkah kita menyediakan akses baginya agar dapat beribadah? Atau jangan-jangan kita masih sibuk menolak dengan prinsip ah ngapain wong yang lumpuh hanya 2-3 orang? Sangat diskriminatif!
Karena itu, pada HUT GKI kali ini, marilah kita melakukan otokritik pada diri kita sendiri. Marilah bersama-sama belajar untuk menjadi Gereja yang Meng-Indonesia dengan sebuah spirit pelayanan yang rela berkorban dan tidak berpikir untung rugi.


Jakarta, 27 Agustus 2016

Minggu, 31 Juli 2016

Tentang Doa

Ada hal yang barangkali saat ini tidak lazim, namun terjadi pada masa kanak-kanak saya. Dulu, tetangga saya suka mengetuk pintu rumah untuk meminta pertolongan. Misalnya saja, kalau ia sedang memasak dan kehabisan garam atau cabai, tentulah ia akan mengetuk pintu rumah saya. Lazimnya, kita meminta pertolongan kepada tetangga pada waktu siang. Jarang sekali kita mengetuk pintu rumah orang lain saat malam hari, kecuali kondisinya sangat mendesak. Hal yang serupa juga terjadi dalam tradisi Yahudi.
Dalam Injil Lukas 11:5-13, Tuhan Yesus mengumpamakan orang yang berdoa dengan orang yang mengetuk pintu rumah sahabatnya hanya untuk meminjam tiga roti pada malam hari. Ia mengetuk pintu rumah sahabatnya karena ia terdesak. Pasalnya ada seorang tamu di rumahnya dan rotinya habis. Karena itu, Ia tidak jemu-jemu mengetuk pintu tetangganya hingga akhirnya si tetangganya membuka pintu rumahnya.
Ketika membaca kisah ini, kita barangkali akan begitu semangat berdoa. Ayat yang kita baca dalam Lukas 11:1-13 tampak membahagiakan dan sangat menjanjikan. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Ayat ini, seringkali dipakai untuk meneguhkan kita bahwa Tuhan pasti memberikan apa yang kita minta.
                Namun, dalam hidup ini koq rasanya tidak begitu. Saya sering terenyuh ketika melihat anggota jemaat yang mendoakan anggota keluarganya agar sembuh dari penyakitnya, namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Begitu juga dengan seorang anak remaja yang tampak stress ketika ia tidak masuk ke dalam perguruan tinggi yang ia minati. Tampaknya, tidak ada kepastian dalam jawaban doa.
Beberapa waktu yang lalu, saya pun pernah merasakan hal yang senada. Saya merasa kesal pada Tuhan karena Tuhan tidak menjawab doa saya sesuai dengan kehendak saya. Padahal, hari itu, saya diundang masuk ke Sekolah Bina Iman untuk bercerita tentang kehidupan doa. Selain itu, anak-anak usia 7-9 tahun bebas bertanya apapun kepada saya yang berkaitan dengan doa. Dan bagi saya, rasanya berat sekali.  Tiba-tiba, pada saat sesi tanya jawab, ada seorang anak perempuan yang bertanya kepada saya, “Kak, pernah nggak Tuhan tidak mengabulkan doa Kakak? Kakak marah nggak sama Tuhan? Kakak masih percaya nggak sama Tuhan.”
Pertanyaan anak itu membuat saya terdiam. Dan saya pun bertanya dalam hati, apakah jangan-jangan pertanyaan anak ini adalah bentuk jawaban doa dari Tuhan kepada saya. Ketika saya merasa Tuhan tidak atau belum mengabulkan apa yang saya minta, Tuhan punya cara menjawab keragu-raguan saya. Dan di situlah kehidupan berdoa di mana jawaban Tuhan kadang begitu mengejutkan.
Dalam Injil Lukas 11:5-13, jawaban doa ternyata mengejutkan. Kita tidak dapat membaca perikop ini sepotong saja. Kuncinya sebenarnya terletak pada ayat 13, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.
Jadi, apa jawaban dari doa kita? Barangkali Tuhan tidak membuat kita sembuh, seperti yang kita minta dalam doa. Barangkali, Tuhan tidak memberikan kita uang banyak. Barangkali, orang yang kita kasihi tetap meninggal. Barangkali, Tuhan tidak memberikan kepastian hidup, seperti yang kita minta. Akan tetapi, Tuhan memberikan ROH KUDUS. Itulah jawaban dari doa kita. Dan Roh Kudus itu menyapa dalam pertanyaan anak kecil itu terhadap saya.
Roh Kudus lah yang menolong kita untuk menjalani kehidupan kita, walaupun berat ataupun tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Roh Kuduslah yang membuat kita semakin intim dengan Tuhan. Roh Kuduslah yang membuat kita berpasrah dalam menjalani hidup ini. Tak apa-apa, mintalah dengan jujur apa yang kamu inginkan dalam hidupmu, dalam kondisi hidupmu yang barangkali sedang terdesak seperti orang Yahudi yang terdesak hingga mengetuk rumah sesamanya di malam hari. Tak apa, mintalah dengan jujur pada Tuhan. Dan bersiaplah akan jawabannya yang mengejutkan namun menguatkan yaitu: Roh Kudus yang menyertai kita. Karena doa adalah soal relasi yang intim dengan Sang Khalik.
Suatu ketika, ada seorang ahli etika yang datang dan ikut melayani bersama Ibu Teresa di rumah orang yang sekarat di Kalkuta India. Pada saat itu, dia sedang bergumul dan mencari jawaban yang jelas mengenai bagaimana cara ia menghabiskan sisa hidupnya. Ibu Teresa bertanya, apa yang dapat ia lakukan untuk laki-laki ini. Laki-laki ini meminta agar Ibu Teresa mendoakannya. Kemudian, Ibu Teresa bertanya, “Apa yang ingin saya doakan?” Laki-laki itu minta didoakan agar ia mendapat kejelasan dalam hidupnya. Namun, Ibu Teresa hanya tetawa dan berkata, “Saya pun tidak pernah mendapat kejelasan. Apa yang saya dapatkan adalah iman. Karena itu, saya akan mendoakan agar kamu mengimani bahwa kamu menjalani hidupmu bersama dengan Allah.”

Jakarta, 31 Juli 2016
YIR

Minggu, 17 Juli 2016

Welcome Home Milo!


Sudah lama aku merindukan seekor anjing. Apalagi sejak aku SD hingga SMA selalu memelihara anjing. Namun, panggilan kependetaan ini membuat aku realistis. Hidupku nomaden dan belum ada pastori. Jadi, aku realistis untuk tidak merawat seekor anjing.

Setelah penahbisanku, aku berkunjung ke rumah Mas Bopha dan istri, seorang rekan pendeta di Bandung. Perkunjungan ini semakin membuatku ingin memiliki seekor anjing karena mereka memelihara seekor anjing yang bernama Rudolf. Rodolf memiliki bulu yang putih dan perawakan yang cukup besar. Aku senang sekali kalau main ke rumahnya dan memeluk serta dijilat oleh Rudolf. Rasanya, aku ingin banget punya seekor anjing yang berbulu putih namun badannya kecil dan tidak sebesar Rudolf. Maklum, badanku kecil dan tenagaku juga gak banyak.

Setelah ditahbis dan tahu akan masuk ke rumah pastori, aku mulai mencari orang yang menghibahkan anjing. Mulai dari Ibu Julia (Istri Pdt. Robby) yang menawarkan anak-anak anjingnya. Sayang sekali, waktu ditanya katanya sudah diadopsi oleh orang lain. Aku juga sudah bergabung dengan komunitas anjing hibah. Namun, sayang sekali anjing-anjing yang dihibahkan tidak berjodoh dengan saya. Saya selalu terlambat mengadopsi. Entahlah, rasanya makin dicari, makin tidak mendapat. Sampai akhirnya saya pun sudah tidak kepikiran ingin anjing lagi. Barangkali begitulah kehidupan, tidak hanya untuk perihal anjing saja.

Tiba-tiba, hari ini, seorang remaja putri namanya Joanne, mengirim whatsApp kepadaku. Dia bertanya, “Aku dengar dari Kak Linna, katanya Kak Yesie sedang mencari anjing yah?” Sontak aku terkejut dan bilang iya donk. Dia pun menceritakan bahwa dia sedang mencari adopter untuk anjingnya. Dengan segera aku bilang mau (padahal belum lihat anjingnya) hehehehe.... Just intuition loh..

Setelah aku bilang mau, Joanne segera mengirim foto anjingnya. Ternyata Milo lucu banget. Dan anjing selucu ini punya kisah yang menyedihkan. Anjing ini ditemukan sedang mengorek-ngorek tempat sampah di seputaran Kayu Putih. Tubuhnya kurus dan tidak sehat lagi. Joanne mencari-cari pemiliknya, namun tidak ada yang mengaku. Joanne iba dan takut Milo ketabrak, sehingga Milo dibawanya ke dokter hewan. Joanne memandikan dan membersihkannya. Sudah beberapa hari ini Joanne mencari seorang adopter, namun ia tidak menemukannya. Katanya, “Aku sampai stress mencari adopter.” Aku mengerti sih, barangkali di apartemennya tidak boleh memelihara anjing. Lalu, saat aku berkata mau jadi adopternya, Joanne menangis. In His Time, katanya! Waktu Tuhan selalu tepat.

Dan sekarang, aku siap menyambut Milo, yang diambil dari tempat sampah. Entah karena dia dibuang oleh pemiliknya atau entah dia kabur sehingga hidup di tempat sampah. Walaupun diambil dari tempat sampah, Milo berharga. Milo sama seperti diri kita yang diangkat oleh Tuhan dari lumpur rawa. Setidaknya, saya jadi ingat Mazmur 40:2-3, “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku.”

Akhir kata, barangkali beginilah hidup. Berani berjalan dalam misteri bersama dengan Tuhan.  Kadang ketika kita menginginkan sesuatu, Tuhan belum ataupun tidak memberikannya, seperti pencarian anjing ini. Barangkali Tuhan menimbang waktu yang tepat untuk semua pihak, tidak hanya untuk kita. Betul kata Pengkhotbah, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah kolong langit ada waktunya.... Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya; bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
Welcome home Milo!
I believe that today is the right time that God has made  for us to meet. J

Jakarta, 18 Juli 2016
YIR