curahan berbagai refleksi atas pergumulan memaknai perjalanan dan pergelutan bersama Allah dalam kemurnian hati.
Minggu, 13 November 2016
Tentang Kepedihan
Pada keanehan indra yang benderang
Dengan balutan intuisi yang bergelinjang
Data-data menjadi telanjang
Dalam ruang yang tak terang
Badan kami terasa berat.
Saat pengkhianatan begitu pekat
Kemarahan dan kepedihan telah berurat
Membuat mata kami pekat
Tuhan, ajarilah kami mengampuni
Sebagaimana Engkau Allah yang rahimi
Agar cinta tetap bersemi
Dalam kesederhanaan alami
Minggu, 16 Oktober 2016
Sebuah Pertanyaan
Malam menyapa dalam keheningan
Kedatangan mentari seolah tertahan
Dalam pengujian makna yang terpilin
Kepedihan meninggalkan goresan
Yang tak tergambarkan
Dengan sejumput bahasa insan
Sayup-sayup muncul sinar kebahagiaan
Menjadi hadiah pada proses misteri iman
Yang terus dipertanyakan
Liminalitas menjadi penanda keraguan
Sekaligus penanda pengharapan
Yang ada dalam kesempatan
Sang Khalik, dalam doa kutanyakan
Mengenai sebuah intusi dan kepekaan
Dalam rasa yang berkejaran
Pada sebuah percepatan
Menerka sebuah pertanyaan dalam persimpangan
Yang penuh misteri dan kejutan
Jakarta, 17 Oktober 2016
YIR
Kedatangan mentari seolah tertahan
Dalam pengujian makna yang terpilin
Kepedihan meninggalkan goresan
Yang tak tergambarkan
Dengan sejumput bahasa insan
Sayup-sayup muncul sinar kebahagiaan
Menjadi hadiah pada proses misteri iman
Yang terus dipertanyakan
Liminalitas menjadi penanda keraguan
Sekaligus penanda pengharapan
Yang ada dalam kesempatan
Sang Khalik, dalam doa kutanyakan
Mengenai sebuah intusi dan kepekaan
Dalam rasa yang berkejaran
Pada sebuah percepatan
Menerka sebuah pertanyaan dalam persimpangan
Yang penuh misteri dan kejutan
Jakarta, 17 Oktober 2016
YIR
Menang Atas Diri Sendiri (Kejadian 32:22-32)
“Kenalilah musuhmu,
kenalilah diri sendiri.
Maka kau bisa
berjuang dalam 100 pertempuran tanpa risiko kalah.
Kalimat itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Sun Tzu,
seorang ahli perang yang sangat terkenal dari negeri Tiongkok. Buat saya
kalimat itu sangat menarik, karena rupanya yang menjadi penentu kemenangan kita
bukan hanya musuh melainkan diri sendiri. Dengan kata lain, musuh terbesar di
dalam hidup ini adalah diri sendiri.
Dalam teks Alkitab yang kita baca kali ini, kita melihat
kehidupan dari seorang tokoh Alkitab yang sudah diwarnai dengan sejumlah
keberhasilan menurut standar dunia. Yakub memiliki banyak istri dan anak. Yakub
mendapat berkat dan hak kesulungan. Yakub memiliki banyak harta dan juga budak.
Semuanya ia punya, namun hidupnya tidak tenang dan penuh kekosongan. Mengapa?
Karena ia dibayang-bayangi oleh musuh besarnya yakni dirinya sendiri.
Yakub mendapatkan semua itu dengan sebuah pola dosa yang
berulang yakni dengan menipu. Betul, bahwa dengan menipu ia mendapatkan hak
kesulungan dan berkat ayahnya, namun ia lari dari kemarahan kakaknya dan
kekecewaan ayahnya. Betul bahwa dengan menipu, Yakub mendapatkan harta yang
banyak, namun ia lari dari mertuanya. Dan ketidakjujurannya itu menimbulkan sikap
pengecut di dalam dirinya. Kalau kita baca bagian perikop sebelumnya, kita tahu
betapa pengecutnya Yakub. Ia tak berani pada Esau. Ia takut ditolak atau bahkan
dibunuh oleh Esau karena kejadian di masa lampau. Karena itu, ia berusaha
menyogok Esau dengan harta bendanya dan ia sendiri tertinggal jauh paling
belakang. Sungguh pedih, karena orang yang kaya dan punya segala hal namun
hidupnya tidak tenang dan menjadi sebuah pelarian.
Barangkali di hidup ini mungkin kita juga pernah
merasakan apa yang dialami oleh Yakub. Kita memiliki segalanya. Pacar yang
baik. Harta yang banyak. Nilai kuliah yang bagus. Pekerjaan yang mapan. Namun,
ada kekosongan di jiwa kita yang disebabkan karena pergumulan dalam diri
sendiri. Diri sendiri menjadi musuh yang paling menakutkan bagi kita. Kita
berkali-kali jatuh pada perangkap yang sama dalam pola berulang. Kita sampai
pada suatu titik bahwa tidak bisa mengendalikan diri sendiri untuk tidak melakukan
hal yang salah, meskipun kita tahu bahwa itu salah. Kita membungkus diri kita
dengan sejumlah daya tipu, karena kita tidak berani merengkuh kerapuhan dalam
diri sendiri. Kita takut tidak diterima oleh orang lain, karena sebenarnya diri
kita sendiri pun tidak menerima diri kita sendiri.
Namun satu hal, yang saya alami, yakini dan juga imani adalah bahwa Allah itu tidak pernah menyerah dengan kita,
walaupun kita menyerah terhadap diri kita sendiri. Dalam kisah Yakub, Allah
datang pada masa ketika Yakub sangat rapuh dan tidak dapat mengontrol rasa
takut dalam dirinya sendiri. Namun, kali ini Allah tidak hadir sebagai pemberi
janji, melainkan sebagai sebuah tokoh antagonis, yakni seorang laki-laki yang
mengajak Yakub bergulat. Dengan demikian, kita pun dipaksa bergulat dengan
Allah, dengan orang yang rusak relasinya dengan kita dan dengan diri kita sendiri.
Perhatikanlah masa-masa ketika kita memasuki masa-masa
yang disebut dengan “lembah kekelaman”. Ketika kita merasa bahwa hidup kita
sangat berat, dan malam menjadi terang, disitulah Tuhan menantang saya
bergulat. Dalam rasa yang lemah dan rasanya hidup ini hampir padam, Tuhan
menyadarkan bahwa ternyata ada sisi gelap di dalam hidup kita yang selama ini kita
enggan hadapi. Namun, di poin pergulatan itu, Tuhan menyadarkan kita bahwa
ketika Tuhan mencintai kita, itu lebih dari cukup.
Dalam kisah Yakub di Yabok. Ada beberapa hal yang menarik
yang menunjukkan keindahan proses transformasi dalam diri Yakub terjadi.
Pertama, perhatikanlah bahwa Allah sengaja menantang
Yakub untuk berdiri tegak dan bergulat dengan penyerang. Di akhir bagian kisah
ini, tampaknya disimpulkan bahwa yang menyerang adalah Allah, sebagai tokoh
antagonis. Namun, saya membayangkan bahwa bisa saja sebenarnya Yakub awalnya
tidak tahu siapa orang yang bergulat dengannya dalam kegelapan. Beberapa
penafsir mengatakan, sebagai orang yang sangat ketakutan dan merasa berdosa
terhadap Esau, barangkali Yakub dapat berpikir bahwa orang tersebut adalah
Esau. Di sini Yakub seperti dipaksa untuk menghadapi ketakutan terbesarnya,
dalam sebuah pergulatan, di mana ia tidak dapat menggunakan sejumlah jurus
tipuannya lagi. Dia pun kini berjuang melawan ketakutan dan keberdosaan dirinya
sendiri terhadap Esau. Dia bergulat bersama dengan Esau.
Kedua, hal yang menarik setelah pergulatan itu berakhir,
Yakub tidak membiarkan orang itu pergi tanpa memberkatinya. Kita lihat bahwa
dari awal kehidupan Yakub, problem yang dihadapi Yakub adalah ia tergila-gila
dengan berkat, baik itu kekayaan maupun ucapan berkat ayahnya yang dipercaya
oleh mereka sebagai pemberi keberuntungan. Dan dalam masa lalunya yang kelam,
Yakub mendapatkan berkat-berkat itu dengan cara-cara yang culas. Namun, di saat
ini ia belajar mendapatkan berkat dengan jujur, dengan meminta langsung pada
sang pemberi berkat, bahkan orang yang pernah bergulat dengan kita. Bagi saya,
ini sebuah transformasi diri yang sangat dahsyat. Bahwa, kita meminta orang
yang bergulat dengan kita memberikan berkat dan mendoakan kita. Hal ini
meruntuhkan sebuah ego dan harga diri yang besar.
Ketiga, perhatikanlah waktunya. Yakub bergulat dari malam
hari sampai matahari terbit. Dalam tradisi Yahudi, fajar adalah waktu ambang
batas antara malam dan siang. Antara terang dan gelap. Ada sayup-sayup
kegelapan. Namun, ada semburat cahaya fajar yang menunjukkan pengharapan. Dan fajar
yang hadir itu adalah anugerah dari Tuhan, bukan sesuatu yang lahir dari usaha
kita. Dan simbolisme ini menunjukkan hidup kita. Yakni, bahwa kita selalu hidup
di ambang batas antara malam dan siang, terang dan gelap. Ketika kita berjumpa
dengan Tuhan, tak semerta-merta kita berubah menjadi lebih baik, 180 derajat.
Kita tetap bergumul dengan dosa-dosa kita antara “kegelapan” dan “terang”. Kita
tetap bergumul dengan persoalan self control atas luka di masa lalu dan masa
kini serta pengharapan di masa mendatang. Luka kita tidaklah hilang, membekas
seperti kepincangan yang terjadi pada Yakub. Namun, kita tahu bahwa kita
menang. Dan kemenangan perjuangan kita melawan diri sendiri itu disebabkan
karena kekuatan anugerah Tuhan yang muncul bagai mentari yang menyapa kita.
Hingga dalam kisah penutup ini, dikatakan bahwa nama
Yakub diubahkan. “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab
engkau telah bergumul melawan Allah.” Pada poin ini, kita menyadari bahwa
transformasi diri bukan lahir dari kekuatan kita, namun dari anugerah Allah.
Selamat bergulat dengan Allah J
Jakarta 15 Oktober
2016
Khotbah pemuda GKI
Kaput
YIR
Senin, 29 Agustus 2016
Hujan Tanpa Kata
Air tertumpah deras dari atas bumi
Dalam desahan suara curahannya yang alami
Tak tersaingi denting piano dan petikan harpa
Pada malam yang hening, tanpa kata
Air tertumpah membasuh bumi yang tertutup debu
Yang tercipta dari hiruk pikuk keramaian
Air menelanjangi kepongahan hidup kelabu
Dalam bisu yang menggelisahkan
Desahan hujan mengantar pada kesunyian
Genangannya memantulkan realita
Yang samar terlihat oleh mata
Pada semburat misteri dalam perjalanan
Jakarta, 30 Agustus 2016
YIR
Dalam desahan suara curahannya yang alami
Tak tersaingi denting piano dan petikan harpa
Pada malam yang hening, tanpa kata
Air tertumpah membasuh bumi yang tertutup debu
Yang tercipta dari hiruk pikuk keramaian
Air menelanjangi kepongahan hidup kelabu
Dalam bisu yang menggelisahkan
Desahan hujan mengantar pada kesunyian
Genangannya memantulkan realita
Yang samar terlihat oleh mata
Pada semburat misteri dalam perjalanan
Jakarta, 30 Agustus 2016
YIR
Minggu, 28 Agustus 2016
GKI, SUDAHKAH MENJADI GEREJA YANG MENGINDONESIA?
Lukas 14:1, 7-14
Setiap
kita pasti pernah melihat foto di samping ini. Ini adalah foto saat Soekarno
membacakan teks proklamasi Indonesia. Namun, apakah Anda tahu siapa yang
menjadi fotografernya? Fotografernya adalah Frans Sumarto Mendur dan Alexius
Impurung Mendur. Karena jasa mereka berdua, kita dapat melihat foto yang
menjadi saksi sejarah kemerdekaan kita.
Yang
menarik, baik Frans maupun Alexius tidak mendapat instruksi dari siapapun untuk
mengabadikan momen tersebut melalui foto. Mereka hanya mendengar informasi dari
Harian Asia Raya bahwa tanggal 17 Agustus 1945 akan ada peristiwa penting di
kediaman Soekarno. Karena itu, mereka pergi ke Cikini dan tiba pkl. 05.00.
Proklamasi dilangsungkan pkl. 10.00 dan mereka mengabadikan foto-foto itu.
Namun, setelah upacara, mereka berdua disergap tentara Jepang. Alex tertangkap.
Kameranya disita dan dibakar. Sementara itu Frans menyembunyikan kameranya di
dalam tanah dan berkilah bahwa kameranya diambil barisan pelopor. Setelah
dirasa aman, barulah keduanya mengendap-ngendap di tengah malam untuk mengambil
kamera tersebut, mencari lab foto dan mencetaknya. Mereka mau melakukan hal
ini, walaupun mereka terancam hukuman mati oleh Jepang.
Saudara,
dari kisah Frans dan Alex, ada salah satu nilai yang sangat penting di dalam
sejarah bangsa Indonesia, yaitu sikap berani berkorban, tanpa memikirkan untung
rugi. Sikap berani berkorban, tanpa mementingkan untung rugi juga merupakan perintah
yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita. Dalam perjamuan makan yang dihadiri
Tuhan Yesus, Tuhan Yesus menasihatkan tentang siapa saja orang yang harus
diundang hadir dalam perjamuan. Lazimnya, sang tuan rumah akan mengundang
orang-orang yang sama status sosialnya dengan dirinya atau orang-orang yang
dekat dengannya, baik itu teman, keluarga atau tetangganya, bahkan orang yang
kaya. Kemudian, sudah menjadi kebiasaan jika mereka yang diundang akan
mengundang kembali orang yang pernah mengundangnya pada perjamuan selanjutnya.
Spirit yang terjadi adalah spirit untung rugi. Dan inilah yang dikritik oleh
Tuhan Yesus.
Karena itu, menurut Tuhan
Yesus yang justru harus diundang adalah orang-orang yang tak mampu makan dengan
layak, seperti orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan
orang-orang buta. Mereka merupakan orang-orang yang biasanya tak dianggap dalam
kalangan masyarakat Yahudi. Bahkan, mereka dicap sebagai orang yang tak
diberkati oleh Tuhan. Mereka dianggap orang yang tak layak dan bukan manusia
yang utuh. Karena itu, tidak ada yang mengundang mereka makan. Yang lebih
menarik lagi, di ayat 14 dikatakan dan engkau akan berbahagia karena mereka
tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Ajaran Tuhan Yesus ini mau
mengatakan bahwa ketika kita melayani, maka layanilah dengan tulus, jangan
memikirkan untung dan rugi. Bahkan beranilah untuk berkorban demi mereka. Dan
dasar dari pengorbanan tersebut adalah kasih persaudaraan, sebagaimana yang
dengan senada diungkapkan dalam Ibrani 13:1-2. Dengan demikian, orang cacat,
orang lumpuh, orang miskin dan yang terabaikan itu adalah saudara kita. Masakan
kita tak mau berkorban bagi sesama kita?
Lihat, betapa spirit rela
berkorban menjadi nilai penting dalam Injil dan dalam sejarah bangsa kita.
Karena itu, saat ini, pada momen HUT GKI, maka kita pun perlu berefleksi,
apakah kita sudah menjadi gereja yang mengindonesia? Keindonesiaan GKI tidak ditentukan dari apakah kita pakai pakaian adat
saat HUT GKI. Kekristenan dan Keindonesiaan GKI ditentukan dari sebuah
pertanyaan, apakah spirit mau berkorban dan tidak berpikir soal untung rugi –yang
merupakan nilai hidup Kristus dan nilai hidup Bangsa Indonesia-- itu sudah ada
pada kita? Apakah nilai rela berkorban mewarnai spirit kehidupan kita? Apakah
pelayanan GKI di seperti pelayanan rumah sakit, sekolah, universitas, pelayanan
kemanusiaan, dlsb apakah sudah didasarkan pada spirit mengasihi orang lain dan
bukan untung rugi?
Dalam sebuah sharing, ada
gereja yang memberikan pelayanan kebersihan lingkungan, agar mereka dipinjamkan
tempat parkir. Lihat, pola relasinya. Kita berpikir, kita memberi agar “aman”,
agar “nyaman”. Atau ada yang membangun poliklinik agar gereja tidak diganggu
oleh masyarakat sekitar. Pelayanan semacam ini masih pola untung rugi. Kita
tidak berpikir bahwa kita melayani untuk melayani.
Di gereja kita masing-masing,
apakah kita sudah sangat ramah terhadap orang-orang yang Tuhan katakan sebagai
orang yang cacat, miskin, lumpuh dan buta. GKI manakah yang sudah sangat peduli
pada orang yang cacat? Bagaimana jika ada anggota jemaat kita yang tuli?
Bagaimana ia mendengarkan khotbah dan rangkaian liturgi? Sudahkah kita menyediakan
fasilitas baginya? Bagaimana jika ada anggota jemaat kita yang lumpuh? Sudahkah
kita menyediakan akses baginya agar dapat beribadah? Atau jangan-jangan kita
masih sibuk menolak dengan prinsip ah
ngapain wong yang lumpuh hanya 2-3 orang? Sangat diskriminatif!
Karena itu, pada HUT GKI kali
ini, marilah kita melakukan otokritik pada diri kita sendiri. Marilah
bersama-sama belajar untuk menjadi Gereja yang Meng-Indonesia dengan sebuah
spirit pelayanan yang rela berkorban dan tidak berpikir untung rugi.
Jakarta,
27 Agustus 2016
Minggu, 31 Juli 2016
Tentang Doa
Ada hal yang
barangkali saat ini tidak lazim, namun terjadi pada masa kanak-kanak saya.
Dulu, tetangga saya suka mengetuk pintu rumah untuk meminta pertolongan. Misalnya
saja, kalau ia sedang memasak dan kehabisan garam atau cabai, tentulah ia akan
mengetuk pintu rumah saya. Lazimnya, kita meminta pertolongan kepada tetangga
pada waktu siang. Jarang sekali kita mengetuk pintu rumah orang lain saat malam
hari, kecuali kondisinya sangat mendesak. Hal yang serupa juga terjadi dalam
tradisi Yahudi.
Dalam Injil
Lukas 11:5-13, Tuhan Yesus mengumpamakan orang yang berdoa dengan orang yang
mengetuk pintu rumah sahabatnya hanya untuk meminjam tiga roti pada malam hari.
Ia mengetuk pintu rumah sahabatnya karena ia terdesak. Pasalnya ada seorang
tamu di rumahnya dan rotinya habis. Karena itu, Ia tidak jemu-jemu mengetuk pintu
tetangganya hingga akhirnya si tetangganya membuka pintu rumahnya.
Ketika membaca
kisah ini, kita barangkali akan begitu semangat berdoa. Ayat yang kita baca
dalam Lukas 11:1-13 tampak membahagiakan dan sangat menjanjikan. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu
akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap
orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap
orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Ayat ini, seringkali dipakai
untuk meneguhkan kita bahwa Tuhan pasti memberikan apa yang kita minta.
Namun,
dalam hidup ini koq rasanya tidak begitu. Saya sering terenyuh ketika melihat
anggota jemaat yang mendoakan anggota keluarganya agar sembuh dari penyakitnya,
namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Begitu juga dengan seorang anak remaja
yang tampak stress ketika ia tidak masuk ke dalam perguruan tinggi yang ia
minati. Tampaknya, tidak ada kepastian dalam jawaban doa.
Beberapa waktu yang lalu, saya
pun pernah merasakan hal yang senada. Saya merasa kesal pada Tuhan karena Tuhan
tidak menjawab doa saya sesuai dengan kehendak saya. Padahal, hari itu, saya
diundang masuk ke Sekolah Bina Iman untuk bercerita tentang kehidupan doa.
Selain itu, anak-anak usia 7-9 tahun bebas bertanya apapun kepada saya yang
berkaitan dengan doa. Dan bagi saya, rasanya berat sekali. Tiba-tiba, pada saat sesi tanya jawab, ada
seorang anak perempuan yang bertanya kepada saya, “Kak, pernah nggak Tuhan
tidak mengabulkan doa Kakak? Kakak marah nggak sama Tuhan? Kakak masih percaya
nggak sama Tuhan.”
Pertanyaan anak itu membuat saya
terdiam. Dan saya pun bertanya dalam hati, apakah jangan-jangan pertanyaan anak
ini adalah bentuk jawaban doa dari Tuhan kepada saya. Ketika saya merasa Tuhan
tidak atau belum mengabulkan apa yang saya minta, Tuhan punya cara menjawab
keragu-raguan saya. Dan di situlah kehidupan berdoa di mana jawaban Tuhan
kadang begitu mengejutkan.
Dalam Injil
Lukas 11:5-13, jawaban doa ternyata mengejutkan. Kita tidak dapat membaca
perikop ini sepotong saja. Kuncinya sebenarnya terletak pada ayat 13, “Jadi
jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi
Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta
kepada-Nya.
Jadi, apa
jawaban dari doa kita? Barangkali Tuhan tidak membuat kita sembuh, seperti yang
kita minta dalam doa. Barangkali, Tuhan tidak memberikan kita uang banyak.
Barangkali, orang yang kita kasihi tetap meninggal. Barangkali, Tuhan tidak
memberikan kepastian hidup, seperti yang kita minta. Akan tetapi, Tuhan
memberikan ROH KUDUS. Itulah jawaban dari doa kita. Dan Roh Kudus itu menyapa
dalam pertanyaan anak kecil itu terhadap saya.
Roh Kudus lah
yang menolong kita untuk menjalani kehidupan kita, walaupun berat ataupun tidak
sesuai dengan yang kita harapkan. Roh Kuduslah yang membuat kita semakin intim
dengan Tuhan. Roh Kuduslah yang membuat kita berpasrah dalam menjalani hidup
ini. Tak apa-apa, mintalah dengan jujur apa yang kamu inginkan dalam hidupmu,
dalam kondisi hidupmu yang barangkali sedang terdesak seperti orang Yahudi yang
terdesak hingga mengetuk rumah sesamanya di malam hari. Tak apa, mintalah
dengan jujur pada Tuhan. Dan bersiaplah akan jawabannya yang mengejutkan namun
menguatkan yaitu: Roh Kudus yang menyertai kita. Karena doa adalah soal relasi
yang intim dengan Sang Khalik.
Suatu ketika,
ada seorang ahli etika yang datang dan ikut melayani bersama Ibu Teresa di
rumah orang yang sekarat di Kalkuta India. Pada saat itu, dia sedang bergumul
dan mencari jawaban yang jelas mengenai bagaimana cara ia menghabiskan sisa
hidupnya. Ibu Teresa bertanya, apa yang dapat ia lakukan untuk laki-laki ini.
Laki-laki ini meminta agar Ibu Teresa mendoakannya. Kemudian, Ibu Teresa bertanya,
“Apa yang ingin saya doakan?” Laki-laki itu minta didoakan agar ia mendapat
kejelasan dalam hidupnya. Namun, Ibu Teresa hanya tetawa dan berkata, “Saya pun
tidak pernah mendapat kejelasan. Apa yang saya dapatkan adalah iman. Karena
itu, saya akan mendoakan agar kamu mengimani bahwa kamu menjalani hidupmu
bersama dengan Allah.”
Jakarta, 31 Juli 2016
YIR
Minggu, 17 Juli 2016
Welcome Home Milo!
Sudah lama aku merindukan seekor anjing. Apalagi sejak aku
SD hingga SMA selalu memelihara anjing. Namun, panggilan kependetaan ini
membuat aku realistis. Hidupku nomaden dan belum ada pastori. Jadi, aku
realistis untuk tidak merawat seekor anjing.
Setelah penahbisanku, aku berkunjung ke rumah Mas Bopha dan
istri, seorang rekan pendeta di Bandung. Perkunjungan ini semakin membuatku
ingin memiliki seekor anjing karena mereka memelihara seekor anjing yang
bernama Rudolf. Rodolf memiliki bulu yang putih dan perawakan yang cukup besar.
Aku senang sekali kalau main ke rumahnya dan memeluk serta dijilat oleh Rudolf.
Rasanya, aku ingin banget punya seekor anjing yang berbulu putih namun badannya
kecil dan tidak sebesar Rudolf. Maklum, badanku kecil dan tenagaku juga gak
banyak.
Setelah ditahbis dan tahu akan masuk ke rumah pastori, aku
mulai mencari orang yang menghibahkan anjing. Mulai dari Ibu Julia (Istri Pdt.
Robby) yang menawarkan anak-anak anjingnya. Sayang sekali, waktu ditanya
katanya sudah diadopsi oleh orang lain. Aku juga sudah bergabung dengan
komunitas anjing hibah. Namun, sayang sekali anjing-anjing yang dihibahkan
tidak berjodoh dengan saya. Saya selalu terlambat mengadopsi. Entahlah, rasanya
makin dicari, makin tidak mendapat. Sampai akhirnya saya pun sudah tidak
kepikiran ingin anjing lagi. Barangkali begitulah kehidupan, tidak hanya untuk
perihal anjing saja.
Tiba-tiba, hari ini, seorang remaja putri namanya Joanne, mengirim
whatsApp kepadaku. Dia bertanya, “Aku dengar dari Kak Linna, katanya Kak
Yesie sedang mencari anjing yah?” Sontak aku terkejut dan bilang iya donk. Dia
pun menceritakan bahwa dia sedang mencari adopter untuk anjingnya. Dengan
segera aku bilang mau (padahal belum lihat anjingnya) hehehehe.... Just intuition loh..
Setelah aku bilang mau, Joanne segera mengirim foto
anjingnya. Ternyata Milo lucu banget. Dan anjing selucu ini punya kisah yang
menyedihkan. Anjing ini ditemukan sedang mengorek-ngorek tempat sampah di
seputaran Kayu Putih. Tubuhnya kurus dan tidak sehat lagi. Joanne mencari-cari
pemiliknya, namun tidak ada yang mengaku. Joanne iba dan takut Milo ketabrak,
sehingga Milo dibawanya ke dokter hewan. Joanne memandikan dan membersihkannya.
Sudah beberapa hari ini Joanne mencari seorang adopter, namun ia tidak
menemukannya. Katanya, “Aku sampai stress mencari adopter.” Aku mengerti sih,
barangkali di apartemennya tidak boleh memelihara anjing. Lalu, saat aku
berkata mau jadi adopternya, Joanne menangis. In His Time, katanya! Waktu Tuhan selalu tepat.
Dan sekarang, aku siap menyambut Milo, yang diambil dari
tempat sampah. Entah karena dia dibuang oleh pemiliknya atau entah dia kabur
sehingga hidup di tempat sampah. Walaupun diambil dari tempat sampah, Milo
berharga. Milo sama seperti diri kita yang diangkat oleh Tuhan dari lumpur
rawa. Setidaknya, saya jadi ingat Mazmur 40:2-3, “Aku sangat menanti-nantikan
TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia
mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku
di atas bukit batu, menetapkan langkahku.”
Akhir kata, barangkali beginilah hidup. Berani berjalan
dalam misteri bersama dengan Tuhan. Kadang ketika kita menginginkan sesuatu, Tuhan
belum ataupun tidak memberikannya, seperti pencarian anjing ini. Barangkali Tuhan
menimbang waktu yang tepat untuk semua pihak, tidak hanya untuk kita. Betul
kata Pengkhotbah, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah
kolong langit ada waktunya.... Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya;
bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat
menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
Welcome home Milo!
I believe that today is the right time that
God has made for us to meet. J
Jakarta, 18 Juli
2016
YIR
Langganan:
Postingan (Atom)

