Air tertumpah deras dari atas bumi
Dalam desahan suara curahannya yang alami
Tak tersaingi denting piano dan petikan harpa
Pada malam yang hening, tanpa kata
Air tertumpah membasuh bumi yang tertutup debu
Yang tercipta dari hiruk pikuk keramaian
Air menelanjangi kepongahan hidup kelabu
Dalam bisu yang menggelisahkan
Desahan hujan mengantar pada kesunyian
Genangannya memantulkan realita
Yang samar terlihat oleh mata
Pada semburat misteri dalam perjalanan
Jakarta, 30 Agustus 2016
YIR
curahan berbagai refleksi atas pergumulan memaknai perjalanan dan pergelutan bersama Allah dalam kemurnian hati.
Senin, 29 Agustus 2016
Minggu, 28 Agustus 2016
GKI, SUDAHKAH MENJADI GEREJA YANG MENGINDONESIA?
Lukas 14:1, 7-14
Setiap
kita pasti pernah melihat foto di samping ini. Ini adalah foto saat Soekarno
membacakan teks proklamasi Indonesia. Namun, apakah Anda tahu siapa yang
menjadi fotografernya? Fotografernya adalah Frans Sumarto Mendur dan Alexius
Impurung Mendur. Karena jasa mereka berdua, kita dapat melihat foto yang
menjadi saksi sejarah kemerdekaan kita.
Yang
menarik, baik Frans maupun Alexius tidak mendapat instruksi dari siapapun untuk
mengabadikan momen tersebut melalui foto. Mereka hanya mendengar informasi dari
Harian Asia Raya bahwa tanggal 17 Agustus 1945 akan ada peristiwa penting di
kediaman Soekarno. Karena itu, mereka pergi ke Cikini dan tiba pkl. 05.00.
Proklamasi dilangsungkan pkl. 10.00 dan mereka mengabadikan foto-foto itu.
Namun, setelah upacara, mereka berdua disergap tentara Jepang. Alex tertangkap.
Kameranya disita dan dibakar. Sementara itu Frans menyembunyikan kameranya di
dalam tanah dan berkilah bahwa kameranya diambil barisan pelopor. Setelah
dirasa aman, barulah keduanya mengendap-ngendap di tengah malam untuk mengambil
kamera tersebut, mencari lab foto dan mencetaknya. Mereka mau melakukan hal
ini, walaupun mereka terancam hukuman mati oleh Jepang.
Saudara,
dari kisah Frans dan Alex, ada salah satu nilai yang sangat penting di dalam
sejarah bangsa Indonesia, yaitu sikap berani berkorban, tanpa memikirkan untung
rugi. Sikap berani berkorban, tanpa mementingkan untung rugi juga merupakan perintah
yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita. Dalam perjamuan makan yang dihadiri
Tuhan Yesus, Tuhan Yesus menasihatkan tentang siapa saja orang yang harus
diundang hadir dalam perjamuan. Lazimnya, sang tuan rumah akan mengundang
orang-orang yang sama status sosialnya dengan dirinya atau orang-orang yang
dekat dengannya, baik itu teman, keluarga atau tetangganya, bahkan orang yang
kaya. Kemudian, sudah menjadi kebiasaan jika mereka yang diundang akan
mengundang kembali orang yang pernah mengundangnya pada perjamuan selanjutnya.
Spirit yang terjadi adalah spirit untung rugi. Dan inilah yang dikritik oleh
Tuhan Yesus.
Karena itu, menurut Tuhan
Yesus yang justru harus diundang adalah orang-orang yang tak mampu makan dengan
layak, seperti orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan
orang-orang buta. Mereka merupakan orang-orang yang biasanya tak dianggap dalam
kalangan masyarakat Yahudi. Bahkan, mereka dicap sebagai orang yang tak
diberkati oleh Tuhan. Mereka dianggap orang yang tak layak dan bukan manusia
yang utuh. Karena itu, tidak ada yang mengundang mereka makan. Yang lebih
menarik lagi, di ayat 14 dikatakan dan engkau akan berbahagia karena mereka
tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Ajaran Tuhan Yesus ini mau
mengatakan bahwa ketika kita melayani, maka layanilah dengan tulus, jangan
memikirkan untung dan rugi. Bahkan beranilah untuk berkorban demi mereka. Dan
dasar dari pengorbanan tersebut adalah kasih persaudaraan, sebagaimana yang
dengan senada diungkapkan dalam Ibrani 13:1-2. Dengan demikian, orang cacat,
orang lumpuh, orang miskin dan yang terabaikan itu adalah saudara kita. Masakan
kita tak mau berkorban bagi sesama kita?
Lihat, betapa spirit rela
berkorban menjadi nilai penting dalam Injil dan dalam sejarah bangsa kita.
Karena itu, saat ini, pada momen HUT GKI, maka kita pun perlu berefleksi,
apakah kita sudah menjadi gereja yang mengindonesia? Keindonesiaan GKI tidak ditentukan dari apakah kita pakai pakaian adat
saat HUT GKI. Kekristenan dan Keindonesiaan GKI ditentukan dari sebuah
pertanyaan, apakah spirit mau berkorban dan tidak berpikir soal untung rugi –yang
merupakan nilai hidup Kristus dan nilai hidup Bangsa Indonesia-- itu sudah ada
pada kita? Apakah nilai rela berkorban mewarnai spirit kehidupan kita? Apakah
pelayanan GKI di seperti pelayanan rumah sakit, sekolah, universitas, pelayanan
kemanusiaan, dlsb apakah sudah didasarkan pada spirit mengasihi orang lain dan
bukan untung rugi?
Dalam sebuah sharing, ada
gereja yang memberikan pelayanan kebersihan lingkungan, agar mereka dipinjamkan
tempat parkir. Lihat, pola relasinya. Kita berpikir, kita memberi agar “aman”,
agar “nyaman”. Atau ada yang membangun poliklinik agar gereja tidak diganggu
oleh masyarakat sekitar. Pelayanan semacam ini masih pola untung rugi. Kita
tidak berpikir bahwa kita melayani untuk melayani.
Di gereja kita masing-masing,
apakah kita sudah sangat ramah terhadap orang-orang yang Tuhan katakan sebagai
orang yang cacat, miskin, lumpuh dan buta. GKI manakah yang sudah sangat peduli
pada orang yang cacat? Bagaimana jika ada anggota jemaat kita yang tuli?
Bagaimana ia mendengarkan khotbah dan rangkaian liturgi? Sudahkah kita menyediakan
fasilitas baginya? Bagaimana jika ada anggota jemaat kita yang lumpuh? Sudahkah
kita menyediakan akses baginya agar dapat beribadah? Atau jangan-jangan kita
masih sibuk menolak dengan prinsip ah
ngapain wong yang lumpuh hanya 2-3 orang? Sangat diskriminatif!
Karena itu, pada HUT GKI kali
ini, marilah kita melakukan otokritik pada diri kita sendiri. Marilah
bersama-sama belajar untuk menjadi Gereja yang Meng-Indonesia dengan sebuah
spirit pelayanan yang rela berkorban dan tidak berpikir untung rugi.
Jakarta,
27 Agustus 2016
Minggu, 31 Juli 2016
Tentang Doa
Ada hal yang
barangkali saat ini tidak lazim, namun terjadi pada masa kanak-kanak saya.
Dulu, tetangga saya suka mengetuk pintu rumah untuk meminta pertolongan. Misalnya
saja, kalau ia sedang memasak dan kehabisan garam atau cabai, tentulah ia akan
mengetuk pintu rumah saya. Lazimnya, kita meminta pertolongan kepada tetangga
pada waktu siang. Jarang sekali kita mengetuk pintu rumah orang lain saat malam
hari, kecuali kondisinya sangat mendesak. Hal yang serupa juga terjadi dalam
tradisi Yahudi.
Dalam Injil
Lukas 11:5-13, Tuhan Yesus mengumpamakan orang yang berdoa dengan orang yang
mengetuk pintu rumah sahabatnya hanya untuk meminjam tiga roti pada malam hari.
Ia mengetuk pintu rumah sahabatnya karena ia terdesak. Pasalnya ada seorang
tamu di rumahnya dan rotinya habis. Karena itu, Ia tidak jemu-jemu mengetuk pintu
tetangganya hingga akhirnya si tetangganya membuka pintu rumahnya.
Ketika membaca
kisah ini, kita barangkali akan begitu semangat berdoa. Ayat yang kita baca
dalam Lukas 11:1-13 tampak membahagiakan dan sangat menjanjikan. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu
akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap
orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap
orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” Ayat ini, seringkali dipakai
untuk meneguhkan kita bahwa Tuhan pasti memberikan apa yang kita minta.
Namun,
dalam hidup ini koq rasanya tidak begitu. Saya sering terenyuh ketika melihat
anggota jemaat yang mendoakan anggota keluarganya agar sembuh dari penyakitnya,
namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Begitu juga dengan seorang anak remaja
yang tampak stress ketika ia tidak masuk ke dalam perguruan tinggi yang ia
minati. Tampaknya, tidak ada kepastian dalam jawaban doa.
Beberapa waktu yang lalu, saya
pun pernah merasakan hal yang senada. Saya merasa kesal pada Tuhan karena Tuhan
tidak menjawab doa saya sesuai dengan kehendak saya. Padahal, hari itu, saya
diundang masuk ke Sekolah Bina Iman untuk bercerita tentang kehidupan doa.
Selain itu, anak-anak usia 7-9 tahun bebas bertanya apapun kepada saya yang
berkaitan dengan doa. Dan bagi saya, rasanya berat sekali. Tiba-tiba, pada saat sesi tanya jawab, ada
seorang anak perempuan yang bertanya kepada saya, “Kak, pernah nggak Tuhan
tidak mengabulkan doa Kakak? Kakak marah nggak sama Tuhan? Kakak masih percaya
nggak sama Tuhan.”
Pertanyaan anak itu membuat saya
terdiam. Dan saya pun bertanya dalam hati, apakah jangan-jangan pertanyaan anak
ini adalah bentuk jawaban doa dari Tuhan kepada saya. Ketika saya merasa Tuhan
tidak atau belum mengabulkan apa yang saya minta, Tuhan punya cara menjawab
keragu-raguan saya. Dan di situlah kehidupan berdoa di mana jawaban Tuhan
kadang begitu mengejutkan.
Dalam Injil
Lukas 11:5-13, jawaban doa ternyata mengejutkan. Kita tidak dapat membaca
perikop ini sepotong saja. Kuncinya sebenarnya terletak pada ayat 13, “Jadi
jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi
Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta
kepada-Nya.
Jadi, apa
jawaban dari doa kita? Barangkali Tuhan tidak membuat kita sembuh, seperti yang
kita minta dalam doa. Barangkali, Tuhan tidak memberikan kita uang banyak.
Barangkali, orang yang kita kasihi tetap meninggal. Barangkali, Tuhan tidak
memberikan kepastian hidup, seperti yang kita minta. Akan tetapi, Tuhan
memberikan ROH KUDUS. Itulah jawaban dari doa kita. Dan Roh Kudus itu menyapa
dalam pertanyaan anak kecil itu terhadap saya.
Roh Kudus lah
yang menolong kita untuk menjalani kehidupan kita, walaupun berat ataupun tidak
sesuai dengan yang kita harapkan. Roh Kuduslah yang membuat kita semakin intim
dengan Tuhan. Roh Kuduslah yang membuat kita berpasrah dalam menjalani hidup
ini. Tak apa-apa, mintalah dengan jujur apa yang kamu inginkan dalam hidupmu,
dalam kondisi hidupmu yang barangkali sedang terdesak seperti orang Yahudi yang
terdesak hingga mengetuk rumah sesamanya di malam hari. Tak apa, mintalah
dengan jujur pada Tuhan. Dan bersiaplah akan jawabannya yang mengejutkan namun
menguatkan yaitu: Roh Kudus yang menyertai kita. Karena doa adalah soal relasi
yang intim dengan Sang Khalik.
Suatu ketika,
ada seorang ahli etika yang datang dan ikut melayani bersama Ibu Teresa di
rumah orang yang sekarat di Kalkuta India. Pada saat itu, dia sedang bergumul
dan mencari jawaban yang jelas mengenai bagaimana cara ia menghabiskan sisa
hidupnya. Ibu Teresa bertanya, apa yang dapat ia lakukan untuk laki-laki ini.
Laki-laki ini meminta agar Ibu Teresa mendoakannya. Kemudian, Ibu Teresa bertanya,
“Apa yang ingin saya doakan?” Laki-laki itu minta didoakan agar ia mendapat
kejelasan dalam hidupnya. Namun, Ibu Teresa hanya tetawa dan berkata, “Saya pun
tidak pernah mendapat kejelasan. Apa yang saya dapatkan adalah iman. Karena
itu, saya akan mendoakan agar kamu mengimani bahwa kamu menjalani hidupmu
bersama dengan Allah.”
Jakarta, 31 Juli 2016
YIR
Minggu, 17 Juli 2016
Welcome Home Milo!
Sudah lama aku merindukan seekor anjing. Apalagi sejak aku
SD hingga SMA selalu memelihara anjing. Namun, panggilan kependetaan ini
membuat aku realistis. Hidupku nomaden dan belum ada pastori. Jadi, aku
realistis untuk tidak merawat seekor anjing.
Setelah penahbisanku, aku berkunjung ke rumah Mas Bopha dan
istri, seorang rekan pendeta di Bandung. Perkunjungan ini semakin membuatku
ingin memiliki seekor anjing karena mereka memelihara seekor anjing yang
bernama Rudolf. Rodolf memiliki bulu yang putih dan perawakan yang cukup besar.
Aku senang sekali kalau main ke rumahnya dan memeluk serta dijilat oleh Rudolf.
Rasanya, aku ingin banget punya seekor anjing yang berbulu putih namun badannya
kecil dan tidak sebesar Rudolf. Maklum, badanku kecil dan tenagaku juga gak
banyak.
Setelah ditahbis dan tahu akan masuk ke rumah pastori, aku
mulai mencari orang yang menghibahkan anjing. Mulai dari Ibu Julia (Istri Pdt.
Robby) yang menawarkan anak-anak anjingnya. Sayang sekali, waktu ditanya
katanya sudah diadopsi oleh orang lain. Aku juga sudah bergabung dengan
komunitas anjing hibah. Namun, sayang sekali anjing-anjing yang dihibahkan
tidak berjodoh dengan saya. Saya selalu terlambat mengadopsi. Entahlah, rasanya
makin dicari, makin tidak mendapat. Sampai akhirnya saya pun sudah tidak
kepikiran ingin anjing lagi. Barangkali begitulah kehidupan, tidak hanya untuk
perihal anjing saja.
Tiba-tiba, hari ini, seorang remaja putri namanya Joanne, mengirim
whatsApp kepadaku. Dia bertanya, “Aku dengar dari Kak Linna, katanya Kak
Yesie sedang mencari anjing yah?” Sontak aku terkejut dan bilang iya donk. Dia
pun menceritakan bahwa dia sedang mencari adopter untuk anjingnya. Dengan
segera aku bilang mau (padahal belum lihat anjingnya) hehehehe.... Just intuition loh..
Setelah aku bilang mau, Joanne segera mengirim foto
anjingnya. Ternyata Milo lucu banget. Dan anjing selucu ini punya kisah yang
menyedihkan. Anjing ini ditemukan sedang mengorek-ngorek tempat sampah di
seputaran Kayu Putih. Tubuhnya kurus dan tidak sehat lagi. Joanne mencari-cari
pemiliknya, namun tidak ada yang mengaku. Joanne iba dan takut Milo ketabrak,
sehingga Milo dibawanya ke dokter hewan. Joanne memandikan dan membersihkannya.
Sudah beberapa hari ini Joanne mencari seorang adopter, namun ia tidak
menemukannya. Katanya, “Aku sampai stress mencari adopter.” Aku mengerti sih,
barangkali di apartemennya tidak boleh memelihara anjing. Lalu, saat aku
berkata mau jadi adopternya, Joanne menangis. In His Time, katanya! Waktu Tuhan selalu tepat.
Dan sekarang, aku siap menyambut Milo, yang diambil dari
tempat sampah. Entah karena dia dibuang oleh pemiliknya atau entah dia kabur
sehingga hidup di tempat sampah. Walaupun diambil dari tempat sampah, Milo
berharga. Milo sama seperti diri kita yang diangkat oleh Tuhan dari lumpur
rawa. Setidaknya, saya jadi ingat Mazmur 40:2-3, “Aku sangat menanti-nantikan
TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia
mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku
di atas bukit batu, menetapkan langkahku.”
Akhir kata, barangkali beginilah hidup. Berani berjalan
dalam misteri bersama dengan Tuhan. Kadang ketika kita menginginkan sesuatu, Tuhan
belum ataupun tidak memberikannya, seperti pencarian anjing ini. Barangkali Tuhan
menimbang waktu yang tepat untuk semua pihak, tidak hanya untuk kita. Betul
kata Pengkhotbah, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah
kolong langit ada waktunya.... Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya;
bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat
menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”
Welcome home Milo!
I believe that today is the right time that
God has made for us to meet. J
Jakarta, 18 Juli
2016
YIR
Rabu, 13 Juli 2016
Jika Aku menjadi Ayub
Tuhan,
Kau menghempas hartaku
Kau merusak tubuhku dengan penyakit
Kau mengambil anak-anakku
Aku berperkara dengan-Mu
dalam kejujuran dan kemarahanku
Hanya agar aku mengenal diri-Mu
bukan dari kata orang
Ah, sungguh terlalu mahal harga pengenalan akan diri-Mu
Hingga aku harus kehilangan banyak hal.
Betul bahwa kau gantikan semuanya
Bahkan Kau katakan bahwa...
Kau memberkati aku
lebih dari sebelumnya
Hartaku Kau lipat gandakan
Tubuhku Kau pulihkan
Kau berikan lagi tujuh anak laki-laki
Dan tiga anak perempuan
Jika aku menjadi Ayub,
aku tetap tidak akan bersukacita
atas semua yang Engkau gantikan
Aku akan tetap marah kepada-Mu!
Karena bagaimanapun anak-anakku yang telah mati tak kembali.
Dan mereka tetap tidak terganti
Bagaimanapun, kehidupan sudah pernah dilenyapkan
Hanya karena sebuah kesepakatan antara Engkau dengan iblis
Kau menghempas hartaku
Kau merusak tubuhku dengan penyakit
Kau mengambil anak-anakku
Aku berperkara dengan-Mu
dalam kejujuran dan kemarahanku
Hanya agar aku mengenal diri-Mu
bukan dari kata orang
Ah, sungguh terlalu mahal harga pengenalan akan diri-Mu
Hingga aku harus kehilangan banyak hal.
Betul bahwa kau gantikan semuanya
Bahkan Kau katakan bahwa...
Kau memberkati aku
lebih dari sebelumnya
Hartaku Kau lipat gandakan
Tubuhku Kau pulihkan
Kau berikan lagi tujuh anak laki-laki
Dan tiga anak perempuan
Jika aku menjadi Ayub,
aku tetap tidak akan bersukacita
atas semua yang Engkau gantikan
Aku akan tetap marah kepada-Mu!
Karena bagaimanapun anak-anakku yang telah mati tak kembali.
Dan mereka tetap tidak terganti
Bagaimanapun, kehidupan sudah pernah dilenyapkan
Hanya karena sebuah kesepakatan antara Engkau dengan iblis
Apakah Engkau masih dapat disebut sebagai Allah yang penuh kasih?
Apakah panggilan hidupku adalah untuk mengikuti Allah seperti-Mu?
Berperkaralah dengan aku sekali lagi!
Apakah panggilan hidupku adalah untuk mengikuti Allah seperti-Mu?
Berperkaralah dengan aku sekali lagi!
Jakarta, 13 Juli 2016
YIR
YIR
Kamis, 09 Juni 2016
Tak Akan Terganti
Dalam beberapa waktu terakhir, beberapa anggota jemaat sering berkata, "Wah nanti kamu menggantikan Ka Linna donk di sini." Barangkali, pernyataan ini muncul karena aku dan Ka Linna sama-sama perempuan. Mungkin...
Akan tetapi, dengan spontan aku menjawab, "Aku nggak bisa menggantikan dia."
Jawaban ini memang sungguh-sungguh karena memang Ka Linna tidak akan terganti.
Kami adalah dua orang yang berbeda latar belakang, berbeda karakter dan bahkan berbeda sudut pandang.
Ka Linna orang yang cuek, aku orang yang perasa
Ka Linna orang yang sangat stabil, aku orang yang gugupan
Ka Linna orang yang cukup tenang, aku orang yang super galau
Ka Linna orang yang grasak-grusuk, aku orang yang cukup berhati-hati
Ada banyak hal perbedaan lainnya yang barangkali tak terbaca dan cukup kami saja yang tahu.
Dari luar, barangkali kami terlihat cukup kompak,
walaupun sebenarnya banyak perdebatan-perdebatan yang terjadi. Dan itu menyebalkan banget!
Saat baru satu bulan di GKI Kayu Putih, dia membentak saya karena telat siap-siap. Karena waktu itu, kami mau pergi ke Tanggerang untuk rapat di daerah pemukiman Cina Benteng.
Padahal, makin lama aku juga akhinya tahu bahwa dia juga hobby bangun mepet. HAHAHAHAHA..... Ingat momen 30 menit dari Kayu Putih ke Kota Wisata? Aku ingat juga ketika kami pernah ngotot-ngototan akan sebuah konsep --yang saya pun lupa-- sampai aku merasa agak kesal.
Aku rasa masih banyak perdebatan lainnya yang biar tersimpan dalam memori kami berdua saja.
Tak adil rasanya kalau hanya bicara soal yang menyebalkan. Tetap saja, ada yang manis. Bahkan sangat manis! Ada satu hal yang tidak pernah terlupakan bagiku dalam pengalaman bersamanya. Ka Linna dipakai Tuhan untuk meneguhkanku pada momen menuju penahbisan. H-7 sebelum penahbisan adalah masa yang sangat berat bagiku. Ada banyak air mata tercurah karena beragam pergumulan internal dalam diriku sendiri. Tetapi kalimatnya, "Kamu masih boleh mundur kalau kamu mau walaupun ini sudah H-2" menyentak diriku. Pelan-pelan, aku bangkit dari tangisanku dan mencoba melihat Tuhan yang berjalan bersamaku.
Karena itulah,
Ka Linna tak akan pernah terganti
Bahkan bagi diriku sendiri, kau tak akan pernah terganti
Bagi GKI Kayu Putih, kau tak akan pernah terganti juga
Karena dirimu adalah dirimu
Dan aku adalah aku
Aku akan merindukan masa-masa ketika melawat anggota jemaat yang kritis bersama-sama (di tengah malam!)
Aku akan merindukan masa-masa makan bersama sambil bergalau
Aku akan merindukan pelayanan doa yang membuat kita terkejut-kejut
Aku akan merindukan momen ngotot-ngototan yang menyebalkan itu
Aku akan merindukan masa-masa ketika Tuhan membisikkan dan memperlihatkan hal-hal yang mengejutkan bagi kita.
Akan tetapi, dengan spontan aku menjawab, "Aku nggak bisa menggantikan dia."
Jawaban ini memang sungguh-sungguh karena memang Ka Linna tidak akan terganti.
Kami adalah dua orang yang berbeda latar belakang, berbeda karakter dan bahkan berbeda sudut pandang.
Ka Linna orang yang cuek, aku orang yang perasa
Ka Linna orang yang sangat stabil, aku orang yang gugupan
Ka Linna orang yang cukup tenang, aku orang yang super galau
Ka Linna orang yang grasak-grusuk, aku orang yang cukup berhati-hati
Ada banyak hal perbedaan lainnya yang barangkali tak terbaca dan cukup kami saja yang tahu.
Dari luar, barangkali kami terlihat cukup kompak,
walaupun sebenarnya banyak perdebatan-perdebatan yang terjadi. Dan itu menyebalkan banget!
Saat baru satu bulan di GKI Kayu Putih, dia membentak saya karena telat siap-siap. Karena waktu itu, kami mau pergi ke Tanggerang untuk rapat di daerah pemukiman Cina Benteng.
Padahal, makin lama aku juga akhinya tahu bahwa dia juga hobby bangun mepet. HAHAHAHAHA..... Ingat momen 30 menit dari Kayu Putih ke Kota Wisata? Aku ingat juga ketika kami pernah ngotot-ngototan akan sebuah konsep --yang saya pun lupa-- sampai aku merasa agak kesal.
Aku rasa masih banyak perdebatan lainnya yang biar tersimpan dalam memori kami berdua saja.
Tak adil rasanya kalau hanya bicara soal yang menyebalkan. Tetap saja, ada yang manis. Bahkan sangat manis! Ada satu hal yang tidak pernah terlupakan bagiku dalam pengalaman bersamanya. Ka Linna dipakai Tuhan untuk meneguhkanku pada momen menuju penahbisan. H-7 sebelum penahbisan adalah masa yang sangat berat bagiku. Ada banyak air mata tercurah karena beragam pergumulan internal dalam diriku sendiri. Tetapi kalimatnya, "Kamu masih boleh mundur kalau kamu mau walaupun ini sudah H-2" menyentak diriku. Pelan-pelan, aku bangkit dari tangisanku dan mencoba melihat Tuhan yang berjalan bersamaku.
Karena itulah,
Ka Linna tak akan pernah terganti
Bahkan bagi diriku sendiri, kau tak akan pernah terganti
Bagi GKI Kayu Putih, kau tak akan pernah terganti juga
Karena dirimu adalah dirimu
Dan aku adalah aku
Aku akan merindukan masa-masa ketika melawat anggota jemaat yang kritis bersama-sama (di tengah malam!)
Aku akan merindukan masa-masa makan bersama sambil bergalau
Aku akan merindukan pelayanan doa yang membuat kita terkejut-kejut
Aku akan merindukan momen ngotot-ngototan yang menyebalkan itu
Aku akan merindukan masa-masa ketika Tuhan membisikkan dan memperlihatkan hal-hal yang mengejutkan bagi kita.
Sampai ketemu lagi!
Tentunya, dengan aku yang akan sudah lebih dewasa dan lebih kuat :)
--Just hug and cry--
because hug and cry told us more than words
YIR
Sabtu, 21 Mei 2016
Ketika Relasi Menjadi Begitu Rumit
Kadang relasi menjadi begitu rumit.
Seperti benang yang melilit dan sukar diurai.
Mediasi diusahakan berkali-kali.
Perjumpaan demi perjumpaan ditempuh.
Dan Air mata mengalir tak terhenti.
Namun, kemarahan menyergap dan membungkus hati.
Menyisakan neraka di dalam hidup
Manis senyum terhias hanya sekejap
Digantikan umpatan yang menyakitkan
Dan bekunya perang dalam diam
Kadang relasi menjadi begitu rumit
Ada orang tua dan anak yang saling mengepalkan tangan
Ada kekasih yang memalingkan wajah
Ada saudara yang saling menunjuk dengan otot yang
meregang
Ada kelompok yang baku hantam dengan pedang
Tuhan, di manakah rekonsiliasi itu?
Ketika masing-masing menggenggam rasa sakit
Ketika satu pihak menerima namun pihak lain menahan
Dalam titik penghabisan yang diusahakan berkali-kali
Tersisa hanya arang yang hampir padam
Barangkali, manusia harus berpasrah
Untuk menerima bahwa rekonsiliasi adalah anugerah
Tidak dapat dipaksakan dengan jemari
Karena barangkali rekonsiliasi adalah anugerah
Saat relasi menjadi begitu rumit.
Jakarta, 21 Mei 2016
YIL
Langganan:
Postingan (Atom)

