Jumat, 11 April 2014

Selayang Pandang Trauma dan Sikap Gereja (Antara Impian dan Kenyataan)


Menjaring Definisi dari Suatu Pengalaman Traumatik

“Kepalaku sakit setiap mendengar suara keran air yang dibuka di kamar mandi. Wajahku mendadak pucat pasi dan badanku gemetar saat mendengar suara air mulai mengalir dari keran di kamar mandi. Kamar mandi menjadi tempat yang menakutkan untukku sejak aku berusia 10 tahun. Aku tak kuasa mengingat peristiwa itu. Peristiwa ketika pamanku memutar keran air dan membiarkan air mengalir. Pamanku membekap aku. Ia membuka bajuku dan menarik aku dalam pangkuannya. Dekapan tubuhnya yang kekar membuatku tak kuasa untuk memberontak. Ia memperkosa aku di usiaku yang ke-10. Hatiku hancur. Aku merasa bersalah dan malu. Aku tak mengerti lagi apa artinya keintiman. Aku tidak paham makna kasih sayang. Aku tak bisa lagi berada di dekat laki-laki dewasa dengan nyaman. Taka ada yang mengetahuinya, hingga sahabat perempuanku memperhatikan keanehan-keanehanku yang muncul dari luka yang berteriak saat aku berada di toilet umum. Ya, aku gemetar saat aku mendengar laki-laki di sebelah kamar mandi itu batuk dan mengucurkan air keran.”
(diambil dari studi kasus dalam kelas teologi trauma di STTJ)

Peristiwa itu dialami perempuan tanpa nama itu di usianya yang ke-10. Luka fisik akibat pemerkosaan: lebam-lebam sudah hilang dari fisiknya. Namun, trauma akibat pemerkosaan itu masih saja tersisa. Hal ini menyiratkan ada tiga hal yang terkandung dalam definisi trauma.
Pertama, realitas trauma menembus dimensi waktu. Trauma tidak dapat diatur dan ditentukan waktu dan lokasinya. Sekalipun peristiwa itu terjadi di masa yang lampau, trauma pada perempuan itu masih tersisa.  Perempuan tanpa nama itu kembali gemetar dan ketakutan ketika mendengar air keran yang mengucur, walaupun itu terjadi di toilet umum: lokasi yang berbeda dengan toilet di rumahnya.
Kedua, trauma tidak hanya merujuk pada luka fisik. Dalam studi trauma, terminologi trauma juga merujuk pada luka batin. Trauma pada batin disebabkan oleh kekerasan yang dialami manusia: baik itu kekerasan fisik maupun verbal yang menghancurkan batin. Trauma pada batin menunjukkan betapa rapuhnya jiwa manusia. Sama seperti luka tubuh yang dapat mematikan, trauma pada batin juga dapat menghancurkan kehidupan manusia. Trauma pada batin tak terlihat dan dapat menghancurkan manusia dengan perlahan namun pasti (Jones 2009, 12-13).
Ketiga, realitas trauma akan mempengaruhi cara pandang kita terhadap dunia dan cara kita memperlakukan diri kita. Dalam kisah di atas, cara pandang perempuan itu terhadap intimacy dan konsep dirinya menjadi hancur. Ada rasa bersalah yang muncul dalam dirinya walaupun ia tidak bersalah. Bahkan intimacy pun menjadi ruang yang menakutkan baginya.
            Trauma dalam definisi di atas tampak sebagai trauma yang timbul pada satu pribadi. Akan tetapi, studi trauma menunjukkan bahwa trauma dapat terjadi secara komunal, seperti tragedi pemboman WTC dan Boston. Tragedi ini menyisakan trauma besar bagi masyarakat Amerika. Infrastruktur sudah kembali dibangun, tetapi trauma masih tetap menghantui mereka.

Karakteristik Orang yang Mengalami Trauma
Dalam, Unclaimed Experience, Cathy Caruth mengungkapkan bahwa trauma mental dan batin memang tidak terlihat dalam bukti fisik.[1] Namun, trauma mental dan batin dapat muncul melalui kesaksian yang muncul dari luka yang tersimpan dalam dirinya. Kesaksian itu tampak dari ciri-ciri psikis yang tampak dari bahasa tubuh (Caruth, 1996 3-5).
Serene Jones memaparkan beberapa ciri/karakteritik psikologis yang dapat kita cermati untuk mendeteksi apakah seseorang mengidap trauma pasca peristiwa kekerasan. Karakteristik ini disebut PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Adapun karakteristiknya adalah sebagai berikut (Jones 2009, 16-18) :
(1) Tidak kuat mendengar suara keras/ribut, mudah panik.
(2) numbness (mati rasa) dan disorientasi.
Orang yang mati rasa mengalami ketidaknyambungan antara emosi dan kognisinya.  
(3) tidak bisa tidur dan merasakan kecemasan yang akut.
(4) unarticulated compulsions.
(misalnya orang yang selalu mengulang gerak tubuh tertentu pada saat ada peristiwa yang menyerupai kejadian traumatik yang pernah dialaminya)
(5) Berkurangnya ingatan dan kosakata yang biasa kita pakai.
Biasanya orang yang pernah mengalami peristiwa traumatis, sulit untuk mengingat traumanya. Ia tidak dapat bercerita dengan runut dan bahkan kehilangan memori-memori terntentu. Hal ini disebabkan bagian otak langsung menolak untuk mengingat peristiwa traumatis tersebut.
(6) Kehilangan rasa percaya diri dan merasa kehilangan harapan akan hari esok. Situasi ini biasanya terjadi pada orang-orang yang mengalami peristiwa yang sangat kuat dan kekerasan seksual.
(7) Perasaan dibuang dan terisolasi dari teman-temannya. 
(8) mimpi buruk (kemunculan mimpi buruk adalah salah satu bentuk teriakan dari luka, karena tubuh tetap tidak dapat menahan luka).

Antara Impian dan Kenyataan:
Peran Gereja dalam Menghadapi Orang-orang yang Trauma
1.     Memikirkan dan merumuskan ulang teologi operatif yang kita kembangkan di jemaat.
Pertanyaan kunci dari saran yang pertama ini adalah, “Pikirkanlah apakah bahasa gereja merengkuh persoalan real traumatik di jemaat? Atau jangan-jangan bahasa teologi kita tidak terkoneksi dengan bahasa dari luka karena teologi menjadi sangat optimistik dan serba tahu?” Jones, dengan tajam menyatakan tugas ini dalam tulisannya

Theology task is to re-narrate to us what we have yet to imagine (21). If grace has power to reshape the imagination, then theology is the language that both describes that power and evokes it in the loves of people by telling grace-filled stories of new imagining (21-22). Not a systematic theology of trauma and grace, but a glimpse grace
           
Salah satu contoh teologi yang harus dikritisi misalnya pemahaman tentang anugerah. Jones mengatakan seperti ini: Apabila benar bila kita berpandangan bahwa manusia bersih dan bebas dari yang jahat ketika anugerah dicurahkan? Apakah perspektif itu tepat untuk orang-orang yang mengalami pengalaman traumatik? Perspektif trauma mengkritik konsep berpikir semacam ini. Kita terlalu naïf dalam optimisme tentang struktur dosa dan anugerah. Bagaimana dengan penyintas yang sampai akhir hidupnya masih terjebak dalam trauma (Jones 2009; 155)? Trauma itu masih tersisa di ruang-ruang kehidupan kita.
            Jones, mengkonstruksi cara berpikir tentang anugerah. Anugerah Allah adalah saat Allah hadir bersama-sama dengan kita yang terluka. Allah menyembuhkan dengan cara yang lembut, tapi tidak kehilangan dimensi bahwa Allah “menggoyang” luka kita sambil memegang kita. Kita diingatkan bahwa kita masih akan terluka, namun akan ada yang selalu mendampingi kita yakni Allah. Jadi, anugerah bukanlah sesuatu yang radikal: yang mengubah kehidupan kita secara hitam putih. Grace needed to be larger than the lives of those who never recovered. It needed also to be sturdier than a tale of straightforward recovery, less sanguine, less optimistically (Jones 2009, 157). Mungkin, ada banyak lagi teologi operatif yang perlu kita kritisi karena justru dapat membuat orang-orang yang mengalami peristiwa traumatik menjadi semakin terpuruk. Mari memikirkannya bersama-sama :)

2. Melakukan trauma healing.
Shelly Rambo mengusulkan dua dalam trauma healing. Pertama, tracking the undertow. Dalam pendekatan ini, kita diajak untuk menggali kedalaman yang tidak ada di permukaan. Bersama-sama dengan Roh Kudus, kita diajak untuk memasuki perasaan kehilangan, kemarahan, dukacita dan kekacauan dalam hidup ini. Roh Kudus menyingkapkan dan menyaksikan realitas yang tertinggal di dalam bahasa trauma (Rambo 2010, 161)
Kedua, Rambo mengusulkan agar dalam trauma healing, ada pendekatan yang disebut dengan sensing life. Bersaksi berarti ‘sensing life’. Menurut Rambo, dengan “sensing” kita tengah menempatkan diri pada hal-hal yang tak terketahui (Rambo 2001, 163). Bagi orang-orang yang traumatis, kehidupan ini dipenuhi oleh berbagai pemicu sensori trauma sehingga kehidupan menjadi kejam. Menurut Rambo, orang yang trauma itu perlu diajak untuk merasakan bahwa harapan dan bahkan kehidupan yang indah itu masih ada.
Oleh karena itu, diperlukan proses pendampingan untuk mengkoneksikan kembali mereka dengan kehidupan. Kita mendengarkan bahasa trauma dengan melihat dengan peka teriakan luka yang muncul dari bahasa tubuh orang-orang yang berada dalam trauma. Setelah itu, diperlukan proses penerjemahan kembali kehidupan kepada mereka yang berada di dalam trauma.
Menurut Rambo, peran Roh Kudus sangatlah besar dalam proses ini. Roh Kudus memampukan konselor untuk mendengarkan teriakan luka. Roh Kudus menolong orang-orang yang trauma untuk menautkan kembali diri mereka dengan nafas kehidupan mereka. Roh Kudus memampukan korban untuk merasa, melihat secara lebih tajam, dan mengecap kehidupan lebih sensitive (Rambo 2001, 163).

3.     Menjadi Saksi yang Penuh Belas Kasih (Compassionate Witnessing)
Pada saat kita membaca kisah-kisah kesaksian hidup orang (literature of testimony), kita menjadi saksi untuk peristiwa itu sendiri. Ketika kita menyaksikan pengalaman kita maupun pengalaman orang lain, kita sedang membangun teologi sebagai diskursus kesaksian, bukan diskursus kebenaran doktrinal. Jika diibaratkan dengan posisi dalam ruang pengadilan, teologi berfungsi sebagai saksi, bukan sebagai hakim yang menentukan apa yang benar dan yang saling. Oleh karena itu, dalam percakapan trauma, kita pertama-tama mendengarkan apa yang terjadi dan selanjutnya menyaksikan apa yang terjadi. Tujuan kesaksian itu adalah agar kekerasan tidak terjadi lagi.
Menurut Kaethe Weingarten, dengan menjadi saksi yang penuh belas kasih, kita belajar untuk mendengarkan apa yang terjadi melalui teriakan dan tangisan dari luka. Tidak hanya itu, menjadi saksi  yang berbelas kasih juga berarti memikirkan apa yang telah kita saksikan dan membangun rencana konkrit untuk mencegah peristiwa traumatik itu terulang kembali. Dengan demikian, menjadi saksi juga harus mengusahakan pemikiran-pemikiran inovatif dalam kebijakan di ranah publik untuk mencegah peristiwa traumatik itu. Salah satu contoh hal sederhananya adalah: kecelakaan lalu lintas dapat menjadi peristiwa traumatik bagi banyak orang. Lalu bagaimana gereja memikirkan dan mewujudkan cara dan aturan agar di lingkungan sekitar gereja kecelakaan lalu lintas dapat diminimalisir.

REFERENSI

Caruth, Cathy. Unclaimed Experience: Trauma, Narrative, and History. Maryland: The John Hopkins University Press. 1996.
Jones, Serene. Trauma and Grace: Theology in a Ruptured World. Louisville: Westminster John Knox Press, 2009.
Rambo, Shelly. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining. Louisville: Westminster John Knox Press, 2010.
Wengarten, Keaethe. Common Shock: Witnessing Violence Every Day. New York: New American Library.

Kiranya gereja menjadi komunitas yang menyembuhkan, bukan menyemai trauma

Jakarta, 4 April 2014
YIL




[1] Ada kisah perempuan Papua yang diperkosa. Vaginanya dimasukan baterai. Dalam kejadian tersebut, yang dicari adalah bukti faktualnya: di mana baterainya. Namun, baterainya sudah tidak ada karena sudah dihancurkan. Padahal buktinya sebenarnya ada pada tubuh karena tubuh tersebut meneriakan luka.

Minggu, 06 April 2014

Ketika Gereja Menyemai Luka


Beberapa waktu yang lalu, aku membuat sebuah paper tentang teologi trauma. Aku mengirimkannya kepada sejumlah rekan-rekan calon pendeta dan pendeta. Dari sekian banyak respons, ada satu respons yang sangat menarik buatku. Kira-kira bunyi responsnya begini: “Semoga gereja tidak menjadi tempat untuk menumbuhkan trauma.”
Terus terang, saya agak terkejut membaca responsnya. Responsnya menyentak saya. Tidak dapat disangkal, bahwa gereja pun dapat menyebabkan trauma dan luka batin. Saya ingat, dalam kuliah sejarah gereja, dikisahkan bahwa pada abad-abad pertama, gereja pernah menangkap dan menyiksa para perempuan yang disangka sebagai penyihir. Fakta yang mengerikan bukan?  Mungkin, saat ini kita tidak sekejam itu, namun bukan berarti kekejaman dalam gereja tak ada lagi.
Saya ingat sebuah refleksi yang ditulis oleh Craig Groeschel dalam Christian Atheis. Dalam bab 12, ia memberi judul yang menarik: Ketika Kau Percaya kepada Tuhan tapi tidak kepada Gereja-Nya. Groeschel mengutip sebuah kesaksian dari orang yang ia jumpai, “Aku tidak percaya kepada gereja karena gereja-gereja yang pernah kudatangi begitu jauh dari apa yang kubaca di dalam Firman Tuhan – aku piker aku bisa menjadi Kristen yang lebih baik tanpa gereja daripada aku dengan gereja.” Bahasa yang disampaikan orang ini adalah bahasa kekecewaan atas inkonsistensi antara apa yang diyakini dan apa yang diperbuat.
Misalnya saja, gereja bicara tentang kasih, namun kita bersekongkol untuk menjauhi seseorang dalam gereja. Kita mengatakan bahwa kita berpihak pada yang menderita, namun kita memaksa anggota paduan suara yang kondisi keuangannya kurang baik untuk memakai baju seragam yang mahal. Kita berkata bahwa kita mengasihi anak-anak, namun mengeluarkan uang lebih untuk mengembangkan pendidikan anak dan kaum muda di gereja begitu sulit. Kita berkata bahwa kita menegakkan kebenaran, namun kita memfitnah dan memelintirkan fakta di dalam gereja. What an ironic!
Malam ini, saya kembali berefleksi, sejauh mana gereja menjadi komunitas yang memulihkan. Selama 8 tahun saya terjun ke dunia pelayanan gerejawi dan mengamat-amati proses kehidupan bergereja, ada sebuah percakapan yang saya ingat dan tertancap di batin saya. Percakapan ini terjadi pada salah satu gereja yang pernah saya layani. Suatu waktu, seorang rekan saya bertanya pada koster gereja di halaman depan gereja. Dia bertanya pada koster itu, “Apa sich harapan Anda untuk gereja ini?” Jawab koster yang beragama Islam ini, “Saya ingin orang-orang dating ke gereja dengan hati bersih dan soleh. Saya ingin gereja menjadi tempat yang rukun. Jangan suka menyalahkan orang saat rapat. Jangan suka mencari keuntungan dari orang lain” Saya tertunduk sedih mendengar perkataan koster ini. Ah, rupanya dia mengamati dinamika yang terjadi paska rapat.
Bagi saya, sudah waktunya gereja melakukan pertobatan kembali. Ya, gereja yang definisinya adalah kumpulan orang percaya yang mengikut Kristus harus melakukan pertobatan kembali. Mengikut Kristus bukan hanya sekadar memakai topeng, melainkan menjadi pembawa damai dan kasih. Bukan munafik! Oh gereja, masihkah engkau mau menyemai luka? Saya sedih dengan kondisi seperti ini. Tuhan pun pasti sedih, jauh lebih sedih ketimbang saya. Dia menangis tertahan dan sedih.

Jakarta, 6 April 2014

YIL

Rabu, 02 April 2014

Sepenggal coretan

Hal yang membuat spiritualitas kita kering adalah kenihilan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Ini bukan berarti kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan. Ini berarti bahwa kita tidak pernah merefleksikan perjumpaan dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan menjadi hal yang biasa dan tak terasa. Ketiadaan refleksi akan perjumpaan dengan Tuhan membuat kita hanya bicara dalam tataran kognitif: "Ya, Tuhan itu baik. Tuhan itu juru selamat. Tuhan itu sahabat." Betul, kita tahu namun kita tidak dapat merasakannya. Sebenarnya, ketika kita dapat merasakan pengalaman akan Tuhan dan mengenal siapa Dia, kita akan berjuang sampai akhir untuk mencintai-Nya dan melayani-Nya.

Tulisan ini semata-mata bukanlah sebuah tulisan kognitif. Tulisan ini adalah tentang rasa yang tersamar dalam deretan huruf-huruf. Tulisan ini adalah hasil dari sebuah momen pengenangan akan berbagai peristiwa perjumpaan dengan Tuhan yang membuat saya begitu mencintai-Nya. Walaupun harus mengalami rasa pedih perih, Tuhan ada bersama-sama dengan kita. Ia telah menunjukkan mercusuar yang telah saya cari. Ia yang akan menolong saya menaiki dan melihat ujung jalan ini.

Ketika jalan tampak suram
Ingatlah bahwa Ia pernah melalui jalan ini
Ketika kamu merasa sendirian
Rasakanlah bahwa Ia mendampingimu
Ketika kamu merasa tak dapat keluar dari pusaran
Rasakanlah bahwa Ia sedang menggapai tanganmu
Ketika kamu merasa dikecewakan
Percayalah Ia dapat mengubah hati
Ketika kamu merasa dipojokkan
Rasakanlah bahwa ia memelukmu di sudut terjauh dari kehidupan
Ketika kamu tidak mampu berjalan
Rasakanlah bahwa Ia dengan sabar sedang memapahmu

Biarlah Roh Tuhan terus menyala-nyala dalam diri kita. Kiranya Roh Tuhan menolong kita untuk berjuang, apapun yang kita hadapi di dalam hidup ini.
4 Maret 2014
YIL

Sabtu, 29 Maret 2014

Relung Renung

Malam ini, aku hanya duduk diam memandangi layar notebook di hadapanku. Aku sengaja diam dan merenung. Ya, momen yang diperlukan oleh seorang introvert untuk memaknai kehidupannya. Waktu yang sempat hilang dalam kehidupanku karena aku tertelan berbagai aktivitas organisatoris yang terkadang melelahkan.

Dalam relung renung, aku kembali memikirkan perjalanan selama setahun ini. Tak terasa sudah setahun lewat 1 bulan aku di sini. Hidup di kota besar tidaklah mudah. Aku biasa diantar oleh orang tua dan pacar selama kuliah. Namun, sekarang aku harus berjuang sendiri: mengurus tempat tinggal, mencari makanan, memasak makanan, menyiapkan khotbah, mengemudikan kendaraan, mengurus diri jika sakit, dan lain sebagainya. Aku tenggelam dalam rutinitas tanpa makna.

Aku teringat orang-orang yang menorehkan kata-kata pedas yang membakar amarah. Aku teringat berbagai kritikan yang diucapkan tanpa arah yang jelas. Aku teringat berbagai kata tak sesuai fakta yang dihujamkan. Aku mencoba menerimanya dalam senyum. Namun, aku terkadang lupa memohon agar Tuhan memulihkan aku. Aku terjebak dalam luka dan trauma yang belum dibalut.

Rutinitas tanpa makna, luka dan trauma membuat aku kadang  merasa kering-kerontang tanpa nyawa.  Nafsu cepat selesai kala menyusun refleksi terkadang muncul. Namun, aku tidak membiarkan Dia bicara pada diriku. Api yang membara itu terasa jauh dariku. Ah, kenapa lah aku seperti itu? Dalam keluluh-lantakan perasaan batin yang hampa kubertanya, "Mengapa hampa terasa, ya Tuhan?"

Malam ini, Tuhan seraya membisikan sesuatu di telingaku. Aku membuka hard-disk yang sudah lama tak kubuka. Isinya adalah panduan doa meditasi keheningan batin. File itu tertanggal bulan Maret 2013. Satu tahun lalu: masa ketika Api Roh Tuhan menyala-nyala dalam diriku. Aku mengerti yang Tuhan maksudkan. Aku hanya perlu waktu tenang, setiap pagi dan malam. Satu jam saja. Aku mau menemukan Dia dalam keheningan dan penulisan refleksi. Bukan Dia yang menjauhi aku. Akulah yang menjauhiNya. Ah, rasanya aku sudah terlalu banyak bicara. Kini saatnya aku mendengar Dia berbicara. Biarlah nyala api ini berkobar kembali.

Jakarta, akhir Maret 2014
YIL

Kamis, 27 Februari 2014

Panggilan Sebagai Sahabat



“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat tuannya,

tetapi aku menyambut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang  telah Kudengar dari Bapa-Ku.”

Yohanes 15:15

Dasar Panggilan: Sahabat bagi Allah, Diri Sendiri dan Umat

            Konsep-konsep yang biasa digunakan untuk menggambarkan panggilan pelayanan seorang pendeta adalah seorang hamba atau pemimpin yang melayani. Namun, saya tidak memilih konsep-konsep tersebut untuk mendasari dan memaknai panggilan saya. Konsep yang saya pilih adalah konsep persahabatan.

            Terus terang, persahabatan adalah hal yang saya rindukan sejak kecil, karena konsep tersebut pernah menjadi asing di dalam hidup saya. Pada masa kanak-kanak, saya pernah mengalami bullying. Segerombolan anak yang dominan memusuhi saya. Saya pernah merasa malas sekali untuk pergi ke sekolah. Saya menjadi “hamba” yang mengalami olok-olok dari “para tuan” yang adalah rekan sebaya saya. Pengalaman itu lekat di ingatan saya dan membentuk saya menjadi seorang anak yang pemurung, pendendam, minder, kaku dan sukar percaya pada orang lain. Dengan kondisi semacam itu, saya pernah berpikir bahwa menjadi pendeta itu adalah kemustahilan bagi saya.

            Tuhan menjawab keragu-raguan saya melalui apa yang saya alami dalam proses kependetaan ini. Tuhan mentransformasikan kehidupan saya dengan cara yang sangat natural. Saya belajar menerima masa lalu dan seluruh kerapuhan saya. Kemudian, secara pelan-pelan Tuhan mengubah saya. Ia mengikis sifat-sifat buruk hingga saya sendiri terheran-heran dengan perubahan yang ada di dalam diri saya.

Tidak hanya itu, Tuhan menguatkan saya lewat orang-orang yang ada di sekitar saya dengan cara yang tak terduga. Khususnya, saat saya berkali-kali ingin mundur dalam proses kependetaan karena menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan yang saya pikirkan.  Misalnya saja, saat saya dulu berencana untuk menyampaikan permohonan pengunduran diri sebagai kader pendeta GKI, mantan dosen pembimbing saya, Pdt. Em. Lazarus Purwanto menelepon saya. Pertanyaan pertama yang ia tanyakan adalah, “Yes, masih mau jadi pendeta?” Pada saat itu, diam-diam saya menangis dan terkejut dengan cara Tuhan mengingatkan saya sebagai sahabat-Nya.

Dari berbagai pengalaman itu, saya menyimpulkan dua hal yang mendasari pemahaman panggilan saya. Pertama, Tuhan memperlakukan saya sebagai sahabat dan bukan sebagai hamba, sebagaimana yang tertulis dalam Yohanes 15:15. Sebagai Sahabat, Tuhan menyingkapkan hal-hal yang menjadi pertanyaan bagi saya, walaupun jawabannya terkadang tidak sesuai dengan kehendak saya. Kedua, Tuhan mengubahkan hidup saya sehingga saya dapat menjadi sahabat bagi diri saya sendiri. Perubahan yang terjadi di dalam diri saya adalah karya Tuhan yang terjadi secara natural dan membuat saya sendiri pun terheran-heran.

Dalam refleksi saya, saya menyadari bahwa persahabatan dengan Allah dan diri saya sendiri, menghantarkan saya pada sebuah implikasi logis dari keyakinan panggilan saya yaitu menjadi sahabat bagi umat dan dunia, sebagaimana yang ditulis oleh Edward C. Zaragoza dalam No Longer Servants, but Friends. Zaragoza berkata biarlah kita menjadi sahabat bagi diri kita sendiri, sahabat bagi Allah, dan sahabat bagi sesama. Saya mau membuka pintu persahabatan bagi siapapun, khususnya bagi setiap pribadi yang merasakan hal yang dulu saya alami: terasing dan sendiri, tanpa sahabat.

.

Praksis Pastoral: Menjalani Panggilan Sebagai Sahabat

            Pemahaman panggilan saya sebagai sahabat bagi Tuhan, diri sendiri dan umat memberi dampak terhadap praksis pastoral yang saya jalankan di dalam jemaat yang Tuhan karuniakan kepada saya. Saya terinspirasi dari beberapa pokok pikiran Zaragosa mengenai praksis pastoral dalam panggilan sebagai sahabat.

Pertama, Zaragoza berkata bahwa di dalam relasi persahabatan pada sebuah komunitas, harus terdapat kesetaraan dan persatuan dalam ikatan cinta kasih untuk memberdayakan dunia. Berangkat dari definisi ini, saya mau memperlakukan semua orang dengan setara, sebagai sahabat saya. Saya tidak mau memandang orang berdasarkan usia, gender, suku dan jabatan gerejawi. Perbedaan adalah kekayaan dalam sebuah persahabatan yang harus dikelola dengan baik. Bagi saya, semua orang adalah setara di hadapan Tuhan.

Kalaupun saya akan menerima jabatan sebagai seorang penatua, hal itu tidak menjadikan bahwa seorang penatua (ataupun pendeta) lebih tinggi kedudukannya di hadapan Tuhan ketimbang seseorang yang tidak berjabatan gerejawi. Ingatlah bahwa kita semua adalah sahabat yang setara! Saya tidak mau terjadi pengkultusan individu di dalam gereja. Saya tidak mau menjadi sombong dan kemudian meremehkan orang yang tidak berjabatan gerejawi. Sebagai imamat am orang percaya, kita semua harus bahu membahu bersama dengan Tuhan yang telah menjadikan kita sebagai sahabat-Nya untuk memberdayakan dunia ke arah yang lebih baik. Apa yang saya yakini ini juga merupakan pemahaman GKI, sebagaimana yang ditulis dalam penggalan alinea ke-5 dalam Mukadimah Tata Gereja dan Tata Laksana GKI, yang berbunyi, “…Hubungan antara pejabat gerejawi dan anggota gereja bukan merupakan hubungan yang hierarkis, melainkan hubungan fungsional yang timbal balik dan dinamis, dialasi oleh kasih Allah.”

Kedua, menurut Zaragoza tidak ada kepalsuan dalam persahabatan karena dalam persahabatan ada kejujuran terhadap kerapuhan kita. Praksis pastoral kedua inilah yang saya hendak kembangkan di dalam gereja. Kejujuran bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan karena kejujuran adalah sebuah sikap membongkar kepalsuan yang menutupi diri. Tidak mudah untuk jujur atas kerapuhan dan kesalahan kita. Kita tidak ingin, orang lain melihat kelemahan kita. Buktinya, manusia seringkali marah jika menerima masukan walaupun masukan itu sudah disampaikan dengan bahasa yang konstruktif.

Saya tidak mau menjadi seorang calon pendeta yang anti-kritik dan menyelubungi kelemahan saya. Berikanlah masukan terhadap saya jika memang saya melanggar hal-hal yang prinsipil di dalam panggilan kependetaan saya. Saya pun memiliki filter tersendiri (yakni Firman Tuhan) untuk menyaring masukan yang konstruktif bagi pelayanan terhadap umat Tuhan.

Saya mau mengakui keterbatasan saya bahwa saya membutuhkan Tuhan dan orang lain untuk berjalan bersama-sama dengan saya di dalam pelayanan ini. Tentu saja, kejujuran ini tidak dapat hanya terjadi secara satu arah. Saya membutuhkan kejujuran dari jemaat GKI Kayu Putih, untuk bersama-sama menyadari keterbatasan kita. Mungkin, ada orang yang berpikir bahwa kejujuran atas keterbatasan adalah hal yang memalukan dan menunjukkan identitas kepemimpinan yang lemah. Namun, ingatlah bahwa keterbatasan adalah hal yang dipilih oleh Allah kita. Allah yang tidak terbatas itu, berinkarnasi menjadi Manusia yang terbatas. Bahkan, keterbatasan-Nya pun dikisahkan turun temurun lewat tradisi lisan maupun tulisan yang terdapat dalam Alkitab.

Hal ketiga, menurut Zaragoza dalam persahabatan ada kepercayaan. Tanpa kepercayaan, seorang pastor akan menjadi pastor yang kelelahan karena mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Karena itu, pastor yang mengembangkan prinsip panggilan persahabatan harus berani memberikan kepercayaan kepada umat. Memberikan kepercayaan kepada umat dimulai ketika pastor mengakui potensi umat, berbagi mimpi dan informasi. Ya, sebagaimana yang ditulis oleh Alyce Mckenzie. “To be a friend is to share a personal relationship and to be made aware of the plans and purposes of the other.” 

Saya tahu untuk memberikan kepercayaan bukanlah hal yang mudah, apalagi jika kepercayaan itu dikecewakan. Seringkali, kita menyalahkan orang lain pelayanan kita menjadi “gagal” dan “berantakan”. Betul bahwa memang ada orang-orang yang tidak mengemban kepercayaan kita dengan baik dan bahkan mengkhianati kita. Namun, saya berdoa agar kita semua memiliki semangat anti-kapok yakni mau mencoba untuk percaya lagi walaupun kita pernah dikecewakan. Atau jangan-jangan “kegagalan” tersebut disebabkan oleh diri kita sendiri yang tidak membagikan mimpi dan informasi dengan jelas.

Hal yang keempat yang saya tambahkan yaitu: dalam persahabatan ada penerimaan. Sikap menerima bukan hanya menerima perbedaan pandangan, suku, gender, dan tingkat ekonomi. Sikap penerimaan pun perlu dilakukan bahkan terhadap orang yang membenci kita sekalipun. Terus terang, hal ini tidak mudah untuk kita lakukan. Tentu saja, sebagai manusia kita merasa pedih dan sedih jika ada orang yang membenci kita. Namun, panggilan untuk menjadi sahabat bukan hanya ditujukan terhadap orang yang menyayangi kita dan sepandangan dengan kita.

Bagaimana caranya? Menurut saya, kuncinya adalah pengertian. Ketika kita berhadapan dengan orang-orang yang meremehkan dan membenci kita, cobalah mengerti mengapa mereka melakukannya terhadap kita. Seringkali, ketika harus berhadapan dengan situasi semacam ini, saya hanya berdoa, “Tuhan tolong saya agar saya dapat memahami dan menerima mereka. Tolong saya agar tidak membenci dia dan tetap menjadi sahabat bagi mereka.” Dalam pengalaman iman saya, Tuhan sering memberikan berbagai insight pada saya. Ia memampukan saya untuk menerima dan mengampuni, sesuatu hal yang tidak ada di dalam diri saya pada masa lalu saya.

 

Mengarungi Lautan Bersama Sahabat

Ada sebuah lagu yang sangat berkersan bagi saya, judulnya The Summons. Lagu karya John Bell dari Iona Community ini disharingkan oleh sahabat saya, pada saat saya sedang mengalami kebimbangan dalam menjalani proses kependetaan ini beberapa tahun yang lalu. Lewat lagu ini, Tuhan mengingatkan saya untuk tetap setia mengikuti-Nya yang telah menjadikan saya sebagai seorang sahabat. Demikian liriknya:

Will you come and follow me if I but call your name?
Will you go where you don't know and never be the same?
Will you let my love be shown? Will you let my name be known,
will you let my life be grown in you and you in me?

Will you leave yourself behind if I but call your name?
Will you care for cruel and kind and never be the same?
Will you risk the hostile stare should your life attract or scare?
Will you let me answer prayer in you and you in me?

Will you let the blinded see if I but call your name?
Will you set the prisoners free and never be the same?
Will you kiss the leper clean and do such as this unseen,
and admit to what I mean in you and you in me?


Will you love the "you" you hide if I but call your name?
Will you quell the fear inside and never be the same?
Will you use the faith you've found to reshape the world around,
through my sight and touch and sound in you and you in me?

Lord your summons echoes true when you but call my name.
Let me turn and follow you and never be the same.
In Your company I'll go, where Your love and footsteps show.
Thus I'll move and live and grow in you and you in me.

 

Lagu ini, menjadi semacam gambaran tentang panggilan untuk mengarungi lautan kehidupan pelayanan yang harus ditempuh. Tuhan memanggil nama kita dengan cara yang secara personal. Ia memanggil kita untuk ikut menyebarkan cinta kasih-Nya. Ia memanggil kita untuk menjadi sahabat bagi orang-orang yang terpinggirkan. Ia memanggil kita untuk tetap peduli terhadap orang yang kejam dan membenci kita. Tuhan memanggil kita untuk hidup di dalam-Nya dan Ia di dalam diri kita.

Saya memahami kata “you” dalam lagu di atas bukan untuk diri saya sendiri, melainkan untuk semua orang percaya, khususnya yang berada di GKI Kayu Putih. Dengan demikian, panggilan untuk mengarungi lautan pelayanan ini berlaku untuk kita semua. Saya tidak mungkin berjalan sendirian. Tuhan sudah lebih dulu mengulurkan tangan-Nya untuk bersahabat dengan saya. Saya membutuhkan dukungan Anda, sebagai sahabat saya, untuk mengarungi lautan pelayanan ini. Ya, sebagaimana sebuah ungkapan dalam peribahasa Irlandia, “Ada banyak bahtera yang terbuat dari kayu yang baik untuk mengarungi lautan. Namun, bahtera yang terbaik dalam mengarungi lautan hidup adalah persahabatan.”
Jakarta, 2 Februari 2014
YIL
 
 

Rabu, 08 Januari 2014

DUH, HANCUR!

“Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu.”
(2 Korintus 9:15)

“Aduh, hancur! Padahal saya sudah mengumpulkan uang susah payah untuk membeli barang ini.” Saya berkali-kali menyesal seperti itu ketika barang yang saya beli sudah rusak dan tidak dapat terpakai lagi. Apakah Saudara pernah mengalami kejadian seperti yang saya alami? Mungkin pernah! Kita menggerutu ataupun menyesal karena apa yang kita anggap berharga itu rusak. Penyesalan itu seharusnya tidak diucapkan apabila kita sebenarnya kurang menjaga barang-barang kita dengan baik. Misalnya saja, karena kecerobohan saya, saya tanpa sengaja menumpahkan air yang saya minum ke atas salah satu barang elektronik milik saya.
Saudaraku, peristiwa semacam ini, tidak hanya terjadi pada barang-barang saja. Seringkali, kita tidak mensyukuri kehadiran orang-orang yang ada di sekeliling kita. Kita sibuk dengan berbagai kepentingan diri kita sendiri dan melupakan mereka. Apa yang terjadi kemudian? Akhirnya, kita menyesal saat mereka tidak ada lagi bersama-sama dengan kita, terlebih ketika mereka meninggal dunia.
Lalu, bagaimana caranya agar penyesalan atas kehilangan itu tidak berlarut-larut dan menjadi sangat membekas? Caranya adalah dengan bersyukur atas hal-hal yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita, seperti keselamatan, materi, alam semesta, keluarga, sahabat dan bahkan bersyukur atas kehadiran orang yang mungkin telah menyakiti kita. Dimensi syukur tidak hanya sebatas kata-kata. Dimensi syukur lebih luas ketimbang ucapan.
Syukur terwujud dalam tindakkan nyata yakni menunjukkan sikap bertanggung jawab untuk menjaga dan merawat setiap hal yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita.  2 Korintus 9:15, “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu.” Dalam surat 2 Korintus ini, Paulus mengatakan bahwa jemaat Korintus harus bersyukur kepada Allah karena karunia Allah yang tak terkatakan itu. Mengapa tak terkatakan? Karena karunia Allah begitu banyak dan tidak terbatas. Dalam Alkitab Versi Bahasa Indonesia Sehari-hari, frasa ‘tak terkatakan’ ditulis dengan frasa ‘luar biasa’.

Karena itu, Paulus mengajarkan jemaat Korintus untuk bersyukur atas segala karunia Allah dengan tindakkan yang konkret, yakni melalui pelayanan kasih kepada sesama khususnya yang membutuhkan. Dengan ungkapan syukur dalam bentuk tindakan konkret ini, maka orang lain pun akan merasakan berkat Tuhan sehingga tindakkan syukur itu pun kian tersebar. Bagaimana dengan kita? Maukah kita bersyukur atas segala hal yang Tuhan anugerahkan kepada kita melalui tindakkan konkret bagi sesama kita? Maukah kita menyebarkan “virus” tindakkan syukur itu kepada sesama? Ingat, jangan sampai kita menyesal apabila semua yang telah Tuhan anugerahkan itu tidak dapat lagi kita sentuh dan lihat. 

Kayu Putih, awal Desember 2013
YIL

Minggu, 06 Oktober 2013

NILAIMU BUKAN 100!


Kisah kerelaan Abraham dalam mengorbankan Ishak anaknya (Kejadian 22:1-19) adalah kisah yang tidak asing lagi di telinga para penganut agama Yahudi dan Kristen. Hal apakah yang ada di pikiran Anda setiap kali membaca kisah ini? Dugaan saya, sebagian besar dari kita akan menjawab bahwa kisah ini mengisahkan ujian ketaatan dari Allah terhadap Abraham. Singkat cerita, Abraham berhasil melewati ujian dari Allah. Abraham berhasil mendapatkan nilai 100! Ia mendapatkan pujian atas ketaatannya dan kerelaannya mengorbankan Ishak bagi Allah. Tafsir popular semacam inilah yang berkembang di kalangan umat.
            Namun, izinkan saya untuk memilih perspektif tafsir yang berbeda ketimbang tafsiran popular itu. Bagi saya, nilai ujian Abraham bukan 100! Pilihan terhadap perspektif tafsir ini berangkat dari sebuah imajinasi dan keprihatinan saya atas tindak terorisme yang semakin merajalela. Kita teringat kisah pemboman WTC, bom Bali, dan bom Kuningan. Beberapa waktu yang lalu, tanggal 21 September 2013, kelompok ekstrimis Al-Sahab dari Somalia meledakkan bom di pusat perbelanjaan Nairobi Kenya. Sehari setelah kejadian itu, 22 September 2013 terjadi ledakkan bom bunuh diri di All Saints Church, Pakistan.
            Saya membayangkan bahwa kelompok ekstrimis –dari agama manapun—dapat menggunakan teks ini untuk membenarkan tindakkan kekerasan yang mereka lakukan atas nama Tuhan. Bukankah ketaatan Abraham saja dipuji Allah atas kerelaannya untuk membunuh anaknya untuk menjadi korban? Pararel dengan itu, bukankah teroris dapat dipuji karena kesediaan mereka untuk mati demi ketaatan mereka kepada Allah? Oh, sungguh mengerikan sekali cara tafsir ini!
Lalu, adakah alternatif tafsiran yang lain? Tentu saja ada! Saya terkesima ketika membaca tafsiran God’s Call to End Zealotry dari Joshua Stanton di Huffington Post. Dia mengatakan, ”Our desires sometimes lead us astray from what we feel is right. But sometimes even what we feel is right proves wrong.” Kira-kira inilah yang terjadi pada Abraham. Dalam Kejadian 22, Abraham merasa yakin dan bersedia membunuh Ishak, anak yang ia kasihi atas dasar penghormatan dan ketaatan kepada Allah.
Menurut Esther M. Menn, sikap Abraham ini dirangsang oleh kepercayaan masyarakat dalam tradisi timur dekat kuno. Masyarakat pada masa itu melakukan tradisi pengorbanan anak pertama/ hewan pertama yang lahir dari rahim ibu/induknya. Anak dan hewan yang pertama lahir dibunuh untuk dipersembahkan kepada dewa-dewi yang menguasai daerah mereka.
Dengan demikian, Abraham pada poin ini justru diuji untuk mengenal Allah. Hasilnya, Abraham kurang berhasil dalam ujian untuk mengenal siapakah Allah yang ia sembah. Ia melupakan perjanjian yang pernah Allah ucapkan pada dalam Kejadian 17. Ia lupa bahwa Allah adalah Allah yang penuh kasih, yang mau berdialog, seperti ketika Abraham memohon agar Allah tidak membinasakan semua orang di Sodom dan Gomora. Allah yang ia sembah berbeda dengan dewa-dewa di Timur Dekat Kuno.
Kalau kita memperhatikan teks ini, kita melihat respons Allah yang sungguh menarik, Allah langsung mengirimkan malaikatnya untuk mencegah Abraham untuk membunuh anaknya. Panggilan malaikat sebanyak dua kali --“Abraham! Abraham!”-- menandakan bahwa Allah tidak ingin Abraham membunuh Ishak. Allah tidak sama dengan dewa-dewi di Timur Dekat Kuno yang menghendaki persembahan berupa korban anak dan hewan sulung. Kata menyediakan dalam ayat 14 berasal dari bahasa Ibradi yi’reh. Yi’reh dapat diterjemahkan dengan melihat. Dengan demikian, dapat ditafsirkan bahwa Allah melihat. Allah menjadi saksi untuk menolak pengorbanan anak yang selama ini terjadi di Timur Dekat Kuno.
Dalam benak kita mungkin muncul sebuah pertanyaan, Bukankah Allah memuji Abraham atas ketaatannya kepada Allah dan malah menganugerahkan berkat? Betul, Allah memang memuji loyalitas dan pengorbanan Abraham kepada Allah. Namun, tokh Allah tetap tidak membenarkan tindakkan Abraham untuk membunuh anaknya. Allah justru mencegahnya sebagai suatu pembelajaran dalam ujian itu agar Abraham semakin mengenal Allah yang penuh kasih dan bukan Allah yang kejam. Allah pun mengingatkan Abraham dengan mengulangi janji yang pernah Ia sebutkan sebelumnya, bahwa Ia akan memberikan Abraham keturunan yang banyak seperti bintang di langit dan pasir di laut.
Bagaimana dengan kita? Jangan-jangan kita selama ini merasa benar seperti Abraham dan para teroris dalam berbagai ujian hidup yang kita hadapi. Kita merasa bahwa kita melakukan hal yang benar atas dasar ketaatan kepada Allah. Namun, faktanya hal tersebut malah melukai orang-orang yang ada di sekeliling kita. Masih layakkah hal semacam ini disebut sebagai ketaatan?
Periksalah prinsip ketaatan kita dalam ruang lingkup manapun kita berkarya. Misalnya saja, Saya teringat kisah orang tua yang mengusir dan tidak mengakui anaknya lagi karena anaknya hamil di luar nikah. Orang tuanya merasa apa yang dilakukannya benar karena anaknya dianggap menodai kekudusan Tuhan dan mencemarkan nama keluarga? Dalam ruang lingkup pekerjaan, atas dasar ketaatan pada hukum kasih, kita tidak menegur orang yang melakukan kecurangan atau bekerja dengan tidak benar. Apakah itu dapat dibenarkan? Apakah benar, dengan berlandaskan ketaatan untuk melayani Tuhan, kita membiarkan gaji karyawan berada di bawah UMR?
Bagi saya, ketaatan yang Allah maksudkan bukanlah ketaatan buta. Ketaatan yang Allah maksudkan adalah ketaatan yang kritis, untuk membedakan mana kehendak Allah dan mana yang bukan kehendak Allah. Ketaatan yang Allah maksudkan adalah ketaatan penuh untuk mengenali siapa Allah di dalam hidup kita. Bukankah ketaatan semacam ini yang perlu kita lakukan? Selamat menunaikan ketaatan yang kritis dalam berbagai ujian di dalam hidup kita.

Jakarta, 6 Oktober 2013
YIL