Paling tidak enak kalau kita terasing.
Paling tidak enak kalau kita diasingkan.
Paling menyedihkan kalau kita ditolak.
Sebenarnya, tidak ada alasan untuk mengasingkan orang lain. Etnis, gender, agama, status sosial, bahkan penyakit yang diderita seseorang tidak boleh menjadi sebuah alasan untuk mengasingkan orang lain. Inilah pesan utama dari film Nada untuk Asa, sebuah film dengan jiwa solidaritas kepada orang-orang yang didiskriminasikan karena terjangkit virus HIV. Film ini berkisah tentang Asa, seorang perempuan yang tertular virus HIV dari ayahnya sejak bayi. Asa harus berjuang hidup di tengah diskriminasi yang ia alami. Ya, mulai dari dipecat kerja, kegagalan bisnis masakannya, bahkan ditolak oleh kakek dan tantenya sejak bayi.
Ketika menonton film ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar arti pengampunan. Saya belajar arti pengorbanan. Saya belajar arti cinta yang sesungguhnya, yakni ketika kita berani menerima orang lain apa adanya.
Selain itu, kita juga bisa belajar berani. Berani menghadapi kenyataan. Apapun itu. Memang, ada kenyataan ketika kita didiskriminasikan. Namun, ada kenyataan ketika kita harus berani melawan diskriminasi tersebut. Pertanyaannya, berani gak melawan diskriminasi tersebut? Tokh kita diberi dua pilihan: tenggelam dalam kesedihan atau berani melawan.
:)
curahan berbagai refleksi atas pergumulan memaknai perjalanan dan pergelutan bersama Allah dalam kemurnian hati.
Minggu, 22 Februari 2015
Jumat, 07 November 2014
Semangat Melayani
Teks: 1 Raja-raja 19:1-8
Pendahuluan
Saudara-saudara, pernahkah Anda
merasa jenuh melayani? Saya pernah merasakan kejenuhan itu. Dalam pelayanan
saya, saya menemukan diri saya bahkan tidak sanggup lagi berefleksi dan menulis
khotbah. Saya menghadiri rapat-rapat (yang banyak di gereja saya) dengan tiada
bergairah. Faktanya adalah seperti penggalan lagu yang dinyanyikan group band
Dewa “Tubuhku ada di sini, tetapi tidak
jiwaku, KOSONG yang hanya kurasakan.” Ya, saya pernah merasakan saat-saat
ketika saya merasa kosong. Bahkan, terus terang ketika menulis refleksi ini pun
saya masih bergumul dengan masalah burn
out. Dan di kalangan pendeta sendiri,
burn out alias kehilangan semangat melayani itu sering terjadi.
Di
Alkitab kita, kita juga menemukan Nabi Elia yang sedang mengalami titik burnout dalam pelayanannya. Bayangkan,
seorang nabi besar yang mengalahkan ribuan baal sekalipun pernah masuk dalam
titik burn out. Perhatikan
kata-katanya bahwa ia sampai ingin mati saja. Ia meminta Tuhan mencabut nyawanya.
Dampak burn out memang mengerikan.
Saya sendiri menemukan, ketika saya berada di dalam titik burn out, saya menjadi seseorang yang apatis, cuek dan galak. Saya
menjadi tidak peduli pada orang lain, bahkan ketika persoalannya berat
sekalipun. Persoalan burn out bahkan merembet ke mana-mana, bisa ke pelayanan
dan bahkan ke rumah tangga kita sekalipun. Karena orang yang burn out menjadi
lupa akan kasih mula-mula dan semagat melayani yang besar.
Sharing
1. Pernahkan
Anda mengalami burn out?
2. Apa
penyebabnya?
3. Apa
ciri-cirinya dalam pelayanan?
4. Apa
dampaknya?
Tafsiran dan
Aplikasi
Saudara, dari segala hal yang tadi disebutkan, kita dapat
menarik suatu kesimpulan bahwa burn out terjadi karena diri kita mengalami
tekanan. Bentuk tekanannya bisa berbeda-beda. Ada yang tekanannya karena load pekerjaan yang banyak. Ada yang
tekanannya karena konflik yang melelahkan. Ada yang tekanannya karena ia merasa
sendiri dalam pelayanan. Ada yang tekanannya karena kejenuhan atas pekerjaan
yang sudah menjadi rutinitas. Biasanya, sumber burn out terbesar di dalam suatu komunitas adalah konflik. Kenapa
seseorang keluar? Karena konflik. Begitu juga nabi Ella. Dia merasa lelah
karena konflik yang berkepanjangan dengan Izebel. Ia takut karena Ratu Izebel
hendak membunuhnya. Ia merasa sendirian berjuang.
So, bagaimanakah
solusinya? Bagaimana agar semangat pelayanan itu tetap hidup dalam diri kita?
1. Pekalah dengan
sapaan Tuhan melalui para sahabat
Pertama-tama saya ingin menekankan bahwa penyelesaian burn out agar berubah menjadi semangat
pelayanan terletak pada Tuhan dan kita. Dalam teks kita, kita melihat bahwa
Tuhan tidak membiarkan nabi Elia seorang diri ketika mengalami burn out. Karena itu, kita harus peka
pada sapaan Tuhan. Ada orang yang memang jika burn out dia tidak peduli dengan apapun dan tidak mau bangkit.
Yakinlah, Tuhan menempatkan malaikat-malaikat penghilang burn out di sekeliling
kita. Mungkin, malaikat itu hadir dalam rupa anak kita yang memberi keceriaan.
Mungkin pula, malaikat hadir dalam rupa teman kita yang memberi dukungan dan
nasihat. Namun, mungkin ada yang datang melalui sahabat yang sedang banyak
masalah. Saudara, percaya tidak percaya, kalau saya burn out, missal karena
pekerjaan menyiapkan khotbah yang menumpuk, Tuhan justru mendatangkan lagi
banyak pekerjaan berupa orang yang konseling. Dan konseling itu memakan waktu.
Namun, pada saat mendoakan dia, saya merasa Tuhan bicara, “Perhatikanlah orang
lain dan percayalah kepada-Ku, Aku akan membantumu menyelesaikan
tugas-tugasmu.”
2. Jadilah malaikat
Tuhan!
Tuhan Allah memperhatikan nabi Elia dengan mengutus
malaikatnya yang menyuruhnya bangun dan makan. Bayangkan saja, pada saat itu
dalam pelariannya ia tidak sempat makan dan energinya habis. Tuhan mendatangkan
seorang sahabat bagi Elia untuk berjuang. Karena itu, Tuhan juga bisa mengutus
kita untuk menjadi sahabat bagi orang-orang yang burn out. Pertanyaannya, bagaimanakah cara untuk menjadi malaikat
Tuhan?
ð
Kisah seorang Narapidana yang perlu penerimaan.
Janganlah menjadi hakim, jadilah sahabat. Cermati penggunaan kata-kata
“Mestinya, seharusnya, salah sih…” Gantilah dengan kata “Saya mengerti, saya
menerima kamu, saya percaya kamu bisa berubah.”
ð
Maukah kita menjadi malaikat Tuhan?
Selamat semangat melayani, saya percaya PS Sentosa dapat
menjadi sahabat bagi setiap anggotanya dan saling mendukung agar kita terus
semangat dalam melayani. “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu, demikianlah
kamu memenuhi hukum Kristus.”
Jakarta, 7 November
2014
Writing in a burn
out moment
YIL
Rabu, 17 September 2014
Misteri Allah: Menerima karena Tak Sempurna
"Apa yang membuat seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dan pergi ke gereja?" tanya seorang rekan. Saat aku mendengarar pertanyaan itu, aku segera menjawab, "Ya karena umat merasakan Misteri Allah, mysterium tremendeum et fascinosum." Lalu temanku bertanya kembali, "Di mana letak misteri Allah itu?
Aku terdiam ketika mendengar pertanyaan lanjutan darinya. Dan aku mencoba menerka-nerka. Apakah di bagian berkat? Apakah di bagian pengakuan dosa? Temanku hanya berkata, pikirkanlah itu. Kalau kau menemukannya, gereja tidak akan mati.
Aku mulai mencari-cari jawabannya. Di manakah misteri Allah itu? Saat khotbah, aku mulai memperhatikan jemaatku. Aku pun terkadang duduk bersama dengan jemaat dan menikmati ibadah. Lalu aku mencari-cari, "Dalam titik manakah jemaat merasakan kehadiran Sang Misteri itu?" Pertanyaan ini masih menghantui pikiranku hingga beberapa bulan lamanya.
Suatu ketika aku berjumpa dengan seorang pembantu rumah tangga. Awanya aku hanya bercakap-cakap dengan dia. Kami mulai bercakap-cakap hingga akhirnya percakapan lewat pesan singkat itu berlanjut ke obrolan via telepon. Ia menceritakan berbagai keluh kesahnya kepadaku dan penderitaannya. Hingga pertemuan itu berlanjut pada pertemuan tatap muka. Saya melihat ekspresinya yang awalnya sungkan bertemu dengan saya, hingga akhirnya saya merasa dia menganggap saya sebagai kakaknya sendiri (agak ge-er.com, dan sebenarnya kami seumur loh. hehehe). Dalam perjumpaan itu, saya melihat ada satu misteri Allah yang dia rasakan, yakni: penerimaan. Dia merasa diterima dan diperlakukan sebagai manusia ketika majikannya menolak dia.
Ketika saya merasakan "AHA" momen itu, batin saya pun langsung melayang pada hasil survey yang dilakukan oleh GKI Kayu Putih. Salah satu poin penting dari survey itu adalah perihal ketakutan jemaat untuk tidak dikenal dan diterima. Hasil survey ini menarik karena yang mengalami ketakutan tidak diterima bukan hanya "anggota baru", melainkan "anggota lama". Ada kebutuhan yang besar akan penerimaan satu sama lain. Mengapa? Karena di sanalah kasih Allah itu nyata. Allah yang merangkul dan menerima semua orang. Allah yang memberikan matahari dan hujan pada orang yang baik maupun orang yang jahat.
Penerimaan... penerimaan...penerimaan... kata itu terus berbunyi di kepala saya setiap kali saya hendak memejamkan mata di penghujung malam. Aku bertanya, kenapa Allah bisa menerima manusia yang berdosa ini sedemikian rupa? Mungkin, karena Allah pernah merasakan bagaimana rasanya rapuh. Allah yang "tidak sempurna" dalam rupa manusia. Spiritualitas ketidak-sempurnaan ini jugalah yang harus dimiliki manusia. Kita perlu menyadari bahwa diri kita rapuh dan membutuhkan orang lain. Ada banyak kebencian dalam gereja yang tumbuh karena penolakan. Penolakan tumbuh karena kesombongan dan sikap merendahkan orang lain. Ada perasaan bahwa pelayanan yang kulakukan lebih baik daripada orang lain. Perfeksionis dan sombong!
Mungkin aku termasuk ke dalam kategori perfeksionis (sila bertanya pada teman-teman sekampusku dulu). Sifat perfeksionis ini membuat aku masuk ke dalam lingkaran over-critics. Dengan cepat dan jeli, aku melihat kesalahan dan kekurangan dalam diri orang lain ataupun dalam sebuah sistem. Padahal sikap over-critics dapat menimbulkan perasaan tertolak pada diri orang lain. Setidaknya, orang yang terdekat denganku pernah mengkritisi aku perihal sifat over-critics-ku.
Selama 1,5 tahun ini, aku merasa Allah banyak memperjumpakan aku dengan ke-tak-sempurnaan. Banyak hal yang tak berjalan sesuai dengan rencanaku, mulai dari rencana pribadi sampai mimpi besarku. Belum lagi, di gereja aku harus bisa bekerja sama dengan banyak orang yang kadang tidak sama kemauannya dengan kemauanku. Hidupku menjadi tidak perfect. Akan tetapi, di sinilah aku belajar arti misteri Allah. Aku belajar arti kebergantungan pada Allah dan ketidak-sempurnaan. Aku belajar untuk menerima kelemahan diriku. Aku belajar menerima bahwa ada banyak hal yang tidak bisa aku raih ketika ngotot. Aku belajar bahwa orang lain, walaupun memiliki kekurangan, pasti punya kelebihan yang mungkin aku tidak punya. Kita harus berani membuka mata bahwa ada ruang ketidak-sempurnaan. Di dalam spiritualitas ke-tidak-sempurnaan, Allah menciptakan orang lain bagi kita agar kita saling mengasihi dan melengkapi.
Aku kini menikmati spiritualitas ketidak-sempurnaan. Mengutip refleksinya Om Paulus, "Dalam kelemahankulah, kuasaMu menjadi sempurna." Spiritualitas ketidak-sempurnaan menuntun kita pada penerimaan. Penerimaan menuntun kita atas jawaban dari sebuah pertanyaan, "Mengapa orang mau pergi ke gereja dan mencintai Kristus?" Penerimaan menuntun kita pada gairah dan orgasme kehidupan bergereja. Dalam penerimaan kita merasakan dimensi "misteri Allah"
Jakarta, 17 September 2014
YIR
Rabu, 03 September 2014
Just a Free Writing about my experiences
Saat ini, saya sedang mengerjakan sebuah proyek penulisan untuk ibadah syukur pernikahan dan pelayanan Opa Loing yang akan diselenggarakan pada bulan Februari 2015. Tugas saya sangat sederhana. Saya diminta untuk mendengarkan kisah pernikahan dan pelayanan Opa Loing dan Oma Anneke dan kemudian merangkumnya dalam bentuk tulisan.
Tidak menduga, proyek ini justru menjadi berkat buat saya. Lewat kisah hidup mereka, saya melihat bagaimana kuasa Tuhan bekerja dalam kehidupan mereka. Yang paling menarik adalah kesimpulan mereka, "Kalau kami diminta mengulang masa-masa itu, kami mau." Terus terang, saya terkejut mendengar pernyataan itu karena buat saya masa-masa kehidupan mereka sungguh berat dan tak mudah. Lewat kisah itulah, saya melihat bahwa mereka berdua adalah orang yang sangat mengabdikan diri bagi Tuhan dan sangat dicintai Tuhan.
Apa kisahnya? Penasaran khan? Sayangnya kisahnya masih rahasia, tunggu saja kisahnya di tahun depan. Hehehehe...
Anyway, sedikit "jump up" ah, rupanya lewat percakapan dengan mereka, saya merasakan bimbingan Tuhan untuk melihat karya nyata Tuhan dalam hidup saya, khususnya sejak saya memutuskan untuk memasuki jalur kependetaan. Ada momen ketika saya hampir menyerah dan seakan tiada jalan untuk masalah yang saya hadapi. Masa terberat adalah sekitar dua tahun lalu. Rasanya cita-cita dan cinta itu dipertaruhkan. Padahal bagi saya, keduanya adalah panggilan. Ya, panggilan untuk melayani dan mencintai. Namun, Tuhan membuka jalan, dengan diterimanya orang yang saya cintai di salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Terus terang, saya masih memiliki kekuatiran. Namun, percakapan dengan Opa Loing dan Oma Anneke, membuat saya yakin bahwa ada yang disebut "the invisible hand" yang akan menolong kami, asal kami pun tulus mencintai Allah.
Tidak menduga, proyek ini justru menjadi berkat buat saya. Lewat kisah hidup mereka, saya melihat bagaimana kuasa Tuhan bekerja dalam kehidupan mereka. Yang paling menarik adalah kesimpulan mereka, "Kalau kami diminta mengulang masa-masa itu, kami mau." Terus terang, saya terkejut mendengar pernyataan itu karena buat saya masa-masa kehidupan mereka sungguh berat dan tak mudah. Lewat kisah itulah, saya melihat bahwa mereka berdua adalah orang yang sangat mengabdikan diri bagi Tuhan dan sangat dicintai Tuhan.
Apa kisahnya? Penasaran khan? Sayangnya kisahnya masih rahasia, tunggu saja kisahnya di tahun depan. Hehehehe...
Anyway, sedikit "jump up" ah, rupanya lewat percakapan dengan mereka, saya merasakan bimbingan Tuhan untuk melihat karya nyata Tuhan dalam hidup saya, khususnya sejak saya memutuskan untuk memasuki jalur kependetaan. Ada momen ketika saya hampir menyerah dan seakan tiada jalan untuk masalah yang saya hadapi. Masa terberat adalah sekitar dua tahun lalu. Rasanya cita-cita dan cinta itu dipertaruhkan. Padahal bagi saya, keduanya adalah panggilan. Ya, panggilan untuk melayani dan mencintai. Namun, Tuhan membuka jalan, dengan diterimanya orang yang saya cintai di salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Terus terang, saya masih memiliki kekuatiran. Namun, percakapan dengan Opa Loing dan Oma Anneke, membuat saya yakin bahwa ada yang disebut "the invisible hand" yang akan menolong kami, asal kami pun tulus mencintai Allah.
Thanks God for this opportunity.
Jakarta, 4 September 2014
YIR
Kamis, 21 Agustus 2014
Giyanti
Ruangan kedai kopi yang bernama Giyanti itu tidak besar --cenderung
kecil malah—tapi suasananya hommy banget!
Apa yang buat hommy? Pertama-tama, design interior ruangannya unik banget. Di
dindingnya banyak terdapat tulisan-tulisan inspiratif, salah satunya: teach me how to serve. Ada mesin penggiling
kopi yang mejeng di sana. Kursi-kursi dibuat berdekatan dan didesign secara
unik. Ada kursi model ayunan yang kucoba dengan perasaan sedikit gentar karena
takut jatuh. Hehehhe… Just intermezzo, di pojok ruangan indoor ada bule ganteng yang enak dipandang. :P
Sayangnya ruangannya penuh, jadi aku hanya bisa memandangi dari luar jendela
kaca. hehehhe.
Selain ruangannya, yang buat
hommy adalah kualitas pelayanannya. Hendri, pemilik kedai kopi itu, datang ke
tempat duduk kami (aku, Ka Linna dan Pak Sahat) untuk minta masukan mengenai
rasa kopinya. Selain itu, dia juga mengajak kami untuk melihat proses pembuatan
kopinya. Yang paling menarik, Hendri menceritakan idealismenya dalam mengelola
kedai kopi ini. Begini katanya:
“Kita hanya buka sampai jam 6 sore, untuk mengajarkan orang bagaimana
minum kopi yang sehat. Ini ada kaitannya dengan metabolism tubuh. Kami juga
hanya membuka toko dari hari Rabu sampai Sabtu. Aku seperti egois sich, tapi
Minggu itu hari istirahat. Hari Senin sampai Rabu kita mengolah kopi sendiri.
Kami ambil kopi dari Jawa Tengah yang hampir punah. Tujuannya biar orang
menanam dan melestarikan. Aku punya mimpi untuk buat perpustakaan di tengah
kebun kopi agar masyarakat bisa mengembangkan kopi itu. Di kedai kopi ini, kami
menawarkan keramah-tamahan, budaya Indonesia yang selalu diajarkan orang tuaku.”
Cerita Hendri itu inspiratif banget buatku. Wow…
mantap! Aku belajar arti hospitalitas. Hospitalitas adalah soal nilai yang ada
di hati kita. Dan nilai itu bukan sekadar omong kosong, mereka mengkongkretkannya dalam bentuk ruang dan tindakkan. Yup, soal ruangan: bagaimana kita menciptakan
ruangan yang hommy dan gak kaku. Soal tindakkan adalah bagaimana kita mau
terbuka untuk bicara dengan orang asing. Yeah: connecting people, kayak iklan gadget itu loh…
Oh iya, ada lagi satu hal yang
menarik dan menujukkan hospitalitas yang tinggi. Salah satu pelayan Giyanti ada
yang berkebutuhan khusus. Walau aku agak susah berkomunikasi dengan dia ketika
memesan minuman, aku mengapresiasi penerimaan kedai kopi ini terhadap orang
yang berkebutuhan khusus. Ketika dunia menertawakan mereka, kedai kopi ini
justru mengapresiasi dan memberdayakan dia.
Tuhan, aku pengen gereja bisa
terbuka dan belajar dari kedai kopi ini. Asik banget deh kalau gereja kita jadi
hommy banget. Asik banget kalau ada
tempat nongkrong yang santai dan cair untuk berhospitalitas. Rasanya indah kalau anak kecil, orang
muda sampai oma-oma bisa kongkow-kongkow bareng. Rasanya bahagia kalau gak ada
lagi orang yang menertawakan orang berkebutuhan khusus. Aku yakin, ini bukan
cuman mimpiku, tapi mimpi Tuhan juga. Yup, sebagaimana Tuhan juga punya
rancangan damai sejahtera buat kita semua di mana serigala dan anak domba bisa sama-sama
makan rumput. Tidak ada yang berbuat jahat atau busuk…
Jakarta,
20 Agustus 2014
YIL
Kamis, 03 Juli 2014
Ibu Berjilbab Merah
40
km/jam…
50
km/jam….
Cittttt…..
Braaaak….
Aku menahan motorku dengan tubuhku yang kurus kering ini.
Untung saja, jalanan sedang lengang. Tidak ada motor dan mobil yang lewat yang
mungkin saja dapat menggilasku. Tangan dan kakiku gemetaran. Aku diam mematung
di tengah jalan. Aku masih terkejut dengan kejadian itu. Barang belanjaanku
tumpah berhamburan ke jalan. Aissshhh…
Tiba-tiba, aku melihat seorang ibu lari tergopoh-gopoh ke
arahku. Ia memakai kerudung merah. Tangannya menggenggam tas belanjaan berwarna
merah. Ia langsung berjalan menuju ke arah barang belanjaanku yang jatuh berantakan.
Hmmmm…. Ada apa ini, pikirku. Aku menduga ia hendak
mengambil barang belanjaanku lalu kabur. Aku hanya memperhatikannya, sambil meringis
menahan rasa sakit di pahaku. Tapi, ia tidak menjauhiku. Ia malah mendekatiku.
Jantungku berdetak kencang. Tanganku memegang tasku dengan semakin erat. Ah, ada apa ini. Mencurigakan sekali!
Rupanya, ia mengulurkan barang belanjaanku ke lenganku. Lalu, dengan tersenyum ia berkata, “Hati-hati ndu, kalau mengendarai motor. Alon-alon.” Wajahku memerah ketika mendengarkan ia berkata begitu. Ia menolongku. Ia tak meminta apapun dariku. Ia menolongku berdiri. Setelah ia melihatku sudah bangkit, ia pamit.
Rupanya, ia mengulurkan barang belanjaanku ke lenganku. Lalu, dengan tersenyum ia berkata, “Hati-hati ndu, kalau mengendarai motor. Alon-alon.” Wajahku memerah ketika mendengarkan ia berkata begitu. Ia menolongku. Ia tak meminta apapun dariku. Ia menolongku berdiri. Setelah ia melihatku sudah bangkit, ia pamit.
Aku tertunduk malu karena telah mencurigai perempuan
berjilbab merah itu. Ia adalah orang baik. Ia melakukan apa yang dikatakan oleh
Daud dalam Amsal 3:27. “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang
berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” Kebaikan yang dilakukan
ibu berkerudung merah itu adalah kebaikan sederhana. Ia tidak menahan-nahan
kebaikan yang ada pada dirinya. Namun, kebaikannya meluluhkan kecurigaanku. Ternyata
benar bahwa kebaikan itu melintasi agama dan suku. Terima kasih, ibu berjilbab merah.
Jakarta, 3 Juli 2014
YIR
Sabtu, 28 Juni 2014
Mengenang Dwinda
1 Timotius 4:12 adalah ayat yang tidak lazim
dipakai pada ibadah penghiburan. Namun, saya menggunakannya karena ayat ini menggambarkan kehidupan Dwinda. Dwinda sudah melakukan semua pesan Paulus
kepada Timotius. Di dalam Alkitab, kita mengenal bahwa Timotius adalah seorang
muda. Sebenarnya, dia tidak muda-muda banget. Dia sudah 15 tahun membantu
pelayanan Paulus. Usianya sudah sekitar 40 tahunan, namun ia masih sering
disepelekan karena dalam masyarakat Israel yang bercorak patriakal, orang yang
berumur segitu dianggap belum kompeten untuk memimpin. Walaupun begitu, Paulus
mempercayai Timotius. Nasihat ini disampaikan Paulus kepada Timotius agar tidak
ada yang merendahkannya.
Dwinda belum berumur 40 tahun, namun
ia sudah melakukan semua nasihat Paulus itu di usianya yang masih belia. Saya
mengenal Dwinda sejak kurang lebih setahun lalu. Ia adalah salah seorang anak
katekisasi yang saya ampu bersama-sama dengan Ka Linna dan Ko Ocep. Saya
mengenal Dwinda sebagai anak yang ceria. Kemana-mana dia selalu tersenyum,
walaupun tentunya sebagaimana anak remaja yang lainnya kadang dia suka galau.
Galau karena teman, keluarga ataupun karena cinta.
Akan tetapi, dibalik semua kepolosannya
dan keceriaannya, Dwinda justru menjadi pengajar buat saya. Ia mengajarkan
kepada saya bagaimana menjadi pengikut Kristus yang penuh kasih, kesetiaan dan
kesucian. Dwinda adalah anak yang penuh
kasih. Kasih adalah suatu tindakkan menaklukan diri karena melalui kasih
kita menumbuhkan kepedulian kepada orang lain. Dwinda anak yang sangat care pada teman-temannya. Kalau membuka
facebooknya, maka yang ada adalah foto teman-teman katekisasinya. Biasanya,
profile picture anak remaja itu menunjukkan bagaimaana isi hatinya. Dwinda tahu
betul arti persahabatan, sebuah nilai yang dibangung sejak kelas katekisasi ini
dimulai.
Saya yakin, semua sahabat-sahabatnya
di kelas katekisasi tahu betul betapa
peka dan pedulinya Dwinda terhadap sahabat. Saya ingat, suatu ketika sepulang
gereja, dia bersaama teman-temannya menahan saya untuk pulang. Dia sedang
membuat video untuk temannya yang sangat berarti di hatinya. Pada saat itu,
temannya hendak pergi ke luar negeri. Kasih itu terwujud lewat perhatian yang
Dwinda berikan. Hatinya lembut dan penuh perhatian. Mungkin apa yang saya
rasakan ini pun yang dirasakan oleh keluarga dan para sahabatnya.
Dwinda juga mengajarkan kepada saya
arti kesetiaan dalam mengikut Kristus.
Dia anak yang selalu bersemangat untuk mengikuti katekisasi. Kesan inilah yang kami
dapatkan sebagai pengajar. Sebagaimana yang tantenya ceritakan, Dwinda selalu happy setiap kali mau masuk kelas
katekisasi. Dia dengan penuh antusias mengikuti camp katekisasi. Saya ingat
pada saat camp dia bertemu dengan saya di depan kamar mandi, ketika saya hendak
turun ke Jakarta. Dia bilang, “Ka Yesie,
saya senang banget ikut soloing. Ini baru pertama kalinya. Pertamanya aku takut
bagaimana gitu, tapi aku bisa melewatinya dan bisa merasakan bagaimana Tuhan.”
Bahkan yang membuat saya kagum dengan dia, dia tetap mau datang untuk disidi
bersama teman-temannya, walaupun dia sedang sakit dan akhirnya tidak sanggup
memasuki gedung gereja. Saudara, kesetiaan dalam mengikut Kristus membutuhkan
keberanian untuk melangkah walaupun kita sedang berada di dalam ketakutan dan
penderitaan. Dan Dwinda yang manis itu mengajarkan kepada saya arti kesetiaan
kepada Kristus. Ya, kesetiaan adalah ketaatan totalitas kepada Tuhan yang tak
dapat ditaklukan, apapun resikonya.
Terakhir,
Dwinda mengajarkan kepada saya arti kesucian di hadapan Tuhan. Orang yang suci adalah orang yang
bersih, ibarat gandum yang bersih dari sekam-sekamnya akibat hembusan angin. Orang
yang suci adalah orang yang berhati tulus dan murni di hadapan Tuhan, apapun
tempaan yang ia alami. Bagi saya, dengan berbagai pergumulan yang ia hadapi dan
“miracle-miracle” yang dirasakannya
dalam hidupnya, ia menjalani hidup ini dengan kesucian hati. Hatinya murni,
motivasinya lurus, tanpa pamrih. Ia mengasihi karena ia mengasihi, bukan karena
ada apa-apanya. Ia tertawa dan bersuka ria karena ia memang ceria, bukan karena
ia ingin mendapatkan sesuatu. Bahkan, ketika teman-temannya ataupun pembimbingnya
kurang memperhatikannya, ia tidak mendendam. Hatinya suci, bebas dari motivasi
buruk dan dendam.
Dalam Injil Matius 5:28, dikatakan “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena
mereka akan melihat Allah”. Dwinda telah merasakan kehadiran Allah saat ia
hidup karena kehadiran Allah memenuhi dirinya yang suci hatinya. Terlebih saat
ini, Dwinda sudah melihat Allah. Pejamkanlah mata saudara dan lihatlah dengan
mata batin kita bahwa Bapa sedang menggandeng Dwinda yang sedang tersenyum. Dwinda
ingin dikenang ketika kita melakukan apa yang ia sudah lakukan yakni saat kita
hidup dengan penuh kasih, kesetiaan dan kesucian di hadapan Tuhan.
To know you is a miracle for me…
Jakarta, 26 Juni 2014
YIR
Langganan:
Postingan (Atom)