Sabtu, 18 April 2015

CINTA = BERANI MENAHAN SAKIT

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”
(1 Yohanes 4:18)

“Ma, buku PR ku ketinggalan. Tolong donk, Mama ambilin bukunya. Lalu bukunya tolong diantar ke sekolahku.” Kata Shandy. Mamanya berkata, “Nak, Mama khan semalam sudah mengingatkan kamu. Koq bisa ketinggalan?” “Iya Ma, soalnya aku kemarin asik main game. Tolongin aku donk Ma. Aku nggak mau dimarahi guruku. Aku takut banget nih Ma. Please, antarin yah sebelum sewaktu jam istirahat” rengek Shandy dengan mata yang berkaca-kaca. Mamanya tak tega melihat Shendy. Ia kemudian menghela nafas dan berkata, “Ya sudah deh, nanti Mama suruh supir kita mengantar ke sekolahmu.”

Percakapan imajiner itu mungkin pernah terjadi pada diri kita atau keluarga kita. Kita selalu menuruti kehendak anak kita atau orang yang kita kasihi. Tapi apakah cara mendidik seperti itu benar? Apakah tindakkan seperti itu menunjukkan cinta yang besar kepada orang yang kita cintai? Menurut saya, tidak.
Hal yang menjadi pertanyaan kunci bagi kita adalah, apakah yang lebih dominan adalah perasaan cinta atau perasaan ketidak-tegaan? Orang yang mencintai akan berpikir jauh ke depan, yakni apakah tindakkannya mendewasakan anaknya? Saya mengapresiasi orang-orang yang membiarkan anak-anaknya mengalami tantangan, ditegur dan dimarahi orang lain. Mengapa? Karena ia memberikan modal hidup bagi anaknya.

Sebaliknya, di balik ketidak-tegaan ada perasaan tidak siap menahan sakit. Ada banyak orang yang tak dapat menahan “sakit” dalam dirinya sendiri ketika melihat anaknya ataupun orang yang dikasihinya “sengsara”. Ada keenganan untuk menahan sakit di hati kita sendiri. Padahal, tindakkan itu tidaklah mendidik dan mendewasakannya. Kita justru menjerumuskan anak kita ketika kita terjebak dalam perasaan ketidak-tegaan alias kasih yang semu. Ada “hukuman” yang akan ia tuai di masa depannya.
Saudara, cinta itu adalah sikap berani menahan sakit. Dalam 1 Yohanes 4:18, dikatakan bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan. Secara garis besar 1 Yohanes 4:7-21 adalah perikop yang menegaskan kasih Allah kepada kita. Allah yang mengasihi kita tidak menyelamatkan kita dengan cara instans, walaupun Ia bisa saja melakukannya. Allah tidak seperti orang tua yang tidak tega melihat anaknya menderita dan mengabulkan keinginannya ketika anaknya merengek. Allah adalah Allah yang mengasihi kita dan berproses bersama-sama dengan kita melalui inkarnasi Kristus. Kristus begitu mengasihi kita sehingga Ia mau “menahan sakit” dengan turun ke dunia ini. Inilah yang disebut dengan pengosongan diri. Ia mau “menahan sakit” dengan merasakan sakit yang kita alami. Ia hadir bersama-sama dengan kita.

Berani mencintai adalah sikap berani menahan sakit demi orang yang dicintainya. Ketulusan dan kedalaman cinta dibuktikan dari keberanian kita untuk “menahan sakit” agar kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik lagi. Selamat menyelami kasih Allah yang besar dalam momen pengenangan akan kisah sengsara Kristus.

Jakarta, dalam sebuah refleksi
YIL

Minggu, 22 Maret 2015

Di Balik Kata “Saudara” atau “Kita”

Setiap saya selesai berkhotbah, saya suka memperhatikan kata ganti yang saya gunakan. Beberapa kata ganti yang sering saya gunakan adalah kata “saudara” dan “kita”. Saya berusaha sekonsisten mungkin menggunakan kata “kita” ketika berkhotbah. Penggunaan kata ini dijiwai dari sebuah semangat bahwa saya berkhotbah bukan hanya untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri.

Akan tetapi, ada kalanya ketika saya keceplosan menggunakan kata “saudara”. Dan saya memperhatikan momen-momen ketika saya menggunakan kata “saudara”. Rupanya kata-kata itu muncul ketika saya menyadari bahwa apa yang saya khotbahkan sangatlah berat dan rasanya saya ingin menampik firman itu dari wajah saya.

Inilah yang saya renungkan setelah kemarin berkhotbah di Kebaktian Pemuda. Ayat yang menjadi kunci adalah “Barangsiapa mencintai nyawanya, akan kehilangan nyawanya.” Sulit rasanya mengkhotbahkan sesuatu yang sangat berat, apalagi melakukannya. Saya lebih sering mengucapkan kata “saudara” ketimbang “kita”. Ya, ini menunjukkan bahwa di balik khotbah saya kemarin, ada keengganan bahwa saya pun harus belajar mencintai secara benar.

Dalam perjalanan proses kependetaan ini, ada satu permintaan saya kepada Tuhan. Tuhan jangan ambil hal yang paling berarti di dalam hidup saya. Hal itu adalah “nyawa” saya. Saya tahu permintaan itu menjadi titik lemah saya. Sedihnya, pada hampir penghujung proses ini Tuhan membenturkan saya dengan permintaan saya itu. Saya diperhadapkan dengan pergumulan mencinta itu sendiri. Apa yang saya inginkan dan pertahankan, seolah hendak direbut oleh Tuhan. Saya merasa seperti Ayub yang dibenturkan dengan berbagai pengalaman kehilangan, tuduhan negatif dari orang sekitarnya dan merasakan serangan gatal di tubuhnya. Seluruh tubuh, jiwa dan roh menahan perih pedihnya sakit.

Saya berteriak mencari Tuhan, namun Tuhan senyap. Ia tidak berbicara. Saya berlari hingga terjatuh. Namun, sungguh Tuhan menyayangkan nyawa saya. Ia tidak membiarkan saya mati tergilas mobil. Sekali lagi, Ia menyayangkan nyawa saya. Suatu pengalaman iman yang penuh tanda tanya. Di tengah kesedihan saya, Ia tidak menunjukkan suaranya sedikitpun. Bahkan, tidak sama sekali. Saya bertanya, mengapa Tuhan Engkau diam? Saya bertanya tentang orang lain dalam doa dan Engkau menjawab. Namun mengapa saat saya bertanya tentang diri saya, Engkau tidak menjawab. Seolah Tuhan tidak mau dipusingkan dengan apa yang saya pikirkan dan gumulkan.

Sampai satu titik ketika saya harus mengkhotbahkan perikop kemarin. Saya semakin sukar untuk menuliskan refleksi saya dalam notebook saya, seperti yang biasa saya lakukan. Dan saya tertegun karena Allah rupanya ingin menggocok saya hingga saya mengenal siapa Dia dalam pergumulan ini. Ia menyatakan kepada saya arti cinta yang sesungguhnya. Ya, arti cinta yang membangun dan bukan cinta yang destruktif.

Cinta yang destruktif adalah cinta yang posesif dan obesesif. Posesif karena menganggap sesuatu yang kita cintai sebagai objek, boneka. Obsesif karena kita menghalalkan segala cara agar mendapatkan sesuatu yang kita cintai. Akan tetapi, cinta yang destruktif tidaklah kekal. Cinta yang destruktif mengakibatkan kehilangan. Ya, barangsiapa mencintai nyawanya akan kehilangan nyawanya.

Lawan dari cinta yang destruktif adalah cinta yang membangun. Cinta yang membangun tidak takut kehilangan. Cinta yang membangun tidak takut menahan perihnya luka. Cinta yang membangun tidak takut mati. Ini seperti yang dikatakan oleh penulis 1 Yohanes 4:18, “No fear in love”. Cinta yang sesungguhnya tidak posesif sehingga tidak takut kehilangan. Cinta yang sesungguhnya tidak takut memberi. Bahkan ketika kehilangan pun, ia rela.

Terima kasih kata “kita” dan “saudara” karena sudah mengingatkan bahwa saya pun masih harus belajar mencinta.

Jakarta, 23 Maret 2015
YIL

Minggu, 22 Februari 2015

Nada untuk Asa

Paling tidak enak kalau kita terasing.
Paling tidak enak kalau kita diasingkan.
Paling menyedihkan kalau kita ditolak.

Sebenarnya, tidak ada alasan untuk mengasingkan orang lain. Etnis, gender, agama, status sosial, bahkan penyakit yang diderita seseorang tidak boleh menjadi sebuah alasan untuk mengasingkan orang lain. Inilah pesan utama dari film Nada untuk Asa, sebuah film dengan jiwa solidaritas kepada orang-orang yang didiskriminasikan karena terjangkit virus HIV. Film ini berkisah tentang Asa, seorang perempuan yang tertular virus HIV dari ayahnya sejak bayi. Asa harus berjuang hidup di tengah diskriminasi yang ia alami. Ya, mulai dari dipecat kerja, kegagalan bisnis masakannya, bahkan ditolak oleh kakek dan tantenya sejak bayi.

Ketika menonton film ini, saya belajar banyak hal. Saya belajar arti pengampunan. Saya belajar arti pengorbanan. Saya belajar arti cinta yang sesungguhnya, yakni ketika kita berani menerima orang lain apa adanya.

Selain itu, kita juga bisa belajar berani. Berani menghadapi kenyataan. Apapun itu. Memang, ada kenyataan ketika kita didiskriminasikan. Namun, ada kenyataan ketika kita harus berani melawan diskriminasi tersebut. Pertanyaannya, berani gak melawan diskriminasi tersebut? Tokh kita diberi dua pilihan: tenggelam dalam kesedihan atau berani melawan.

:)

Jumat, 07 November 2014

Semangat Melayani


Teks: 1 Raja-raja 19:1-8

Pendahuluan
Saudara-saudara, pernahkah Anda merasa jenuh melayani? Saya pernah merasakan kejenuhan itu. Dalam pelayanan saya, saya menemukan diri saya bahkan tidak sanggup lagi berefleksi dan menulis khotbah. Saya menghadiri rapat-rapat (yang banyak di gereja saya) dengan tiada bergairah. Faktanya adalah seperti penggalan lagu yang dinyanyikan group band Dewa “Tubuhku ada di sini, tetapi tidak jiwaku, KOSONG yang hanya kurasakan.” Ya, saya pernah merasakan saat-saat ketika saya merasa kosong. Bahkan, terus terang ketika menulis refleksi ini pun saya masih bergumul dengan masalah burn out. Dan di kalangan pendeta sendiri, burn out alias kehilangan semangat melayani itu sering terjadi.
                Di Alkitab kita, kita juga menemukan Nabi Elia yang sedang mengalami titik burnout dalam pelayanannya. Bayangkan, seorang nabi besar yang mengalahkan ribuan baal sekalipun pernah masuk dalam titik burn out. Perhatikan kata-katanya bahwa ia sampai ingin mati saja. Ia meminta Tuhan mencabut nyawanya. Dampak burn out memang mengerikan. Saya sendiri menemukan, ketika saya berada di dalam titik burn out, saya menjadi seseorang yang apatis, cuek dan galak. Saya menjadi tidak peduli pada orang lain, bahkan ketika persoalannya berat sekalipun. Persoalan burn out bahkan merembet ke mana-mana, bisa ke pelayanan dan bahkan ke rumah tangga kita sekalipun. Karena orang yang burn out menjadi lupa akan kasih mula-mula dan semagat melayani yang besar.

Sharing
1.       Pernahkan Anda mengalami burn out?
2.       Apa penyebabnya?
3.       Apa ciri-cirinya dalam pelayanan?
4.       Apa dampaknya?

Tafsiran dan Aplikasi
Saudara, dari segala hal yang tadi disebutkan, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa burn out terjadi karena diri kita mengalami tekanan. Bentuk tekanannya bisa berbeda-beda. Ada yang tekanannya karena load pekerjaan yang banyak. Ada yang tekanannya karena konflik yang melelahkan. Ada yang tekanannya karena ia merasa sendiri dalam pelayanan. Ada yang tekanannya karena kejenuhan atas pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas. Biasanya, sumber burn out terbesar di dalam suatu komunitas adalah konflik. Kenapa seseorang keluar? Karena konflik. Begitu juga nabi Ella. Dia merasa lelah karena konflik yang berkepanjangan dengan Izebel. Ia takut karena Ratu Izebel hendak membunuhnya. Ia merasa sendirian berjuang.

So, bagaimanakah solusinya? Bagaimana agar semangat pelayanan itu tetap hidup dalam diri kita?
1. Pekalah dengan sapaan Tuhan melalui para sahabat
Pertama-tama saya ingin menekankan bahwa penyelesaian burn out agar berubah menjadi semangat pelayanan terletak pada Tuhan dan kita. Dalam teks kita, kita melihat bahwa Tuhan tidak membiarkan nabi Elia seorang diri ketika mengalami burn out. Karena itu, kita harus peka pada sapaan Tuhan. Ada orang yang memang jika burn out dia tidak peduli dengan apapun dan tidak mau bangkit. Yakinlah, Tuhan menempatkan malaikat-malaikat penghilang burn out di sekeliling kita. Mungkin, malaikat itu hadir dalam rupa anak kita yang memberi keceriaan. Mungkin pula, malaikat hadir dalam rupa teman kita yang memberi dukungan dan nasihat. Namun, mungkin ada yang datang melalui sahabat yang sedang banyak masalah. Saudara, percaya tidak percaya, kalau saya burn out, missal karena pekerjaan menyiapkan khotbah yang menumpuk, Tuhan justru mendatangkan lagi banyak pekerjaan berupa orang yang konseling. Dan konseling itu memakan waktu. Namun, pada saat mendoakan dia, saya merasa Tuhan bicara, “Perhatikanlah orang lain dan percayalah kepada-Ku, Aku akan membantumu menyelesaikan tugas-tugasmu.”

2. Jadilah malaikat Tuhan!
Tuhan Allah memperhatikan nabi Elia dengan mengutus malaikatnya yang menyuruhnya bangun dan makan. Bayangkan saja, pada saat itu dalam pelariannya ia tidak sempat makan dan energinya habis. Tuhan mendatangkan seorang sahabat bagi Elia untuk berjuang. Karena itu, Tuhan juga bisa mengutus kita untuk menjadi sahabat bagi orang-orang yang burn out. Pertanyaannya, bagaimanakah cara untuk menjadi malaikat Tuhan?
ð  Kisah seorang Narapidana yang perlu penerimaan. Janganlah menjadi hakim, jadilah sahabat. Cermati penggunaan kata-kata “Mestinya, seharusnya, salah sih…” Gantilah dengan kata “Saya mengerti, saya menerima kamu, saya percaya kamu bisa berubah.”
ð  Maukah kita menjadi malaikat Tuhan?

Selamat semangat melayani, saya percaya PS Sentosa dapat menjadi sahabat bagi setiap anggotanya dan saling mendukung agar kita terus semangat dalam melayani. “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Jakarta, 7 November 2014
Writing in a burn out moment
YIL



Rabu, 17 September 2014

Misteri Allah: Menerima karena Tak Sempurna

"Apa yang membuat seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dan pergi ke gereja?" tanya seorang rekan. Saat aku mendengarar pertanyaan itu, aku segera menjawab, "Ya karena umat merasakan Misteri Allah, mysterium tremendeum et fascinosum." Lalu temanku bertanya kembali, "Di mana letak misteri Allah itu?

Aku terdiam ketika mendengar pertanyaan lanjutan darinya. Dan aku mencoba menerka-nerka. Apakah di bagian berkat? Apakah di bagian pengakuan dosa? Temanku hanya berkata, pikirkanlah itu. Kalau kau menemukannya, gereja tidak akan mati.

Aku mulai mencari-cari jawabannya. Di manakah misteri Allah itu? Saat khotbah, aku mulai memperhatikan jemaatku. Aku pun terkadang duduk bersama dengan jemaat dan menikmati ibadah. Lalu aku mencari-cari, "Dalam titik manakah jemaat merasakan kehadiran Sang Misteri itu?" Pertanyaan ini masih menghantui pikiranku hingga beberapa bulan lamanya.

Suatu ketika aku berjumpa dengan seorang pembantu rumah tangga. Awanya aku hanya bercakap-cakap dengan dia. Kami mulai bercakap-cakap hingga akhirnya percakapan lewat pesan singkat itu berlanjut ke obrolan via telepon. Ia menceritakan berbagai keluh kesahnya kepadaku dan penderitaannya. Hingga pertemuan itu berlanjut pada pertemuan tatap muka. Saya melihat ekspresinya yang awalnya sungkan bertemu dengan saya, hingga akhirnya saya merasa dia menganggap saya sebagai kakaknya sendiri (agak ge-er.com, dan sebenarnya kami seumur loh. hehehe). Dalam perjumpaan itu, saya melihat ada satu misteri Allah yang dia rasakan, yakni: penerimaan. Dia merasa diterima dan diperlakukan sebagai manusia ketika majikannya menolak dia.  

Ketika saya merasakan "AHA" momen itu, batin saya pun langsung melayang pada hasil survey yang dilakukan oleh GKI Kayu Putih. Salah satu poin penting dari survey itu adalah perihal ketakutan jemaat untuk tidak dikenal dan diterima. Hasil survey ini menarik karena yang mengalami ketakutan tidak diterima bukan hanya "anggota baru", melainkan "anggota lama". Ada kebutuhan yang besar akan penerimaan satu sama lain. Mengapa? Karena di sanalah kasih Allah itu nyata. Allah yang merangkul dan menerima semua orang. Allah yang memberikan matahari dan hujan pada orang yang baik maupun orang yang jahat.

Penerimaan... penerimaan...penerimaan... kata itu terus berbunyi di kepala saya setiap kali saya hendak memejamkan mata di penghujung malam. Aku bertanya, kenapa Allah bisa menerima manusia yang berdosa ini sedemikian rupa? Mungkin, karena Allah pernah merasakan bagaimana rasanya rapuh. Allah yang "tidak sempurna" dalam rupa manusia. Spiritualitas ketidak-sempurnaan ini jugalah yang harus dimiliki manusia. Kita perlu menyadari bahwa diri kita rapuh dan membutuhkan orang lain. Ada banyak kebencian dalam gereja yang tumbuh karena penolakan. Penolakan tumbuh karena kesombongan dan sikap merendahkan orang lain. Ada perasaan bahwa pelayanan yang kulakukan lebih baik daripada orang lain. Perfeksionis dan sombong!

Mungkin aku termasuk ke dalam kategori perfeksionis (sila bertanya pada teman-teman sekampusku dulu). Sifat perfeksionis ini membuat aku masuk ke dalam lingkaran over-critics. Dengan cepat dan jeli, aku melihat kesalahan dan kekurangan dalam diri orang lain ataupun dalam sebuah sistem.  Padahal sikap over-critics dapat menimbulkan perasaan tertolak pada diri orang lain. Setidaknya, orang yang terdekat denganku pernah mengkritisi aku perihal sifat over-critics-ku. 

Selama 1,5 tahun ini, aku merasa Allah banyak memperjumpakan aku dengan ke-tak-sempurnaan. Banyak hal yang tak berjalan sesuai dengan rencanaku, mulai dari rencana pribadi sampai mimpi besarku. Belum lagi, di gereja aku harus bisa bekerja sama dengan banyak orang yang kadang tidak sama kemauannya dengan kemauanku. Hidupku menjadi tidak perfect. Akan tetapi, di sinilah aku belajar arti misteri Allah. Aku belajar arti kebergantungan pada Allah dan ketidak-sempurnaan. Aku belajar untuk menerima kelemahan diriku. Aku belajar menerima bahwa ada banyak hal yang tidak bisa aku raih ketika ngotot. Aku belajar bahwa orang lain, walaupun memiliki kekurangan, pasti punya kelebihan yang mungkin aku tidak punya. Kita harus berani membuka mata bahwa ada ruang ketidak-sempurnaan. Di dalam spiritualitas ke-tidak-sempurnaan,  Allah menciptakan orang lain bagi kita agar kita saling mengasihi dan melengkapi. 

Aku kini menikmati spiritualitas ketidak-sempurnaan. Mengutip refleksinya Om Paulus, "Dalam kelemahankulah, kuasaMu menjadi sempurna." Spiritualitas ketidak-sempurnaan menuntun kita pada penerimaan. Penerimaan menuntun kita atas jawaban dari sebuah pertanyaan, "Mengapa orang mau pergi ke gereja dan mencintai Kristus?" Penerimaan menuntun kita pada gairah dan orgasme kehidupan bergereja. Dalam penerimaan kita merasakan dimensi "misteri Allah"

Jakarta, 17 September 2014 
YIR

Rabu, 03 September 2014

Just a Free Writing about my experiences

Saat ini, saya sedang mengerjakan sebuah proyek penulisan untuk ibadah syukur pernikahan dan pelayanan Opa Loing yang akan diselenggarakan pada bulan Februari 2015. Tugas saya sangat sederhana. Saya diminta untuk mendengarkan kisah pernikahan dan pelayanan Opa Loing dan Oma Anneke dan kemudian merangkumnya dalam bentuk tulisan.

Tidak menduga, proyek ini justru menjadi berkat buat saya. Lewat kisah hidup mereka, saya melihat bagaimana kuasa Tuhan bekerja dalam kehidupan mereka. Yang paling menarik adalah kesimpulan mereka, "Kalau kami diminta mengulang masa-masa itu, kami mau." Terus terang, saya terkejut mendengar pernyataan itu karena buat saya masa-masa kehidupan mereka sungguh berat dan tak mudah. Lewat kisah itulah, saya melihat bahwa mereka berdua adalah orang yang sangat mengabdikan diri bagi Tuhan dan sangat dicintai Tuhan.

Apa kisahnya? Penasaran khan? Sayangnya kisahnya masih rahasia, tunggu saja kisahnya di tahun depan. Hehehehe...

Anyway, sedikit "jump up" ah, rupanya lewat percakapan dengan mereka, saya merasakan bimbingan Tuhan untuk melihat karya nyata Tuhan dalam hidup saya, khususnya sejak saya memutuskan untuk memasuki jalur kependetaan. Ada momen ketika saya hampir menyerah dan seakan tiada jalan untuk masalah yang saya hadapi. Masa terberat adalah sekitar dua tahun lalu. Rasanya cita-cita dan cinta itu dipertaruhkan. Padahal bagi saya, keduanya adalah panggilan. Ya, panggilan untuk melayani dan mencintai. Namun, Tuhan membuka jalan, dengan diterimanya orang yang saya cintai di salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Terus terang, saya masih memiliki kekuatiran. Namun, percakapan dengan Opa Loing dan Oma Anneke, membuat saya yakin bahwa ada yang disebut "the invisible hand" yang akan menolong kami, asal kami pun tulus mencintai Allah.

Thanks God for this opportunity.
Jakarta, 4 September 2014
YIR 



Kamis, 21 Agustus 2014

Giyanti


Ruangan kedai kopi yang bernama Giyanti itu tidak besar --cenderung kecil malah—tapi suasananya hommy banget! Apa yang buat hommy? Pertama-tama, design interior ruangannya unik banget. Di dindingnya banyak terdapat tulisan-tulisan inspiratif, salah satunya: teach me how to serve. Ada mesin penggiling kopi yang mejeng di sana. Kursi-kursi dibuat berdekatan dan didesign secara unik. Ada kursi model ayunan yang kucoba dengan perasaan sedikit gentar karena takut jatuh. Hehehhe… Just intermezzo, di pojok ruangan indoor ada bule ganteng yang enak dipandang. :P Sayangnya ruangannya penuh, jadi aku hanya bisa memandangi dari luar jendela kaca. hehehhe.
Selain ruangannya, yang buat hommy adalah kualitas pelayanannya. Hendri, pemilik kedai kopi itu, datang ke tempat duduk kami (aku, Ka Linna dan Pak Sahat) untuk minta masukan mengenai rasa kopinya. Selain itu, dia juga mengajak kami untuk melihat proses pembuatan kopinya. Yang paling menarik, Hendri menceritakan idealismenya dalam mengelola kedai kopi ini. Begini katanya:
“Kita hanya buka sampai jam 6 sore, untuk mengajarkan orang bagaimana minum kopi yang sehat. Ini ada kaitannya dengan metabolism tubuh. Kami juga hanya membuka toko dari hari Rabu sampai Sabtu. Aku seperti egois sich, tapi Minggu itu hari istirahat. Hari Senin sampai Rabu kita mengolah kopi sendiri. Kami ambil kopi dari Jawa Tengah yang hampir punah. Tujuannya biar orang menanam dan melestarikan. Aku punya mimpi untuk buat perpustakaan di tengah kebun kopi agar masyarakat bisa mengembangkan kopi itu. Di kedai kopi ini, kami menawarkan keramah-tamahan, budaya Indonesia yang selalu diajarkan orang tuaku.”
Cerita Hendri itu inspiratif banget buatku. Wow… mantap! Aku belajar arti hospitalitas. Hospitalitas adalah soal nilai yang ada di hati kita. Dan nilai itu bukan sekadar omong kosong, mereka mengkongkretkannya dalam bentuk ruang dan tindakkan. Yup, soal ruangan: bagaimana kita menciptakan ruangan yang hommy dan gak kaku. Soal tindakkan adalah bagaimana kita mau terbuka untuk bicara dengan orang asing. Yeah: connecting people, kayak iklan gadget itu loh…
Oh iya, ada lagi satu hal yang menarik dan menujukkan hospitalitas yang tinggi. Salah satu pelayan Giyanti ada yang berkebutuhan khusus. Walau aku agak susah berkomunikasi dengan dia ketika memesan minuman, aku mengapresiasi penerimaan kedai kopi ini terhadap orang yang berkebutuhan khusus. Ketika dunia menertawakan mereka, kedai kopi ini justru mengapresiasi dan memberdayakan dia.
Tuhan, aku pengen gereja bisa terbuka dan belajar dari kedai kopi ini. Asik banget deh kalau gereja kita jadi hommy banget. Asik banget kalau ada tempat nongkrong yang santai dan cair untuk berhospitalitas. Rasanya indah kalau anak kecil, orang muda sampai oma-oma bisa kongkow-kongkow bareng. Rasanya bahagia kalau gak ada lagi orang yang menertawakan orang berkebutuhan khusus. Aku yakin, ini bukan cuman mimpiku, tapi mimpi Tuhan juga. Yup, sebagaimana Tuhan juga punya rancangan damai sejahtera buat kita semua di mana serigala dan anak domba bisa sama-sama makan rumput. Tidak ada yang berbuat jahat atau busuk…

Jakarta, 20 Agustus 2014

YIL