Jumat, 07 November 2014

Semangat Melayani


Teks: 1 Raja-raja 19:1-8

Pendahuluan
Saudara-saudara, pernahkah Anda merasa jenuh melayani? Saya pernah merasakan kejenuhan itu. Dalam pelayanan saya, saya menemukan diri saya bahkan tidak sanggup lagi berefleksi dan menulis khotbah. Saya menghadiri rapat-rapat (yang banyak di gereja saya) dengan tiada bergairah. Faktanya adalah seperti penggalan lagu yang dinyanyikan group band Dewa “Tubuhku ada di sini, tetapi tidak jiwaku, KOSONG yang hanya kurasakan.” Ya, saya pernah merasakan saat-saat ketika saya merasa kosong. Bahkan, terus terang ketika menulis refleksi ini pun saya masih bergumul dengan masalah burn out. Dan di kalangan pendeta sendiri, burn out alias kehilangan semangat melayani itu sering terjadi.
                Di Alkitab kita, kita juga menemukan Nabi Elia yang sedang mengalami titik burnout dalam pelayanannya. Bayangkan, seorang nabi besar yang mengalahkan ribuan baal sekalipun pernah masuk dalam titik burn out. Perhatikan kata-katanya bahwa ia sampai ingin mati saja. Ia meminta Tuhan mencabut nyawanya. Dampak burn out memang mengerikan. Saya sendiri menemukan, ketika saya berada di dalam titik burn out, saya menjadi seseorang yang apatis, cuek dan galak. Saya menjadi tidak peduli pada orang lain, bahkan ketika persoalannya berat sekalipun. Persoalan burn out bahkan merembet ke mana-mana, bisa ke pelayanan dan bahkan ke rumah tangga kita sekalipun. Karena orang yang burn out menjadi lupa akan kasih mula-mula dan semagat melayani yang besar.

Sharing
1.       Pernahkan Anda mengalami burn out?
2.       Apa penyebabnya?
3.       Apa ciri-cirinya dalam pelayanan?
4.       Apa dampaknya?

Tafsiran dan Aplikasi
Saudara, dari segala hal yang tadi disebutkan, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa burn out terjadi karena diri kita mengalami tekanan. Bentuk tekanannya bisa berbeda-beda. Ada yang tekanannya karena load pekerjaan yang banyak. Ada yang tekanannya karena konflik yang melelahkan. Ada yang tekanannya karena ia merasa sendiri dalam pelayanan. Ada yang tekanannya karena kejenuhan atas pekerjaan yang sudah menjadi rutinitas. Biasanya, sumber burn out terbesar di dalam suatu komunitas adalah konflik. Kenapa seseorang keluar? Karena konflik. Begitu juga nabi Ella. Dia merasa lelah karena konflik yang berkepanjangan dengan Izebel. Ia takut karena Ratu Izebel hendak membunuhnya. Ia merasa sendirian berjuang.

So, bagaimanakah solusinya? Bagaimana agar semangat pelayanan itu tetap hidup dalam diri kita?
1. Pekalah dengan sapaan Tuhan melalui para sahabat
Pertama-tama saya ingin menekankan bahwa penyelesaian burn out agar berubah menjadi semangat pelayanan terletak pada Tuhan dan kita. Dalam teks kita, kita melihat bahwa Tuhan tidak membiarkan nabi Elia seorang diri ketika mengalami burn out. Karena itu, kita harus peka pada sapaan Tuhan. Ada orang yang memang jika burn out dia tidak peduli dengan apapun dan tidak mau bangkit. Yakinlah, Tuhan menempatkan malaikat-malaikat penghilang burn out di sekeliling kita. Mungkin, malaikat itu hadir dalam rupa anak kita yang memberi keceriaan. Mungkin pula, malaikat hadir dalam rupa teman kita yang memberi dukungan dan nasihat. Namun, mungkin ada yang datang melalui sahabat yang sedang banyak masalah. Saudara, percaya tidak percaya, kalau saya burn out, missal karena pekerjaan menyiapkan khotbah yang menumpuk, Tuhan justru mendatangkan lagi banyak pekerjaan berupa orang yang konseling. Dan konseling itu memakan waktu. Namun, pada saat mendoakan dia, saya merasa Tuhan bicara, “Perhatikanlah orang lain dan percayalah kepada-Ku, Aku akan membantumu menyelesaikan tugas-tugasmu.”

2. Jadilah malaikat Tuhan!
Tuhan Allah memperhatikan nabi Elia dengan mengutus malaikatnya yang menyuruhnya bangun dan makan. Bayangkan saja, pada saat itu dalam pelariannya ia tidak sempat makan dan energinya habis. Tuhan mendatangkan seorang sahabat bagi Elia untuk berjuang. Karena itu, Tuhan juga bisa mengutus kita untuk menjadi sahabat bagi orang-orang yang burn out. Pertanyaannya, bagaimanakah cara untuk menjadi malaikat Tuhan?
ð  Kisah seorang Narapidana yang perlu penerimaan. Janganlah menjadi hakim, jadilah sahabat. Cermati penggunaan kata-kata “Mestinya, seharusnya, salah sih…” Gantilah dengan kata “Saya mengerti, saya menerima kamu, saya percaya kamu bisa berubah.”
ð  Maukah kita menjadi malaikat Tuhan?

Selamat semangat melayani, saya percaya PS Sentosa dapat menjadi sahabat bagi setiap anggotanya dan saling mendukung agar kita terus semangat dalam melayani. “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Jakarta, 7 November 2014
Writing in a burn out moment
YIL



Rabu, 17 September 2014

Misteri Allah: Menerima karena Tak Sempurna

"Apa yang membuat seseorang percaya kepada Tuhan Yesus dan pergi ke gereja?" tanya seorang rekan. Saat aku mendengarar pertanyaan itu, aku segera menjawab, "Ya karena umat merasakan Misteri Allah, mysterium tremendeum et fascinosum." Lalu temanku bertanya kembali, "Di mana letak misteri Allah itu?

Aku terdiam ketika mendengar pertanyaan lanjutan darinya. Dan aku mencoba menerka-nerka. Apakah di bagian berkat? Apakah di bagian pengakuan dosa? Temanku hanya berkata, pikirkanlah itu. Kalau kau menemukannya, gereja tidak akan mati.

Aku mulai mencari-cari jawabannya. Di manakah misteri Allah itu? Saat khotbah, aku mulai memperhatikan jemaatku. Aku pun terkadang duduk bersama dengan jemaat dan menikmati ibadah. Lalu aku mencari-cari, "Dalam titik manakah jemaat merasakan kehadiran Sang Misteri itu?" Pertanyaan ini masih menghantui pikiranku hingga beberapa bulan lamanya.

Suatu ketika aku berjumpa dengan seorang pembantu rumah tangga. Awanya aku hanya bercakap-cakap dengan dia. Kami mulai bercakap-cakap hingga akhirnya percakapan lewat pesan singkat itu berlanjut ke obrolan via telepon. Ia menceritakan berbagai keluh kesahnya kepadaku dan penderitaannya. Hingga pertemuan itu berlanjut pada pertemuan tatap muka. Saya melihat ekspresinya yang awalnya sungkan bertemu dengan saya, hingga akhirnya saya merasa dia menganggap saya sebagai kakaknya sendiri (agak ge-er.com, dan sebenarnya kami seumur loh. hehehe). Dalam perjumpaan itu, saya melihat ada satu misteri Allah yang dia rasakan, yakni: penerimaan. Dia merasa diterima dan diperlakukan sebagai manusia ketika majikannya menolak dia.  

Ketika saya merasakan "AHA" momen itu, batin saya pun langsung melayang pada hasil survey yang dilakukan oleh GKI Kayu Putih. Salah satu poin penting dari survey itu adalah perihal ketakutan jemaat untuk tidak dikenal dan diterima. Hasil survey ini menarik karena yang mengalami ketakutan tidak diterima bukan hanya "anggota baru", melainkan "anggota lama". Ada kebutuhan yang besar akan penerimaan satu sama lain. Mengapa? Karena di sanalah kasih Allah itu nyata. Allah yang merangkul dan menerima semua orang. Allah yang memberikan matahari dan hujan pada orang yang baik maupun orang yang jahat.

Penerimaan... penerimaan...penerimaan... kata itu terus berbunyi di kepala saya setiap kali saya hendak memejamkan mata di penghujung malam. Aku bertanya, kenapa Allah bisa menerima manusia yang berdosa ini sedemikian rupa? Mungkin, karena Allah pernah merasakan bagaimana rasanya rapuh. Allah yang "tidak sempurna" dalam rupa manusia. Spiritualitas ketidak-sempurnaan ini jugalah yang harus dimiliki manusia. Kita perlu menyadari bahwa diri kita rapuh dan membutuhkan orang lain. Ada banyak kebencian dalam gereja yang tumbuh karena penolakan. Penolakan tumbuh karena kesombongan dan sikap merendahkan orang lain. Ada perasaan bahwa pelayanan yang kulakukan lebih baik daripada orang lain. Perfeksionis dan sombong!

Mungkin aku termasuk ke dalam kategori perfeksionis (sila bertanya pada teman-teman sekampusku dulu). Sifat perfeksionis ini membuat aku masuk ke dalam lingkaran over-critics. Dengan cepat dan jeli, aku melihat kesalahan dan kekurangan dalam diri orang lain ataupun dalam sebuah sistem.  Padahal sikap over-critics dapat menimbulkan perasaan tertolak pada diri orang lain. Setidaknya, orang yang terdekat denganku pernah mengkritisi aku perihal sifat over-critics-ku. 

Selama 1,5 tahun ini, aku merasa Allah banyak memperjumpakan aku dengan ke-tak-sempurnaan. Banyak hal yang tak berjalan sesuai dengan rencanaku, mulai dari rencana pribadi sampai mimpi besarku. Belum lagi, di gereja aku harus bisa bekerja sama dengan banyak orang yang kadang tidak sama kemauannya dengan kemauanku. Hidupku menjadi tidak perfect. Akan tetapi, di sinilah aku belajar arti misteri Allah. Aku belajar arti kebergantungan pada Allah dan ketidak-sempurnaan. Aku belajar untuk menerima kelemahan diriku. Aku belajar menerima bahwa ada banyak hal yang tidak bisa aku raih ketika ngotot. Aku belajar bahwa orang lain, walaupun memiliki kekurangan, pasti punya kelebihan yang mungkin aku tidak punya. Kita harus berani membuka mata bahwa ada ruang ketidak-sempurnaan. Di dalam spiritualitas ke-tidak-sempurnaan,  Allah menciptakan orang lain bagi kita agar kita saling mengasihi dan melengkapi. 

Aku kini menikmati spiritualitas ketidak-sempurnaan. Mengutip refleksinya Om Paulus, "Dalam kelemahankulah, kuasaMu menjadi sempurna." Spiritualitas ketidak-sempurnaan menuntun kita pada penerimaan. Penerimaan menuntun kita atas jawaban dari sebuah pertanyaan, "Mengapa orang mau pergi ke gereja dan mencintai Kristus?" Penerimaan menuntun kita pada gairah dan orgasme kehidupan bergereja. Dalam penerimaan kita merasakan dimensi "misteri Allah"

Jakarta, 17 September 2014 
YIR

Rabu, 03 September 2014

Just a Free Writing about my experiences

Saat ini, saya sedang mengerjakan sebuah proyek penulisan untuk ibadah syukur pernikahan dan pelayanan Opa Loing yang akan diselenggarakan pada bulan Februari 2015. Tugas saya sangat sederhana. Saya diminta untuk mendengarkan kisah pernikahan dan pelayanan Opa Loing dan Oma Anneke dan kemudian merangkumnya dalam bentuk tulisan.

Tidak menduga, proyek ini justru menjadi berkat buat saya. Lewat kisah hidup mereka, saya melihat bagaimana kuasa Tuhan bekerja dalam kehidupan mereka. Yang paling menarik adalah kesimpulan mereka, "Kalau kami diminta mengulang masa-masa itu, kami mau." Terus terang, saya terkejut mendengar pernyataan itu karena buat saya masa-masa kehidupan mereka sungguh berat dan tak mudah. Lewat kisah itulah, saya melihat bahwa mereka berdua adalah orang yang sangat mengabdikan diri bagi Tuhan dan sangat dicintai Tuhan.

Apa kisahnya? Penasaran khan? Sayangnya kisahnya masih rahasia, tunggu saja kisahnya di tahun depan. Hehehehe...

Anyway, sedikit "jump up" ah, rupanya lewat percakapan dengan mereka, saya merasakan bimbingan Tuhan untuk melihat karya nyata Tuhan dalam hidup saya, khususnya sejak saya memutuskan untuk memasuki jalur kependetaan. Ada momen ketika saya hampir menyerah dan seakan tiada jalan untuk masalah yang saya hadapi. Masa terberat adalah sekitar dua tahun lalu. Rasanya cita-cita dan cinta itu dipertaruhkan. Padahal bagi saya, keduanya adalah panggilan. Ya, panggilan untuk melayani dan mencintai. Namun, Tuhan membuka jalan, dengan diterimanya orang yang saya cintai di salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Terus terang, saya masih memiliki kekuatiran. Namun, percakapan dengan Opa Loing dan Oma Anneke, membuat saya yakin bahwa ada yang disebut "the invisible hand" yang akan menolong kami, asal kami pun tulus mencintai Allah.

Thanks God for this opportunity.
Jakarta, 4 September 2014
YIR 



Kamis, 21 Agustus 2014

Giyanti


Ruangan kedai kopi yang bernama Giyanti itu tidak besar --cenderung kecil malah—tapi suasananya hommy banget! Apa yang buat hommy? Pertama-tama, design interior ruangannya unik banget. Di dindingnya banyak terdapat tulisan-tulisan inspiratif, salah satunya: teach me how to serve. Ada mesin penggiling kopi yang mejeng di sana. Kursi-kursi dibuat berdekatan dan didesign secara unik. Ada kursi model ayunan yang kucoba dengan perasaan sedikit gentar karena takut jatuh. Hehehhe… Just intermezzo, di pojok ruangan indoor ada bule ganteng yang enak dipandang. :P Sayangnya ruangannya penuh, jadi aku hanya bisa memandangi dari luar jendela kaca. hehehhe.
Selain ruangannya, yang buat hommy adalah kualitas pelayanannya. Hendri, pemilik kedai kopi itu, datang ke tempat duduk kami (aku, Ka Linna dan Pak Sahat) untuk minta masukan mengenai rasa kopinya. Selain itu, dia juga mengajak kami untuk melihat proses pembuatan kopinya. Yang paling menarik, Hendri menceritakan idealismenya dalam mengelola kedai kopi ini. Begini katanya:
“Kita hanya buka sampai jam 6 sore, untuk mengajarkan orang bagaimana minum kopi yang sehat. Ini ada kaitannya dengan metabolism tubuh. Kami juga hanya membuka toko dari hari Rabu sampai Sabtu. Aku seperti egois sich, tapi Minggu itu hari istirahat. Hari Senin sampai Rabu kita mengolah kopi sendiri. Kami ambil kopi dari Jawa Tengah yang hampir punah. Tujuannya biar orang menanam dan melestarikan. Aku punya mimpi untuk buat perpustakaan di tengah kebun kopi agar masyarakat bisa mengembangkan kopi itu. Di kedai kopi ini, kami menawarkan keramah-tamahan, budaya Indonesia yang selalu diajarkan orang tuaku.”
Cerita Hendri itu inspiratif banget buatku. Wow… mantap! Aku belajar arti hospitalitas. Hospitalitas adalah soal nilai yang ada di hati kita. Dan nilai itu bukan sekadar omong kosong, mereka mengkongkretkannya dalam bentuk ruang dan tindakkan. Yup, soal ruangan: bagaimana kita menciptakan ruangan yang hommy dan gak kaku. Soal tindakkan adalah bagaimana kita mau terbuka untuk bicara dengan orang asing. Yeah: connecting people, kayak iklan gadget itu loh…
Oh iya, ada lagi satu hal yang menarik dan menujukkan hospitalitas yang tinggi. Salah satu pelayan Giyanti ada yang berkebutuhan khusus. Walau aku agak susah berkomunikasi dengan dia ketika memesan minuman, aku mengapresiasi penerimaan kedai kopi ini terhadap orang yang berkebutuhan khusus. Ketika dunia menertawakan mereka, kedai kopi ini justru mengapresiasi dan memberdayakan dia.
Tuhan, aku pengen gereja bisa terbuka dan belajar dari kedai kopi ini. Asik banget deh kalau gereja kita jadi hommy banget. Asik banget kalau ada tempat nongkrong yang santai dan cair untuk berhospitalitas. Rasanya indah kalau anak kecil, orang muda sampai oma-oma bisa kongkow-kongkow bareng. Rasanya bahagia kalau gak ada lagi orang yang menertawakan orang berkebutuhan khusus. Aku yakin, ini bukan cuman mimpiku, tapi mimpi Tuhan juga. Yup, sebagaimana Tuhan juga punya rancangan damai sejahtera buat kita semua di mana serigala dan anak domba bisa sama-sama makan rumput. Tidak ada yang berbuat jahat atau busuk…

Jakarta, 20 Agustus 2014

YIL

Kamis, 03 Juli 2014

Ibu Berjilbab Merah


40 km/jam…

50 km/jam….

Cittttt….. Braaaak….  

Aku menahan motorku dengan tubuhku yang kurus kering ini. Untung saja, jalanan sedang lengang. Tidak ada motor dan mobil yang lewat yang mungkin saja dapat menggilasku. Tangan dan kakiku gemetaran. Aku diam mematung di tengah jalan. Aku masih terkejut dengan kejadian itu. Barang belanjaanku tumpah berhamburan ke jalan. Aissshhh…

Tiba-tiba, aku melihat seorang ibu lari tergopoh-gopoh ke arahku. Ia memakai kerudung merah. Tangannya menggenggam tas belanjaan berwarna merah. Ia langsung berjalan menuju ke arah barang belanjaanku yang jatuh berantakan.

Hmmmm…. Ada apa ini, pikirku. Aku menduga ia hendak mengambil barang belanjaanku lalu kabur. Aku hanya memperhatikannya, sambil meringis menahan rasa sakit di pahaku. Tapi, ia tidak menjauhiku. Ia malah mendekatiku. Jantungku berdetak kencang. Tanganku memegang tasku dengan semakin erat.  Ah, ada apa ini. Mencurigakan sekali!

Rupanya, ia mengulurkan barang belanjaanku ke lenganku. Lalu, dengan tersenyum ia berkata, “Hati-hati ndu, kalau mengendarai motor. Alon-alon.” Wajahku memerah ketika mendengarkan ia berkata begitu. Ia menolongku. Ia tak meminta apapun dariku. Ia menolongku berdiri. Setelah ia melihatku sudah bangkit, ia pamit.

Aku tertunduk malu karena telah mencurigai perempuan berjilbab merah itu. Ia adalah orang baik. Ia melakukan apa yang dikatakan oleh Daud dalam Amsal 3:27. “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” Kebaikan yang dilakukan ibu berkerudung merah itu adalah kebaikan sederhana. Ia tidak menahan-nahan kebaikan yang ada pada dirinya. Namun, kebaikannya meluluhkan kecurigaanku. Ternyata benar bahwa kebaikan itu melintasi agama dan suku. Terima kasih, ibu berjilbab merah.

 

Jakarta, 3 Juli 2014
YIR

Sabtu, 28 Juni 2014

Mengenang Dwinda


1 Timotius 4:12 adalah ayat yang tidak lazim dipakai pada ibadah penghiburan. Namun, saya menggunakannya karena ayat ini menggambarkan kehidupan Dwinda. Dwinda sudah melakukan semua pesan Paulus kepada Timotius. Di dalam Alkitab, kita mengenal bahwa Timotius adalah seorang muda. Sebenarnya, dia tidak muda-muda banget. Dia sudah 15 tahun membantu pelayanan Paulus. Usianya sudah sekitar 40 tahunan, namun ia masih sering disepelekan karena dalam masyarakat Israel yang bercorak patriakal, orang yang berumur segitu dianggap belum kompeten untuk memimpin. Walaupun begitu, Paulus mempercayai Timotius. Nasihat ini disampaikan Paulus kepada Timotius agar tidak ada yang merendahkannya.

Dwinda belum berumur 40 tahun, namun ia sudah melakukan semua nasihat Paulus itu di usianya yang masih belia. Saya mengenal Dwinda sejak kurang lebih setahun lalu. Ia adalah salah seorang anak katekisasi yang saya ampu bersama-sama dengan Ka Linna dan Ko Ocep. Saya mengenal Dwinda sebagai anak yang ceria. Kemana-mana dia selalu tersenyum, walaupun tentunya sebagaimana anak remaja yang lainnya kadang dia suka galau. Galau karena teman, keluarga ataupun karena cinta.

Akan tetapi, dibalik semua kepolosannya dan keceriaannya, Dwinda justru menjadi pengajar buat saya. Ia mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi pengikut Kristus yang penuh kasih, kesetiaan dan kesucian. Dwinda adalah anak yang penuh kasih. Kasih adalah suatu tindakkan menaklukan diri karena melalui kasih kita menumbuhkan kepedulian kepada orang lain. Dwinda anak yang sangat care pada teman-temannya. Kalau membuka facebooknya, maka yang ada adalah foto teman-teman katekisasinya. Biasanya, profile picture anak remaja itu menunjukkan bagaimaana isi hatinya. Dwinda tahu betul arti persahabatan, sebuah nilai yang dibangung sejak kelas katekisasi ini dimulai.

Saya yakin, semua sahabat-sahabatnya di kelas katekisasi  tahu betul betapa peka dan pedulinya Dwinda terhadap sahabat. Saya ingat, suatu ketika sepulang gereja, dia bersaama teman-temannya menahan saya untuk pulang. Dia sedang membuat video untuk temannya yang sangat berarti di hatinya. Pada saat itu, temannya hendak pergi ke luar negeri. Kasih itu terwujud lewat perhatian yang Dwinda berikan. Hatinya lembut dan penuh perhatian. Mungkin apa yang saya rasakan ini pun yang dirasakan oleh keluarga dan para sahabatnya.

Dwinda juga mengajarkan kepada saya arti kesetiaan dalam mengikut Kristus. Dia anak yang selalu bersemangat untuk mengikuti katekisasi. Kesan inilah yang kami dapatkan sebagai pengajar. Sebagaimana yang tantenya ceritakan, Dwinda selalu happy setiap kali mau masuk kelas katekisasi. Dia dengan penuh antusias mengikuti camp katekisasi. Saya ingat pada saat camp dia bertemu dengan saya di depan kamar mandi, ketika saya hendak turun ke Jakarta. Dia bilang, “Ka Yesie, saya senang banget ikut soloing. Ini baru pertama kalinya. Pertamanya aku takut bagaimana gitu, tapi aku bisa melewatinya dan bisa merasakan bagaimana Tuhan.” Bahkan yang membuat saya kagum dengan dia, dia tetap mau datang untuk disidi bersama teman-temannya, walaupun dia sedang sakit dan akhirnya tidak sanggup memasuki gedung gereja. Saudara, kesetiaan dalam mengikut Kristus membutuhkan keberanian untuk melangkah walaupun kita sedang berada di dalam ketakutan dan penderitaan. Dan Dwinda yang manis itu mengajarkan kepada saya arti kesetiaan kepada Kristus. Ya, kesetiaan adalah ketaatan totalitas kepada Tuhan yang tak dapat ditaklukan, apapun resikonya.

Terakhir, Dwinda mengajarkan kepada saya arti kesucian di hadapan Tuhan. Orang yang suci adalah orang yang bersih, ibarat gandum yang bersih dari sekam-sekamnya akibat hembusan angin. Orang yang suci adalah orang yang berhati tulus dan murni di hadapan Tuhan, apapun tempaan yang ia alami. Bagi saya, dengan berbagai pergumulan yang ia hadapi dan “miracle-miracle” yang dirasakannya dalam hidupnya, ia menjalani hidup ini dengan kesucian hati. Hatinya murni, motivasinya lurus, tanpa pamrih. Ia mengasihi karena ia mengasihi, bukan karena ada apa-apanya. Ia tertawa dan bersuka ria karena ia memang ceria, bukan karena ia ingin mendapatkan sesuatu. Bahkan, ketika teman-temannya ataupun pembimbingnya kurang memperhatikannya, ia tidak mendendam. Hatinya suci, bebas dari motivasi buruk dan dendam.

Dalam Injil Matius 5:28, dikatakan “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”. Dwinda telah merasakan kehadiran Allah saat ia hidup karena kehadiran Allah memenuhi dirinya yang suci hatinya. Terlebih saat ini, Dwinda sudah melihat Allah. Pejamkanlah mata saudara dan lihatlah dengan mata batin kita bahwa Bapa sedang menggandeng Dwinda yang sedang tersenyum. Dwinda ingin dikenang ketika kita melakukan apa yang ia sudah lakukan yakni saat kita hidup dengan penuh kasih, kesetiaan dan kesucian di hadapan Tuhan.

 

To know you is a miracle for me…
Jakarta, 26 Juni 2014
YIR

Kamis, 26 Juni 2014

Surat Cinta Kristus

Oma Wiryani....

Oma adalah orang yang paling pertama saya kunjungi saat saya memasuki masa perkenalan di GKI Kayu Putih, di akhir Februari 2013. Setahun setengah yang lalu, oma masih ceria. Oma masih suka duduk di luar, melihat orang lalu lalang. Oma senang bercerita tentang anak-anak dan cucu-cucunya. Semua yang dikisahkannya adalah hal yang baik-baik. Kadang dia bilang bahwa dia kesepian, tapi dia mengerti kesibukan anak-anak dan cucu-cucunya. Oma sangat rindu dengan cucu terdekatnya yang berada di Australia. Kalau tidak salah oma pernah merawatnya semasa ia kecil. Ia sayang sekali pada keluarganya. Oma adalah orang yang ramah. Ia meminta kami makan biskuit yang diberikannya. Katanya harus dicoba karena perjalanan untuk melawat masih panjang. Di penghujung kunjungan, oma minta didoakan. Ia tidak minta didoakan untuk dirinya sendiri. Ia minta anak-anaknya yang didokan. Terutama cucu-cucunya, apalagi yang jauh di Australia.

Kunjungan tetakhir saya adalah beberapa bulan lalu. Oma tampaknya sedang tidak enak badan. Oma bilang tulangnya sakit semua. Ia tidak kuat duduk. Kami mendoakannya di kasur. Tapi sebelum berdoa dia minta anak cucunya didoakan. Setelah berdoa, dia teringat bahwa kami belum makan kue. Maka dengan sedikit memaksa, ia mendesak kami dengan nafasnya yang terengah-engah agar kami makan kue. Saya terharu saat itu.

Bagi saya Oma mengajarkan arti keramah tamahan dan cinta kasih. Ia begitu terbuka menerima kami yang mengunjunginya. Bahkan di tengah kesakitan, ia masih ingat untuk menyuguhi kami kue. Sungguh saya merasa pengalaman ini jarang sekali dijumpai kita, masyarakat di kota besar yang sibuk dengan diri masing-masing. Ia mengajarkan kepada saya arti tidak mementingkan diri.
 
Oma juga mengajarkan saya arti cinta kasih kepada keluarga. Oma paham kesibukan anak-anak dan cucunya. Namun, ia tetap mendoakan. Begitu sayangnya pada keluarganya, sehingga ia selalu menceritakan kisah keluarganya yang ada di dindingnya. Bahkan, si mbak mengatakan bahwa ia begitu girang setiap kali mendapat telepon dari cucunya yang berada di Australia.

Sekarang Oma sudah pulang. Oma tidak lagi merasa sakit dan linu di tulangnya. Di usianya yang sudah lanjut. Namun satu hal yang pasti ada hal yang sungguh nyata dalam diri Oma, oma sudah menjadi surat Kristus yang terbuka dan dibaca semua orang, sebagaimana yang ditulis Paulus dalam 2 Korintus 3:2-3 "Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia."

Saudara, Paulus berpesan kepada jemaat Korintus agar menjadikan dirinya surat yang terbuka. Dengan menjadi surat terbuka, maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan sehingga kerasulan Paulus pun tidak diragukan. Pada saat itu sedang muncul fenomena penulisan surat. Seorang guru akan diakui kalau muridnya memuji-muji dia dan menyaksikan kehebatan sang guru. Namun, Paulus berpendapat bahwa hal tersebut tidaklah perlu. Menurut Paulus setiap orang adalah "iklan" dalam kekristenan. Kemuliaan Kristus ada di dalam diri pengikut-Nya. Sebagaimana perumpamaan yang dikatakan Barclay: kita mengenal penjaga toko berdasar barang yang dijualnya. Kita mengenal pembuat barang dari barang yang kita pakai. Kita menilai gereja berdasarkan tindakkan manusia di dalamnya.

Kehidupan Oma menjadi surat Kristus bagi saya dan juga keluarga. Surat itu tidak dapat terbakar oleh api dan tidak basah oleh air. Surat itu tidak lapuk dimakan rayap. Ya, karena surat itu hidup dalam hati kita semua yang pernah mengenal Oma, khususnya keluarga. Mengapa? Karena yang mengisi kehidupannya adalah Roh Allah. Roh Allahlah yang menuntun pelayanannya. Dalam peristiwa pelawatan itu tidak hanya oma yang terlayani. Kami pun dilayani dengan nilai keramahtamahan dan cinta kasih yang ia nyatakan.

Roh Allah itu menghidupkan. Buktinya kasihnya masih kita rasakan walaupun ia sudah meninggal. Ya, sebagaimana yang tertulis dalam Yohanes 11:25  Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Sekarang tinggal kita yang melanjutkan karya oma di dalam hidup ini untuk menjadi surat Kristus.... Percayalah kita pun kelak akan hidup walaupun sudah mati.

 

YIR
Yogjakarta-Jakarta, Senja Utama
created for O Wiryani's remembering service